Sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi ekonomi umat Islam saat ini, selain ungkapan kata tidur. Ya, tidur panjang dan pulas. Bukan lemah. Karena berbicara tentang ekonomi, sesungguhnya umat Islam memiliki potensi ekonomi yang sangat luar biasa. Pasalnya, semua ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT, seperti ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya sejatinya selain memiliki makna dalam dimensi spiritualitas, juga mengarah pada dimensi ekonomi.
Pertanyaannya, siapa yang memproduksi perlengkapan alat shalat, perlengkapan haji dan umrah yang biasanya digunakan oleh umat Islam? Demikian halnya dengan ibadah kurban, juga memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dahsyatnya. Karena melalui syariat kurban inilah permintaan terhadap sapi, kambing dan domba akan selalu ada hingga akhir zaman. Berikut ini hasil lengkap wawancara Muhammad Khaerul Muttaqien dari Majalah Gontor dengan Pengamat Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Irfan Syauqi Beik MSc, seputar kemandirian ekonomi umat Islam.
Bagaimana Anda melihat peran ekonomi umat Islam saat ini?
Masih banyak sektor ekonomi dan bidang-bidang perekonomian yang kontribusi umat Islam masih sangat kecil. Bahkan untuk sisi-sisi yang terkait dengan ibadah yang memiliki dimensi ekonomi, kontribusi umat juga belum optimal. Misalnya bagaimana memanfaatkan momentum ibadah kurban, produsen utama hewan kurban mestinya umat Islam. Ini belum terjadi. Artinya kontribusi umat Islam sebagai produsen itu belum optimal padahal ibadah kurban ini akan selalu ada hingga akhir zaman. Demikian pula dengan ibadah-ibadah yang lain, shalat misalnya, apakah umat yang jadi produsen utama untuk alat-alat shalat. Ini saja kalau kita lihat kondisinya kita belum berkontribusi secara optimal. Jadi umat ini perlu terus didorong supaya bisa menguasai perekonomian dan umat bisa mendapatkan proporsi dari kemajuan ekonomi atau dari pertumbuhan ekonomi yang ada di negara kita.
Seberapa besar potensi pengembangan ekonomi umat?
Potensinya tentu sangat besar. Indikasinya, dari berbagai laporan secara global menunjukkan bahwa potensi-potensi ekonomi yang sebenarnya kita bisa berkontribusi itu luar biasa besar. Di sektor riil, industri halal baik pariwisata, makanan halal dan sebagainya, potensinya sangat besar. Demikian pula dengan zakat dan wakaf, instrumen ini bisa digunakan untuk mengembangkan ekonomi umat. Zakat kalau disalurkan kepada mustahik dengan baik, bisa mendorong perekonomian umat. Riset Puskas BAZNAS tahun lalu menyebutkan, potensi zakat tahun 2018 Rp 233 triliun. Potensi wakaf juga sangat besar. Walaupun realisasinya belum optimal. Jadi tugas kita membangkitkan ekonomi umat melalui upaya-upaya strategis dan terkoordinasikan dengan baik terutama dalam hal pengembangan ekonomi Islam. Paradigma umat perlu kita ubah dari yang sifatnya konsumtif menjadi produktif. Dorongan untuk mengembangkan ekonomi riil menguasai sisi suplai juga harus kita dorong dan kembangkan.
Sektor ekonomi apa yang sebaiknya diprioritaskan saat ini?
Prioritas hari ini sebenarnya ada tiga hal. Pertama, kuasai industri halal. Kedua, menumbuhkan kesadaran berbagi melalui zakat, infak, sedekah dan wakaf. Ketiga, menghubungkan antara upaya menumbuhkan industri halal dengan kesadaran berzakat, serta kesemua proses itu dilakukan melalui institusi keuangan syariah. Ini perlu diprioritaskan. Di tengah situasi seperti ini perlu kita dorong agar umat menyimpan uangnya di bank syariah. Kesadaran umat untuk berbagi dan mengambil peran di industri halal juga perlu didorong.
