Jakarta, Gontornews — Sejak kecil sudah tidak punya ayah (alm. Ismail), tak heran jika ia dinamai oleh ibu (alm. Haieyah) bernama Achmad Yatim. Lelaki kelahiran Pamekasan 22 Juni 1977 ini kini menjadi pebisnis besi tua di bilangan Jakarta Timur. Ia jalani bisnis bermodal hutang dari keluarga di kampung.
Lulus SMA, tahun 1995 Yatim menjalani hidupnya menjadi karyawan perusahaan pengrajin tas kulit di wilayah Tanggulangin Sidoarjo. Menjadi karyawan dengan kerja monoton membuatnya ingin mencari hal baru di luar daerah.
Ketika lebaran tiba, beberapa keluarga besar di kampung berkumpul untuk silaturahim. Yatim pun merasa ingin seperti apa yang dijalani oleh keponakannya yang ada di rantau Jakarta. “Saat itu, ponakan bawa mobil bak nyetir sendiri dari jakarta mudik ke kampung, terlihatnya sudah enak,” kenangnya.
Akhirnya tahun 2000 Yatim ingin mencoba peruntungan di ibukota Jakarta di mana keponakannya sudah terlihat sukses dengan mobil bak yang dia bawa. Setelah lebaran, Yatim ikut merantau ke Jakarta dan ikut ke ponakan menjadi karyawan usaha besi tua.
“Saya saat itu yang penting sampai Jakarta dan mempelajari apa yang dilakukan ponakan sebagai juragan besi tua,” ujar suami dari Fatimatus Zahroh ini.
Yatim menjalani pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, berbagai fasilitas ia dapatkan untuk membantu jalannya bisnis besi tua. Di awal bekerja ia harus belajar memahami berbagai macam jenis logam, seperti alumunium dan tembaga.
Ia diamanahi ponakannya untuk mengirim barang-barang ke perusahaan peleburan yang ada di sekitar Bekasi. Suatu hari, ia merenungi apa yang dilakukan selama 6 tahun bersama ponakannya. Ia merasa menjadi karyawan terus merasa kurang maksimal.
Bagi Yatim, waktu enam tahun dirasa cukup belajar usaha besi tua. Akhirnya tahun 2006, Yatim meminta keluar dari perusahaan ponakannya. Sebenarnya ponakan tidak setuju karena berbagai pertimbangan. Namun Yatim tetap kuat dengan niatnya.
“Saya disuruh mengirim barang-barang ke pabrik. Saya anggap ini sekolah kepada ponakan. Tahun 2000 ponakan punya dua mobil, lalu tahun 2006 sampai punya 9 mobil. Ini juga menginspirasi saya,” jelas bapak dari dua anak ini.
Terlebih lagi, Yatim sudah memiliki anak dan istri. Jika terus menerus menjadi karyawan ia rasa kurag berkembang, meskipun gaji yang ia terima tinggi ditambah fasilitas yang serba cukup. Namun keyakinannya bahwa kelak ia bisa mandiri semakin kuat untuk membuka bisnis sendiri.
Ytim yang saat itu masih belum punya modal, akhirnya pulang kampung. Bukan tanpa sebab ia kembali ke kampung, ternyata ia hendak berhutang ke sepupu, ponakan, ipar yang ada di kampung. Ia juga sampaikan niat untuk usaha sendiri kepada ibunya.
Setelah mendapatkan pinjaman berupa emas dari para saudaranya. Yatim pun kembali ke Jakarta dan menjual emas tersbut untuk modal membeli mobil bak Carry tahun 2001 seharga 28 juta. Sementara dari hasil hutang emass ia mendapatkan uang sebesar 26 juta.
“Karena uang untuk beli mobil bak kurang 2 juta, maka saya jual emas kawin punya istri dan menjual motor yang ada,” kisahnya.
Dengan penuh keyakinan, di hari pertama Yatim mulai menelusuri lapak-lapak orang Madura untuk mencari logam alumunium. “Berangkat habis Subuh, saya keliling ke Cikarang, Karawang, Bekasi, untuk mencari barang,” ujarnya.
