Gunungsitoli, Gontornews– Membumikan ajaran Islam dan mencetak generasi dai muda adalah semangat Agusman (22) berdakwah di tepian negeri. Sudah 45 hari ia berumah di Pesantren Hidayatullah, di Desa Siwalubanua II, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. Santri semester akhir Mahad Aly An-Nuaimy Jakarta itu adalah salah satu dai tepian negeri yang ditugaskan berdakwah di Kepulauan Nias.
Selama masa pengabdian, Agusman mengajar para santri, mulai dari bahasa Arab, hadis, tafsir, hingga sejarah kebudayaan Islam. Tidak tanggung-tanggung, ia mengajar seluruh siswa di Madrasah Aliyah (MA) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs).
“Selain tugas dari kampus, keberadaan saya di sini mampu membantu anak-anak menjadi dai bagi lingkungannya. Sejak sekarang saya biasakan mereka untuk berpidato,” ungkap Agusman, Ahad (10/11).
Agusman mengaku, berdakwah di tepian negeri mengajarkannya banyak hal, salah satunya beradaptasi di lingkungan yang baru. Menurut Agusman, lingkungan tempatnya mengabdi saat ini sangat berbeda dengan kampung halamannya di Riau. Di Nias, Muslim menjadi minoritas.
“Sebab itu, saya juga ingin menyampaikan pada lingkungan di sini bahwa Islam itu ramah,” kata Agusman.
Selain adaptasi, berdakwah di tepian negeri juga mengajarkan Agusman tentang kondisi masyarakat setempat, termasuk kondisi pendidikan di desa tempatnya mengabdi. Di Pesantren Hidayatullah, tempat Agusman mengabdi, tidak semua santri mampu membayar biaya pendidikan dan tinggal.
“Pernah juga disepakati dengan wali murid terkait infaq untuk operasional sekolah, itu pun tidak semua setuju. Sebagian dari mereka lebih memilih anaknya tidak sekolah daripada harus membayar biaya sekolah,” cerita santri asal Indragiri Hilir, Riau, itu.
Agusman juga mengaku, minimnya fasilitas pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri, Selain akses buku pelajaran yang kurang, ruang kelas di Pesantren Hidayatullah juga sangat terbatas. Agusman menjelaskan, ruang belajar santri putri di ruang kelas sedangkan santri putra belajar berpindah-pindah.
“Terkadang di gazebo, pernah juga di ruang kelas,” lanjutnya.
Perjalanan Agusman sebagai dai tepian negeri memang baru dimulai, namun cita-cita Agusman membumikan Islam dan membawa pesan damai ke tepian negeri sudah ia tanam jauh-jauh hari.
Masih ingat betul Agusman ketika 21 September lalu, ia pamit dengan orang tua untuk berangkat mengabdi melalui program Dai Nusantara Tepian Negeri yang diinisiasi Global Zakat-ACT. Dari rumah, Agusman harus menempuh perjalanan laut menggunakan speedboat menuju Kecamatan Tungkal dengan waktu tempuh tiga jam. Dari Jambi, ia melanjutkan perjalanan jalur darat selama enam jam.
“Saya sampai di Jambi sekitar pukul dua siang, saya melanjutkan perjalanan ke Jakarta, lalu menginap di asrama kampus. Pukul tiga dini hari, saya diantar ustaz dari kampus dan perwakilan ACT ke Bandara Soekarno-Hatta untuk menuju Medan. Cerita Agusman sambil mengingat-ngingat peristiwa itu, Kini, ia menjejak lebih jauh, melanjutkan perjalanan. []





