Kalau tren halal bagaimana fenomenanya?
Trennya secara internasional sangat luar biasa. Sebagai contoh di Moskow sudah mulai tumbuh restoran-restoran yang tersertifikasi halal maupun yang halal friendly dan yang menarik mereka jujur. Halal friendly maksudnya mereka masih menjual yang haram tapi mereka menginformasikan mana yang halal dan mana yang haram. Sebagian restoran di sana sudah paham tentang makanan halal. Selain itu di kota Kazan selain makanan halal, pariwisata halalnya juga berkembang. Walaupun dulu dikenal sebagai negara komunis, kini Rusia mulai memanfaatkan industri halal secara bertahap.
Mengapa tren halal berevolusi sedemikian rupa saat ini?
Halal menjadi tren karena ada nilai ekonomi dan bisnis di dalamnya. Ini industri multi billion dollar. Ini industri yang bisa memberikan keuntungan luar biasa dahsyat. Nilai ekonomi dan bisnis inilah yang menarik perhatian siapapun tanpa memandang agama dan negara mana pun. Ketika ini menjadi salah satu sumber yang memberikan keuntungan finansial, memberikan nilai ekonomi yang bisa menggerakkan perekonomian domestik, mereka serius. Kecenderungannya seperti itu. Setiap negara sekarang berlomba-lomba memanfaatkan perkembangan industri halal yang sedemikian besar ini. Jadi ini saya kira harus kita antisipasi jangan sampai Indonesia ketinggalan. Jangan sampai Indonesia kalah tidak bisa mengambil peran, karena sibuk dengan isu-isu yang remeh temeh, sementara negara-negara lain konsentrasi membangun industri halal karena ada market opportunity. Oleh karena itu perkembangan sektor halal harus terus kita dorong dan awareness serta literasi, kesadaran dan juga pemahaman masyarakat tentang urgensi industri halal ini harus kita dorong dan kembangkan. Jangan sampai kita kalah dengan negara lain. Jangan sampai kalah oleh Korea yang dengan seriusnya sekarang memiliki lebih dari 700 produk makanan yang tersertifikasi halal, yang bukan hanya dari satu negara tapi sudah 14 negara yang sudah memberikan sertifikasi halal kepada produk mereka. Artinya hal-hal seperti ini jangan sampai ketinggalan, jangan sampai kalah dan menganggap ini sebagai sesuatu yang tidak penting. Karena di balik semua tuntunan ajaran Islam ada sisi-sisi ekonomi yang bisa kita garap. Kesadaran menggarap sisi ekonomi ini yang harus terus kita tumbuhkan dan kembangkan.
Umat Islam menjadi konsumen dan yang diuntungkan orang lain. Bagaimana Anda melihat hal ini?
Sampai hari ini faktanya kita merupakan negara dengan konsumen Muslim terbesar. Fakta juga bahwa sektor yang menggerakkan ekonomi kita konsumsi. Konsumsi ini kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi paling besar. Ini fakta karena negara kita penduduknya besar dan tingkat konsumsi yang dilakukan penduduk Indonesia mempengaruhi kondisi perekonomian secara makro. Bagaimana kita memanfaatkan pasar ini untuk menggerakkan sisi supply-nya, ini yang saya kira menjadi pekerjaan rumah kita. Ini menjadi sangat penting karena ini mempengaruhi persaingan produk kita.
Tempo hari di negeri tetangga menyerukan buy Muslim first, menurut Anda bagaimana?
Saya kira itu kampanye yang cukup efektif di Malaysia dan itu bisa mendorong penguatan ekonomi domestik, ekonomi Muslim di sana.
Bagaimana kalau buy Muslim first dikampanyekan juga di Indonesia supaya produk asli umat Islam tidak kalah saing?
