Bandung, Gontornews — Kehadiran majelis ta’lim sebagai lembaga pendidikan berbasis masyarakat diharap mampu menjembatani tuntutan kebutuhan pendidik dalam menciptakan keluarga Islami.
Dr Helmawati dalam disertasi yang dibimbing oleh Didin Hafidhuddin, menyatakan bahwa kontribusi pendidikan di majelis ta’lim menghasilkan jamaah (pendidik/orang tua) yang memiliki keimanan. Keimanan tersebut diperoleh lewat pengetahuan agama seperti, tafsir, fiqh, tauhid, ibadah dan akhlak, dan keterampilan.
Kepada Gontornews.com, Helma menegaskan,” Majelis Ta’lim yang melaksanakan diversifikasi program dan dikelola dengan baik pelaksanaannya, berdampak pada peningkatan spiritual, pengetahuan, dan keterampilan jamaah. Sedangkan jamaah yang mengalami peningkatan tersebut, lanjutnya, akan memberikan kontribusi optimal bagi peningkatan pendidikan dan kesejahteraan keluarganya.
”Kontribusi proses pendidikan yang diperoleh pendidik dalam keluarga ketika diterapkan pada anak-anaknya ternyata dapat mengarahkan anak-anak untuk beribadah, berakhlak, berilmu, dan memiliki keterampilan baik yang berguna untuk dirinya maupun masyarakat sekitar,” ujar wanita cantik kelahiran Sukabumi, 31 Juli 1976.
Perlu diperhatikan, tiga tempat pendidikan yang dapat membentuk anak menjadi manusia seutuhnya adalah di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga adalah tempat titik tolak perkembangan anak. Problematika yang terjadi dewasa ini adalah peran orang tua yang memiliki tanggung jawab penuh dalam mendidik anak kerap dilimpahkan pada para pendidik formal.
Hal ini berkaitan dengan tuntutan kehidupan yang mengakibatkan kedua orang tua harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di samping itu, kurangnya ilmu pendidikan dan pengetahuan para orang tua menjadi alasan mengapa orang tua menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada para pendidik formal.
Tak dapat dipungkiri bahwa majelis ta’lim adalah salah satu bentuk lembaga pendidikan keagamaan Islam yang hidup subur di tengah-tengah masyarakat. Hampir di setiap komunitas Muslim terdapat majelis ta’lim.
Selama ini majelis ta’lim telah banyak berperan dalam pengembangan masyarakat. Sehingga dapat membentuk keimanan, pengetahuan, dan keterampilan jemaah sebagai pendidik di lingkungan keluarga-keluarga Islami.
”Hasil observasi data dari majelis-majelis ta’lim menunjukkan tujuan keimanan mendominasi pencapaian tujuan kegiatan. Maka kontribusi pendidikan majelis ta’lim adalah menanamkan keimanan dalam keluarga Islami,”ujar Kepala Biro Sekretariat dan Tata Usaha Universitas Djuanda Bogor, 2011 ini.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, dalam perjalanannya terjadi hubungan yang tidak linier antara pertumbuhan majelis ta’lim dan diversifikasi program (kajian). Menyikapi permasalahan ini, gagasan yang diajukan adalah adanya diversifikasi program dan manajemen pengelolaan yang profesional.
Selain itu, pendidik formal yang merupakan pendamping pendidik nonformal hendaknya mengikuti pendidikan di majelis ta’lim untuk menambah pengetahuan keimanan serta pengtahuan keagamaan lainnya.
Revitalisasi program dapat dilakukan melalui komponen pendidikan yang terdiri dari: tujuan, kurikulum (materi), proses, dan evaluasi. Agar dapat terus eksis, majelis ta’lim harus merumuskan tujuan kegiatannya menjadi tujuan keimanan, pengetahuan dan keterampilan, kecakapan hidup, sikap dan kepribadian profesional, mandiri, serta melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Majelis ta’lim juga perlu membuat semacam perencanaan kurikulum yang terstruktur agar kegiatan berjalan dengan terencana, sistematis, dan lebih mudah untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang telah berjalan.
Proses pendidikan yang dilaksanakan di majelis ta’lim dimaksimalkan terutama dari sisi pemateri (mu’allim). Mu’allim sebagai pendidik di majelis ta’lim hendaknya memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional.
Kemudian, pengadaan penilaian (evaluasi) kegiatan guna mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh jamaah. Selain itu, untuk melihat tingkat keberhasilan mu’allim dalam proses pengajaran, mengetahui tingkat keberhasilan pengurus dalam memberi pelayanan kepada jemaah, juga sebagai pedoman untuk memperbaiki program atau tata kerjanya.
Menyikapi pengelolaan manajemen majelis ta’lim, dosen mata kuliah Sistem Informasi Manajemen PAI di Pascasarjana PAI Universitas Islam Nusantara, Bandung ini menyebutkan, bahwa kegiatan administrasi sangatlah penting untuk meningkatkan dan mengembangkan majelis ta’lim dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Helma juga menyarankan untuk mengoptimalisasi fungsi pendidik formal sebagai pendamping pendidik informal. Berdasarkan penelitian di majelis ta’lim banyak jemaah yang berprofesi sebagai guru.
Guru yang rajin mengikuti kegiatan ta’lim diharapkan dapat lebih meningkatkan keimanan melalui pengetahuan keagamaan sehingga dapat lebih mengevaluasi diri dalam masalah disiplin dan profesionalisasi. “Di sinilah optimalisasi fungsi pendidik formal sebagai pendamping penuh dari orang tua (pendidik informal) guna mendidik anak-anaknya yang ditinggal bekerja,” pungkasnya. <Edithya Miranti>
Biografi Penulis
Nama : Dr Helmawati, SE, MPdI
TTL : Sukabumi, 31 Juli 1976
Jabatan Fungsional : Asisten Lektor
Unit Kerja/Prodi/Fakultas : Pascasarjana PAI/FAI
Lembaga : Universitas Islam Nusantara Bandung
Pendidikan :
S1 Manajemen Universitas Terbuka Jakarta, 2003
AKTA IV UIKA Bogor, 2004
S2 Manajemen Pendidikan Islam UIKA Bogor, 2006
S3 Pendidikan Islam UIKA Bogor, 2010
Kegiatan :
Dosen Pascasarjana PAI Universitas Islam Nusantara Bandung, mata kuliah Sistem Informasi Manajemen PAI dan Kepemimpinan dan Komunikasi Pendidikan, 2013-sekarang.
Staf Kurikulum Pascasarjana UNINUS Bandung, 2014
Dosen Fakultas Studi Islam di Universitas Djuanda Bogor, mata kuliah Manajemen Keuangan Pendidikan, Bahasa Inggris, dll, 2011-2012.
Penelitian Fundamental (Nasional) ‘Model Pendidikan Karakter Sekolah Dasar’, 2011.
Pengisi Materi Jendela Wanita Radio Pertanian Ciawi Bogor, 2011.




















