Jika menyebut Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Solo, yang terbayang adalah sosok KH Abubakar Ba’asyir. Pesantren yang terletak di Desa Ngruki, Solo, Jawa Tengah, ini memang didirikan Ustadz Abubakar Ba’asyir pada tahun 1968.
Uniknya, berdirinya pesantren yang didirikan kiai kelahiran Jombang, 17 Agustus 1938, ini dimulai dari pengajian yang diisi rutin oleh Abubakar Ba’asyir di Masjid Agung Solo, tepat di depan Pasar Klewer, Solo. Pengajian ini banyak diikuti para pedagang yang mencari nafkah di pasar yang cukup terkenal di Jawa Tengah tersebut.
Dari pengajian itu kemudian berkembang menjadi madrasah diniyah di salah satu rumah milik salah seorang pengusaha di Klewer. Madrasah diniyah itu makin diminati banyak santri sehingga harus dipindah ke Desa Ngruki sekitar 3 km dari Pasar Klewer.
“Sampai saat beliau mendirikan Pesantren al-Mukmin, di antara donaturnya adalah pengusaha Pasar Klewer itu,” terang Ust Abdurrahim Ba’asyir, putra Abubabar Ba’asyir kepada Gontornews.com, belum lama ini.
Kemudian, saat itu ada Kiai Amar Jamsaren yang mewakafkan tanah 1,5 ha untuk dibangun pesantren dengan sistem pendidikan pondok modern seperti Gontor. Para guru dan buku pelajarannya juga dari Gontor.
Hanya saja, ujar Ust Abdurrahim, Pesantren Al-Mukmin lebih mengembangkan MTs dan MA di bawah naungan Depag dan Diknas. Lama pendidikannya masing-masing 3 tahun dan unit pendidikan Kuliyyatul Mualimin al-Islamiyyah (KMI) yang sampai sekarang masih ada.
“KMI ini kemudian namanya diubah menjadi Pendidikan Pesantren Islam al-Mukmin (PPIM), sehingga semua unit pendidikan di bawah PPIM,” terangnya.
Pesantren yang juga membuka program takhasus untuk lulusan MTs selama 4 tahun, ini sempat mengalami perkembangan yang cukup pesat antara tahun 1984 sampai 1995. Saat itu jumlah santrinya hampir 5 ribu. Namun ketika Abubakar Ba’asyir ke luar negeri, timbul masalah internal dan terjadi eksodus besar-besaran sehingga tersisa ratusan santri saja.
Ketika alumnus Gontor tahun 1959 ini kembali ke Indonesia tahun 1999, pesantren ini kembali diserbu santri dari seluruh Indonesia yang didominasi santri dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Ada juga dari Maluku, Papua, NTT dan NTB yang jumlahnya sekitar 1.700 orang.
Alumni –alumni al-Mukmin, ujar Abdurrahim, terus tersebar di masyarakat, berdakwah, dan menyampaikan akidah dan pemikiran secara baik sehingga banyak yang tertarik menyekolahkan anaknya ke al-Mukmin sehingga jumlah santri al-Mukmin begitu tinggi.
Ust Abubakar Ba’asyir, lanjut Abdurrahim, bergerak mendirikan pesantren al-Mukmin karena mengikuti nasihat KH Imam Zarkasyi yang pernah berpesan untuk mendirikan pesantren. “Sehingga ketika kembali ke Solo beliau kuliah, kemudian bergerak terus sampai kemudian terwujudlah pesantren al-Mukmin Solo,” paparnya.
Terakhir, pria yang pernah mengenyam kuliah di Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad Solo dan aktivis HMI Solo ini mengajar di pesantren al-Mukmin tahun 2003, karena sibuk dengan kegiatan dakwah di luar, mengisi takbigh akbar, mendatangi tokoh-tokoh untuk menegakkan syariah Islam dan aktif di Majelis Mujahidin Indonesia sebagai organisasi yang dipilih di dalamnya.
“Akhirnya tugas mengajar dilimpahkan ke saya. Pelajaran terakhir yang beliau ampu adalah Tafsir al-Qur’an,” terang putra kelahiran Solo, 16 November 197,7 ini.
Menurut Abdurrahim, Abubabar Ba’asyir masih sebagai pengasuh pesantren secara keseluruhan, meskipun tengah menjalani hukuman atas tuduhan terlibat pelatihan di Aceh. Abubakar Ba’asyir sudah menjalani 5 tahun dari total 15 tahun masa tahanan yang disebutnya penuh rekayasa tersebut.
“Saya sendiri melihat kasus bapak penuh rekayasa,” tandasnya. [Ahmad Muhajir/Rus]





