Bisa saja kita mengampanyekan itu, namun syaratnya kita harus bisa mendongkrak kapasitas produksi dan kapasitas kemampuan dari sisi supply. Kalau kita bicara buy Muslim first di Malaysia mereka memiliki kesiapan yang sangat luar biasa. Semua produk sudah ada alternatif substitusinya. Makanan apa pun sudah ada substitusi yang dimiliki umat Islam di Malaysia. Produk apa pun sudah ada substitusinya. Terutama produk-produk yang kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan setiap hari. Ketika ketersediaan substitusi itu ada, maka kampanye itu bisa lebih efektif. Kalau melihat Malaysia, kelebihan Malaysia itu kan bisa mengorganisasikan sisi supply sehingga produk-produknya memiliki banyak substitusi. Ketika ada substitusi yang relevan dan dibutuhkan, untuk mengampanyekan itu menjadi sangat efektif, karena bisa dengan mudah mengubah preferensi pilihan konsumen sehingga produk-produk yang dihasilkan oleh umat bisa dikonsumsi. Saya setuju dengan gerakan berbelanja ke warung-warung umat walaupun barang-barang yang dijual itu tidak diproduksi umat, minimal agar keuntungan dari sisi distribusi bisa kembali ke umat. Saya kira ini perlu kita gelorakan. Di sisi lain pekerjaan rumah kita sangat banyak terutama dalam hal daya saing, kemampuan produksi, kualitas produk, manajemen dan etika bisnis yang sering tidak diperhatikan. Di pasar-pasar tradisional beberapa pedagang ada yang mengurangi takaran dan timbangan. Misalnya, harusnya beratnya 1 kg ternyata hanya 0,8 kg. Ini kan masalah akhlak, masalah etika. Akibatnya, orang jadi tidak percaya dan malas berbelanja di pasar tradisional karena masalah itu. Sementara di supermarket-supermarket besar tidak begitu. Kalau 1 kg ya 1 kg. Ada satu hal yang menarik tentang etika bisnis yang mesti dimiliki oleh umat. Di Rusia banyak orang menjunjung tinggi profesionalitas, kejujuran, dan saling support dalam berbisnis. Maksud saya ketika bicara mengembangkan ekonomi umat kita pun harus menyadari bahwa bisnis akan berkembang ketika kita juga menjaga akhlak dalam berbisnis. Menjaga nilai-nilai kejujuran, profesionalitas, nilai-nilai ini juga diajarkan dalam Islam dan itu sangat penting. Jadi ini bukan sekedar bicara mengembangkan ekonomi umat begitu saja, tapi juga dengan nilai, value, akhlak sehingga umat ini punya daya saing yang sangat kuat. Saya meyakini bahwa daya saing bukan hanya soal kualitas tapi juga sangat dipengaruhi oleh akhlak. Produk berkualitas tapi dikelola dengan akhlak yang tidak baik, maka ini tidak akan menimbulkan efek positif, yang ada justru ketidakberkahan. Tapi sebaliknya peningkatan produk yang dilakukan secara terus-menerus dan diimbangi dengan akhlak yang baik, ini bisa memperkuat ekonomi umat. Karena di situ ada keyakinan, ketika kita menjual sesuai dengan tuntutan agama, tidak ada kecurangan, tidak ada unsur tipu daya, ditambah dengan kesadaran berbagi, maka Allah akan menambah rezeki kita itu menjadi bagian dari paket keyakinan kita kepada Allah.
Selain itu apa yang sebaiknya disiapkan untuk kemajuan ekonomi umat Islam?
