Doha, Gontornews — Sebanyak 18 negara produsen minyak Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) termasuk anggota non-OPEC Rusia, berkumpul untuk menandatangani kesekapatan stabilitas produksi minyak dunia pada tingkat Januari hingga Oktober 2016. OPEC saat ini dipimpin oleh Qatar. Sedangkan anggota OPEC antara lain Aljazair, Angola, Ekuador, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Venezuela.
Dilansir dari aljazera.com, pertemuan itu digagas dalam rangka untuk membantu menempatkan harga minyak mentah, yang telah meningkat dari USD26 per barel pada bulan Februari menjadi di atas USD40. Namun dalam pertemuan yang menghabiskan lebih dari 12 jam itu, OPEC gagal mengambil kesepakatan bersama.
Pasalnya, dalam pertemuan itu Iran tidak mengirim perwakilannya untuk membahas pembekuan prduksi minyak di negaranya. Iran juga menolak untuk mengurangi produksi minyaknya setelah pencabutan sanksi dari negara Barat sebagai bagian dari kesepakatan nuklirnya. Sementara, Arab Saudi bersikeras agar Teheran menandatangani kesepakatan pembekuan produksi minyak.
Setelah berdebat sengit dalam forum tersebut, delegasi dan menteri mengumumkan tidak ada kesepakatan yang dicapai. “Kami menyimpulkan kita semua perlu waktu untuk berkonsultasi lebih lanjut,” kata Menteri Energi Qatar Mohammed al-Sada kepada wartawan (17/4).
Sementara itu, Menteri minyak Rusia Alexander Novak mengaku kecewa dengan keputusan tersebut. Ia datang ke Doha di bawah kesan bahwa semua pihak akan menandatangani kesepakatan itu. Rusia disebut sebagai salah satu sekutu utama Iran yang membela hak Teheran untuk meningkatkan produksi pasca sanksi Barat.
Gagalnya kesepakatan ini mendapat perhatian dari ekonom yang berbasis di Doha Abdurahim al-Hor. Ia  memperkirakan gagalnya kesepakatan ini akan memengaruhi harga minyak turun $ 35 per barel, dibandingkan dengan saat ini $ 40. “Harga telah berfluktuasi dengan margin besar sebelum, antara $ 20 dan $ 40 pada bulan Januari, sehingga penurunan sekarang juga bisa menjadi besar,” katanya.
Selama ini Arab Saudi menjadi negara yang mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia lebih dari 260 billion barrels (4.1×1010 m3) dan produksi minyak harian terbesar dunia. Sedangkan Iran, setelah pencabutan sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa mencoba kembali ke jajaran atas produsen minyak global. Kenaikan produksi minyak Iran diyakini akan melemahkan upaya menyeimbangkan pasar di tahun 2016 ini, dimana produksi mereka telah melampaui 3,5 juta barel per hari (bpd) dan ekspektasi ekspor mencapai 2 juta bpd bulan depan.
Sebuah laporan mingguan dari Lembaga Informasi Energi AS mengatakan bahwa stok minyak mentah AS meningkat 6,6 juta barel dari minggu sebelumnya ke 536.500.000 barel. Hal ini memperingatkan bahwa persediaan minyak mentah AS berada pada tingkat historis tinggi untuk saat ini tahun. Persediaan minyak yang semakin besar akan berdampak pada turunnya harga minyak dunia dan menjadi arus besar kekayaan negara-negara pengekspor minyak ke negara-negara pengimpor minyak.[Ahmad Muhajir]

















