Bogor, Gontornews — Arif Tajudin, lelaki 33 tahun ini mengawali usaha di bidang granit pada tahun 2012. Selama setahun ia belajar kepada orangtuanya yang sudah memiliki usaha granit di wilayah Cileungsi Bogor. Keputusannya belajar usaha granit, setelah dirinya melakukan istikharah saat menjadi guru di pesantren.
Sebelum bergelut di dunia granit dan keramik, usai lulus kuliah dari beasiswa Ibnu Khaldun, ia membuka lapak konter pulsa. Namun ia hanya bertahan selama enam bulan. โSaat itu, cibiran dari sebagian masyarakat lulus kuliah jadi jualan pulsa,โ ungkapnya.
Setelah menutup lapak pulsanya, ia kemudian melanjutkan belajar kursus bahasa Inggris di Pare Kediri. Selama tiga bulan, ia menekuni bahasa Inggris. Setelah itu ia mengajar di pesantren Nurul Amal Cibinong mengajar bahasa Inggris.
Saat mengamalkan ilmunya di pesantren inilah, Arif punya keinginan untuk menikah. Lalu ia harus membuat keputusan untuk tetap terus mengajar atau berbisnis membantu orangtua. Akhirnya ia melakukan istikharah, dan beberapa hari kemudian ia bermimpi ikut bekerja orangtuanya.
Akhirnya setelah berkonsultasi dengan gurunya, dan menyampaikan ke orangtuanya, Arif kemudian memutuskan untuk membantu orangtua berjualan granit di RAI Jaya Granit. Mulai Februari 2012 ia pun belajar tentang granit dan keramik.
โSelama setahun saya belajar menjadi sales, menghadapi berbagai macam pelanggan, memberikan penjelasan tentang granit,โ terangnya.
Awal membangun usaha ini, ia pun mencoba berjualan yang tidak banyak dilakukan para pedagang di kawasan Cileungsi saat itu. Ia sudah melakukan penjualan melalui internet dengan cara membuat website. โSaat itu market place masih belum ada, saya kenalkan produk RAI Jaya di dunia online,โ jelasnya.
Meski di awal-awal sempat dicibir oleh orang di sekitarnya, karena jualan tidak jelas. Namun seiring waktu, masyarakat mulai mengenal granit dan keramik dari website yag ia bangun. โsebagian besar penjualan di sini melalui online,โ ujarnya.
Namun perjalanan membangun usaha ini tidak semudah yang ia bayangkan. Karena manajemen keuangan yang masih amburadul, pada tahun 2016 usahanya macet. Hutang di pabrik menumpuk, sementara barang dagangan tidak ada.
โSaya selama tiga bulan tidak pernah ke toko, karena malu hutang menumpuk sementara barang yang akan dijual kosong,โ kenangnya.
Di saat merasa down, ia mendapatkan support dari istrinya untuk terus bangkit. Ia pun menguatkan lagi penjualan di online, agar calon customer mendapatkan informasi seputar granit murah, hingga akhirnya ia menemukan tiga customer besar yang memberikan order untuk pembangunan.
โAlhamdulillah, saya sebut ini sebagai mega proyek yang menyelematkan usaha saya. Dari hasil penjualan ini, saya bisa melunasi hutang sebanyak 150 juta dan bahkan membeli tempat usaha saya ini,โ paparnya.
Namun dalam prosesnya itu juga tidak mudah, pernah Arif kehilangan mobil pickup saat diparkir di rumah sopir yang biasa mengirim barang. Kejadianya jam 4 pagi mobilnya hilang. โTanpa pikir panjang saya ikhtiar mencari setelah meminta doa ke gurunya, akhirnya pada pukul 6 pagi bersama rekan rekan menemukan mobilnya sedang di parkir pinggir jalan kawasan pasar Kranggan,โ ungkapnya.
Arif mengatakan, bahwa saat melakukan jualan online ia sempat diremehkan orang-orang. Mereka bilang jual beli orangnya yang pasti pasti saja, sementara online banyak penipuan. Justru kami besar di online, kita manfaat teknologi.
Meskipun usahanya berjalan lancar melalui online, Arif tidak pelit membagikan ilmunya ke beberapa pedagang yang ada di sekitarnya. โSaya tidak merasa rugi mengamalkan ilmu, saya mencari keberkahan ilmu yang kita dapat. Jika mereka dapat dari jualan online, maka pahala mengalir ke kita juga,โ tegasnya.
Arif berprinsip kejujuran dalam berbisnis. Ia selalu menjaga kualitas barang, dan jual apa adanya, jika ada barang cacat ya kita sampaikan. Hingga customer tahu bahwa produk yang dijual itu ada kualitas masing masing. โLebih baik rugi saya pribadi dari pada mengecewaakn customer. Kita cari keberkahan,โ ujarnya.
Di saat usahanya berjalan, cobaan pun datang lagi. Saat itu ada customer pesan dari Bogor. โKita kirim barang ke lokasi senilai Rp60 juta. Dan itu baru di DP Rp500 ribu setelah sampai katanya limit transfer, setelah hari ini bisa transfer. Barang sampai di proyek kemalaman. Sopir pun pulang, dan kami menunggu transferan pagi pagi,โ kenangnya.
Karena merasa was-was, habis Subuh kami ke lokasi tempat pengiriman. Ternyata yang menerima juga tidak tahu kalau barang ternyata belum dibayar. Sesampai di proyek ternyata barang sebagian sudah hilang. โYang menerima barang juga tidak tahu, dipikirnya sudah lunas. Barang yang kembali 30 persen, sekitar 40 juta hilang,โ kisahnya.
Arif belajar dari pengalaman ini. Di saat ia merasa berambisi untuk membeli tempat usahanya, ia malah ditegur oleh Allah dengan kejadian penipuan dari customer ini. Setelah peristiwa itu, Arif mengakui orderan online semakin meningkat dan ahirnya bisa membeli tempat usaha.
Di masa pandemi banyak usaha ambruk, ternyata bagi RAI Jaya keramik tidak berpengaruh. Justru saat pandemi penjualan ada peningkatan. Hal ini dikarenakan banyak para karyawan yang bekerja dari rumah, sembari itu merenovasi rumah atau membangun rumah.
โPenjualan di masa pandemi justru yang kami rasa tidak ada penuruan, karena orang berada di rumah renovasi bisa memantau pekerjaan, karena tidak bisa pergi kemana mana, mereka pesan via online,โ ujarnya.
Kini, usaha RAI Jaya yang awalnya ia bangun dengan 1 karyawan, saat ini sudah meningkat menjadi 12 karyawan. โAlhamdulillah dari granit ini bisa menghidupi keluarga para karyawan, semoga usaha ini terus membawa keberkahan amin,โ tuturnya. [Fathur]





















