Washington, Gontornews — Seorang petinggi partai Demokrat Amerika Serikat (AS) meminta otoritas keamanan nasional untuk menyelidiki kemungkinan risiko penyalahgunaan data pengguna yang dilakukan aplikasi media sosial asal Cina, TikTok, Kamis (21/11).
“Pakar keamanan nasional telah menyuarakan keprihatinannya tentang pengumpulan dan penanganan data pengguna TikTok, termasuk konten dan komunikasi pengguna, alamat IP, data lokasi, metadata serta informasi pribadi sensitif lainnya,” ungkap politisi senior Partai Demokrat, Chuck Schummer, kepada Sekretaris Angkatan Darat AS, Ryan McCarthy.
Permintaan Schummer tidak lepas dari undang-undang Cina yang mewajibkan seluruh perusahaan dalam negeri untuk mendukung dan bekerjasama dengan pihak intelejen.
“(Perusahaan Cina) diwajibkan untuk mendukung dan bekerjasama dengah pihak intelejen yang dikendalikan oleh Partai Komunis Cina,” tambah Schummer sebagaimana dilansir Reuters.
Sebelumnya, Komite Investasi Asing Amerika Serikat (The Committee on Foreign Investment in the United States/CFIUS) melakukan tinjauan keamanan nasional terhadap perusahaan pemilik TikTok, Beijing ByteDance Technology Co, setelah mereka mengakuisisi aplikasi media sosial, AS Musical, senilai 1 miliar dolar AS.
TikTok belum mengomentari hal tersebut. Sebelumnya, pihak TikTok sempat mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk menjaga keamanan data pribadi warga AS namun gagal meredakan pihak kongres tentang keamanan data pribadi warga AS pengguna platform dan apakah konten pada platform tersebut tunduk pada sensor yang diterapkan oleh pemerintah Beijing.
Manajer Umum TikTok AS, Vanessa Pappas, sendiri menyatakan bahwa seluruh data perusahaan berada di luar Cina. Pappas menyebut data pengguna disimpan di Amerika Serikat dan selebihnya disimpan di Singapura.
ByteDance sendiri merupakan perusahaan starup dengan pertumbuhan tercepat di Cina. Di Amerika Serikat, 60 persen dari 26,5 juta pengguna aktif berusia 16-24 tahun.
Selain TikTok, Schummer juga meminta FBI dan komisi perdagangan federal untuk melakukan penyelidikan dan privasi nasional dalam aplikasi FaceApp, yang dikembangkan oleh pihak Rusia. [Mohamad Deny Irawan]





















