Washington, Gontornews – Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyebutkan, militer Myanmar telah melakukan pembunuhan masal yang direncanakan dan terkoordinasi, melakukan pemerkosaan dan kekejaman lainnya terhadap minoritas Muslim Rohingya.
Namun laporan itu tidak menyebutkan serangan itu sebagai genosida atau kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sebagaimana dirilis Aljazeera, laporan itu didasarkan pada lebih dari 1.000 wawancara terhadap pria dan wanita Rohingya di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Di kamp ini terdapat lebih dari 700.000 warga Rohingya yang melarikan diri serangan militer Myanmar tahun lalu di negara bagian Rakhine.
“Survei itu mengungkapkan bahwa kekerasan yang terjadi di negara bagian Rakhine adalah ekstrem, berskala besar, meluas, dan tampaknya diarahkan untuk meneror penduduk dan mengusir warga Rohingya,” kata laporan 20 halaman itu.
“Ruang lingkup dan skala operasi militer menunjukkan, serangan itu terencana dan terkoordinasi dengan baik,” tambahnya.
Pada 25 Agustus 2017, Myanmar melancarkan serangan militer – yang diistilahkan oleh PBB sebagai contoh buku teks pembersihan etnis – setelah kelompok bersenjata Rohingya melakukan serangan terhadap pasukan keamanan perbatasan.
Mereka yang selamat menceritakan detail mengerikan yang mereka saksikan, termasuk tentara yang membunuh bayi dan anak-anak kecil, penembakan terhadap orang-orang yang tidak bersenjata, dan korban yang dikubur hidup-hidup atau dilemparkan ke lubang kuburan massal.
Mereka menggambarkan serangan seksual yang meluas dan perkosaan perempuan Rohingya oleh militer Myanmar, yang sering dilakukan di depan umum.
Seorang saksi menggambarkan bagaimana empat gadis Rohingya diculik, diikat dan diperkosa selama tiga hari. Mereka dibiarkan berdarah-darah, menurut laporan itu.
Laporan Departemen Luar Negeri AS itu bertepatan dengan janji AS yang akan memberi bantuan US$ 185 juta untuk pengungsi Rohingya. [Rusdiono Mukri]






