Kita harus siapkan secara komprehensif. Kita harus dorong setiap umat untuk mempunyai semangat berkontribusi dalam kegiatan ekonomi sekecil apa pun itu akan memberi dampak. Kalau tidak bisa jadi pengusaha, minimal jadi konsumen yang berpihak. Ini yang harus ditumbuhkan. Saya melihat generasi muda terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, sudah muncul kesadaran, lifestyle, gaya hidup untuk menjadi entrepreneur, saya kira ini sangat baik. Ke depan ini harus terus kita dorong agar makin banyak entrepreneur yang muncul, yang lahir dari umat. Tidak sekedar entrepreneur tapi entrepreneur plus, memiliki akhlak yang baik, yang yakin bahwa ketika Allah mengharamkan riba mereka berusaha untuk memanfaatkan industri keuangan syariah dengan baik. Yang yakin bahwa ketika mereka menunaikan kewajiban zakatnya, Allah akan berkahkan hartanya dan usahanya sehingga mereka terdorong untuk menjadi muzakki, munfik dan wakif. Saya kira kesadaran untuk menguasai sektor riil, kesadaran untuk bertransaksi dengan keuangan syariah, kesadaran untuk berbagi lewat zakat, infak, sedekah dan wakaf, harus terus-menerus kita dorong dan kembangkan supaya ruang-ruang sektor riil ini bisa dikuasai oleh umat Islam.
Sejauhmana potensi filantropi di Indonesia dalam upaya mengembangkan ekonomi umat?
Potensi filantropi sangat besar. Potensi zakat dan wakaf juga sangat besar. Pada praktiknya penyaluran zakat untuk pengembangan ekonomi mustahik, proporsinya dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Dua tahun lalu masih di kisaran sepuluh persenan sekarang sudah hampir tiga puluh persen. Saya kira potensi besar ini harus terus didorong dan proporsi penyaluran yang bisa memproduktifkan ekonomi juga perlu kita kembangkan. Wakaf sudah mulai berkembang beberapa model penyaluran yang sifatnya produktif dan perlu dikembangkan lagi dengan model bisnis yang berbasis wakaf. Ini menjadi tantangan buat kita, misalnya bagaimana memanfaatkan aset tanah wakaf yang luar biasa luas ini di negara kita untuk menjadi sesuatu yang sifatnya produktif. Memang ada banyak pekerjaan rumah karena itu kaitannya dengan sumberdaya manusia, kelembagaan nadzirnya dan sebagainya. Tapi saya meyakini, ketika bisa merancang proses itu dengan baik, kemudian kita bisa membuat roadmap yang bisa mengeluarkan potensi-potensi filantropi dengan baik, in syaa Allah ke depannya optimalisasi itu akan makin mendekati kenyataan. Kesenjangan antara potensi besar dengan realisasi di lapangan bisa terus menerus dikurangi sehingga potensi yang ada itu bisa dioptimalkan dengan baik.
Apa saran Anda untuk pemerintah dan masyarakat agar bisa mengembangkan kemandirian ekonomi umat dan bagaimana langkah-langkah yang harus diantisipasi?
Harapan saya kepada semuanya bahwa ada tiga hal yang harus terus diperkuat dalam rangka membangun ekonomi syariah. Pertama, literasi ekonomi syariah publik harus terus menerus ditingkatkan. Kedua, penguatan kelembagaan ekonomi syariah harus terus dilakukan. Baik sektor riilnya, industri halalnya, industri keuangan syariahnya, maupun sektor zakat, infak, sedekah dan wakaf lembaganya harus terus diperkuat. Ketiga, regulasi harus terus diadvokasi supaya regulasi itu berpihak pada optimalisasi potensi ekonomi syariah, baik di potensi ekonomi riil, industri halal misalnya, potensi di sektor industri keuangan syariah, maupun di sektor zakat, infak, sedekah dan wakaf. Jadi regulasi ini memegang peranan yang sangat penting agar potensi-potensi yang ada bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Tiga hal ini pekerjaan rumah kita yang harus menjadi prioritas untuk dilakukan. Kalau ketiga aspek ini bisa dikelola dengan baik, saya yakin peran ekonomi dan keuangan syariah akan makin signifikan dan kemajuan ekonomi bangsa akan menjadi suatu kenyataan. []


















