New York, Gontornews — Amerika Serikat memblokir upaya Kuwait, Indonesia dan Afrika Selatan yang meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk aksi pembongkaran rumah-rumah Palestina di pinggiran Yerusalem, Rabu (24/7) waktu setempat.
Baik Kuwait, Indonesia dan Afrika Selatan mengedarkan konsep pernyataan berisi lima paragraf kepada Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara pada Selasa (23/7) yang lalu. Ketiga negara itu menyatakan keprihatinannya terhadap pembongkaran bangunan di pinggiran kota Jerusalem serta menyebut bahwa langkah Israel tersebut akan mengganggu kelangsungan solusi perdamaian antara kedua negara.
Namun, saat pernyataan tersebut disodorkan, Amerika Serikat dengan tegas menolak dan menyatakan penolakannya terhadap pernyataan dari Kuwait, Indonesia dan Afrika Selatan. Reuters melansir bahwa Amerika Serikat menuding PBB sebagai anti-Israel untuk melindungi sekutu dari tindakan dewan.
Sebagaimana diketahui, Mahkamah Agung Israel memutuskan bahwa seluruh gedung dan bangunan yang berada di daerah perbatasan antara Israel dan Palestina harus segera dihancurkan karena dianggap mengganggu pos-pos keamanan militer Israel. Akibatnya, sekitar 500.000 rumah warga Israel dan 300.000 warga Palestina terancam dirobohkan oleh tentara Israel.
Sementara itu, utusan Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt serta penasihat senior, Trump Jared Khsuner, mengatakan bahwa pihaknya telah mengembangkan perencanaan perdamaian antara kedua negara sejak 2 tahun terakhir.
Greenblatt bahkan berasumsi bahwa rencana perdamaian antara Palestina dan Israel tidak dapat menggunakan konsensus global ataupun hukum internasional yang tidak konkulsif dengan resolusi AS. Itulah mengapa, sebut Greenblatt, penolakan sering kali terjadi dai beberapa negara.
Sejumlah bangunan yang kebanyakan berada di wilayah Sur Baher dihancurkan sejak hari Senin (22/7) oleh tentara Israel. Mereka berencana untuk mendirikan tembok unsebagai tanda perbatasan antara Israel dan Palestina yang oleh PBB dianggap melanggar hukum internasional. Palestina menduga bahwa langkah ini dilakukan agar Israel dapat merampas tanaha di beberapa wilayah di Tepi Barat. [Mohamad Deny Irawan]





















