Bandung, Gontornews – Perbuatan maksiat akan menyebabkan hati berkarat. Jika perbuatan maksiat terus menerus dilakukan maka karat hati terus meningkat. Akibatnya hati akan tertutup dari kebenaran. “Dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia akan menyebabkan hati menjadi buta dan terkunci dari kebenaran,” papar Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, dalam kajian Ahad (29/5) pagi ba’da Shubuh yang disiarkan secara hybrid melalui aplikasi Zoom dari Masjid Al-Falaq, Gegerkalong Tengah, Kota Bandung.
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu menyebutkan, hati menjadi gelap sebagai efek terburuk dari seringnya mengulangi dosa. Jika ini terjadi maka kemampuan manusia untuk membedakan kebenaran dengan kebatilan akan hilang. Manusia juga akan kehilangan cahaya ilmu. Akibatnya, dosa yang dikerjakan oleh anggota tubuh secara otomatis mengalir ke hati dan membuatnya gelap dan membusuk.
Akibat yang paling mengerikan, terang Prof Sofyan, yaitu ketika seseorang tak mampu lagi mengenali jalan yang harus ditempuh, sehingga terjerumus dalam kesesatan dan kemerosotan. “Pada akhirnya dia membuang kunci kebahagiaannya dengan tangannya sendiri, dan jika dia mengulang dosa maka noda itu bertambah hingga hatinya penuh,” tambah dosen Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu.
Allah berfirman, yang artinya: “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS al-Baqarah: 7).
Lalu mengapa hati menjadi gelap? Mengutip Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir ath-Thabari, Prof Sofyan menyebutkan, dosa jika dilakukan terus-menerus maka pada akhirnya qalbu (hati) akan ditutup oleh Allah SWT. Jika qalbu sudah ditutup oleh Allah maka Allah akan menguncinya. Ketika itulah iman tidak akan menemukan jalan menuju qalbu, dan kufur tidak akan bisa lepas darinya. Karenanya, tidak selayaknya seseorang mengabaikan tobat meskipun kemudian ia mengulang dosa kembali. Karena tobat adalah pembersih dosa di hati.
“Jangan sekali-kali seseorang mengatakan, ‘Untuk apa aku bertobat, aku telah bertobat dari banyak dosa sebelumnya, tapi aku mengulangi lagi perbuatan dosa setelah menyesal dan bertobat, tobatku tidak ada gunanya’,” tandasnya pada Kajian Surah At-Tahrim Ayat 8: “Bertobat sebelum Hati Berkarat dan Terkunci”.
Menurut Prof Sofyan, tobat hukumnya wajib dilakukan seketika begitu seseorang melakukan dosa, baik dosa besar maupun kecil. “Janganlah kita meremehkan sebuah maksiat lalu kita lalui begitu saja tanpa tobat. Janganlah kita melihat besar kecilnya maksiat yang kita lakukan. Tapi hendaklah kita melihat kepada siapa kita bermaksiat. Sesungguhnya kita bermaksiat kepada Allah, Tuhan yang menciptakan kita dan menganugerahkan berbagai nikmat dan rezeki kepada kita,” terangnya.
Jika maksiat yang kita lakukan berupa meninggalkan perkara yang fardhu seperti meninggalkan shalat lima waktu maka wajib kita qadha’. Dan jika maksiat kita berkaitan dengan hak sesama hamba maka diterimanya tobat kita disyaratkan harus mengembalikan hak-hak mereka dan melepaskan diri dari tanggungan terhadap mereka. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang memiliki tanggungan kezaliman kepada saudaranya maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya karena sesungguhnya di akhirat dinar dan dirham tiada guna, sebelum diambil kebaikannya untuk diberikan kepada saudaranya. Jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambil-lah dosa-dosa saudaranya lalu ditimpakan kepadanya” (HR Bukhari).
Kezaliman yang dimaksud dalam hadis di atas, lanjut Sofyan, seperti mencaci, memakan harta orang lain tanpa hak, dan membicarakan keburukannya. Jika seseorang memiliki tanggungan kezaliman kepada orang lain dan wafat sebelum menyelesaikannya tanpa udzur (tanpa sebab yang dibenarkan oleh syariat) maka orang-orang yang ia zalimi pada hari kiamat akan mengambil kebaikan orang yang berbuat zalim. Jika kebaikannya tidak mencukupi maka dosa orang yang dizalimi diambil dan diberikan kepadanya lalu ia dilemparkan ke api neraka. Karena itu waspadai mata hati yang buta. Allah SWT berfirman, yang artinya:“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS al-Hajj: 46).
Di sisi lain waspadai dosa yang kita lakukan. Menurut Prof Sofyan, dosa yang dilakukan terus menerus akan membuat hati manusia semakin gelap dan gelap. Hingga suatu saat dia akan melihat keburukannya sebagai kebaikan. Dan ini merupakan kondisi terburuk sehingga sangat sulit baginya untuk kembali. Noda hitam itu membuat hati menjadi berkarat. “Ini yang paling ditakutkan,” katanya.
Mengutip Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani, Prof Sofyan mengatakan, hati itu bisa berkarat. Jika tidak dirawat, hati akan menjadi hitam kelam karena jauh dari nur (cahaya). Selain karena dosa, hati menjadi hitam karena cinta dan rakusnya terhadap dunia, tanpa punya sikap wara‘ dan tidak pernah puas.
Lalu bagaimana cara membersihkan hati yang berkarat? Mengutip pendapat Syekh Abdul Qadir, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan. “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat, dan sesungguhnya penggosoknya yaitu membaca Alquran, mengingat mati, dan menghadiri majelis dzikir. Berdzikir dapat membersihkan karat di hati,” ujar Guru Besar kelahiran Cianjur, 20 April 1956, itu.
Syekh Abdul Qadir Al Jilani dalam kitab Al-Ghunyah menyebutkan empat tanda orang yang bertobat. Pertama, dia menjaga lisannya dari sifat curiga, gunjing, dan bohong. Kedua, dia tidak melihat orang lain sebagai musuh dan dengki. Ketiga, menghindar dan tidak bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, karena mereka bisa mengalihkan maksud tobat dan menggoda orang yang sedang tobat. Keempat, dia siap untuk mati dalam keadaan menyesal, minta ampun dari dosa yang pernah dilakukan, dan bersungguh-sungguh dalam menaati Allah SWT. “Karena itu perbanyak istighfar sebagaimana penyesalan dan istigfar Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya ketika melanggar larangan Allah SWT,” terang Prof Sofyan.
“Karena itu bertobatlah sebelum sakaratul maut dating,” ujarnya. Sebab, tobat seseorang akan ditolak jika ia sudah berada dalam keadaan sakaratul maut. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan”. (HR At-Tirmidzi)
“Bertobatlah sebelum matahari terbit dari barat.” Sebab, tobat tidak akan diterima ketika matahari terbit dari sebelah barat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Barangsiapa tobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima tobatnya.” (HR Muslim).
“Tuhanku, ampunilah kekeliruan dan kebodohanku, kelewatbatasanku dalam sebuah hal, dan dosaku yang mana Kau lebih tahu dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku dalam serius dan gurauanku, kekeliruan dan kesengajaanku. Apa pun itu semua berasal dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku yang terdahulu dan terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan kunyatakan, dan dosa yang mana Kau lebih tahu dariku. Kau Maha Terdahulu. Kau Maha Terkemudian. Kau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS At-Tahrim: 8). []





















Alhamdulillah jazakallah khair pa prof ilmunya.. Sangat bermanfaat
Alhamdulillah Terima kasih pa prof ilmunya.. Sangat bermanfaat