Jerih payah yang ia lakukan di hari pertama itu pun membuahkan hasil yang tak ia sangka. Ia mendapatkan keuntungan bersih sebesar 300 ribu dari hasil penjualan logam. Ia pun langung menelpon ibunya di kampung kalau dirinya di hari pertama untung 300 ribu.
“Ibu saya bilang, uang yang 300 ribu sebaiknya disimpan dan dikirimkan ke masjid di kampung karena sedang dibangun. Akhirnya saya transfer untuk pembangunan masjid di kampung,” paparnya.
Keesokan harinya, Yatim pun menjalani rutinitasnya mencari barang ke lapak Madura. Tanpa ia duga sebelumnya, ternyata di hari kedua ia berhasil mengantongi untung sekitar 1 juta. Lalu ia berkata dalam hati, bagaimana ponakannya tidak cepat kaya, ternyata hasilnya memang terasa.
Yatim menyadari, saat itu persaiangan tidak seketat seperti sekarang. Dulu masih belum banyak pabrik peleburan, dan masih sedikit pedagang keliling yang mencari besi tua. Karena itulah, dalam waktu 4 bulan Yatim sudah tidak lagi keliling mencari barang. Tapi para penjual menawarkan langsung ke dia dan diantar.
“Saat itu saya memang berani membeli tinggi di banding pedagang lain. Makanya saya masih menang harga dengan pedagang keliling lainnya, bahkan saya tambah seribu rupiah per kilonya jika diantar,” jelasnya.
Pertumbuhan dan perkembangan usa besi tua yang ia kelola cukup cepat. Sebelum menjalankan ibadah haji tahun 2012. Yatim dalam waktu satu tahun sudah bisa melunasi hutangnya di kampung dan mampu membeli mobil. “Alhamdulillah Allah mudahkan bisnis yang saya jalani ini, dan tidak ada kendala yang berarti,” ungkapnya.
Dari yang awalnya hanya punya 1 karyawan, saat ini Yatim telah memiliki gudang sendiri dan memperkerjakan 10 karyawan, dengan ditambah 5 armada untuk mengangkut logam ke perusahaan peleburan.
Seiring waktu, mulai banyak penampung besi tua dan ditambah banyak pabrik peleburan. Hingga akhirnya harga pun mulai kurang sehat. Namun demikian, Yatim tetap menjaga kualitas dan layanan kepada partner bisnisnya.
Ditambah lagi, Yatim bergabung di komunitas perkumpulan logam Madura. Di mana perkumpulan ini berisi para penampung besar dari Madura yang menjalani bisnis logam atau besi tua. Melalui perkumpulan ini banyak informasi dan relasi yang bisa dikembangkan.
Sembari menjalankan bisnis besi tua, Yatim juga tengah menyiapkan diri untuk membangun bisnis di Pamekasan. Masih seputar besi tua seperti yang ia jalani saat ini. Namun ada pengembangan bisnis turunan yang akan dikembangkan di kampungnya.
Setelah menjadi pengusaha dengan usaha mandiri, Yatim merasa punya kebebasan waktu. Bisnis yang ia jalani ia percayakan kepada karyawan pilihannya. Ia memantau terus dari rumah sembari bisa berkumpul dengan keluarga.
“Setelah saya menjalankan ibadah haji, saya merasa tidak lagi ambisi yang menggebu-gebu, tidak seperti sebelumnya yang banyak menghabiskan waktu di luar,” jelasnya.
Ia merasa, apa yang dilakukan sekarang lebih fleksibel waktunya. Namun demikian pengiriman barang ke pabrik juga semakin bertambah. Misalnya yang dikirim ke pabrik ada dua truk, maka barang yang datang ke gudang tiga truk. “Alhamdulillah Allah masih mudahkan bisnis ini berjalan dengan baik,” paparnya. [fathur]


















