Canberra, Gontornews – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti asal Australian National University (ANU) mengungkapkan bahwa telah terjadi ledakan populasi di wilayah Asia Tenggara sejak 4000 tahun yang lalu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sisa-sisa kerangka manusia yang berasal dari beberapa negara seperti Thailand, Cina dan Vietnam pada Neolitihic Period dan the Iron Age.
Penelitian yang dipimpin oleh pakar Arkeologi dan Antropologi ANU, Clare McFadden itu menjelaskan terdapatnya pertumbuhan populasi masyarakat yang diikuti dengan transisi pertanian dalam sebuah wilayah.
“Kami melihat pertumbuhan penduduk yang besar terkait dengan transisi pertanian,” kata McFadden sebagaimana dilansir Science Daily.
“Hingga sekitar 4.000 tahun yang lalu, anda hanya memiliki model populasi perkumpulan pemburu yang kemudian anda perkenalkan dan intensifikasi dalam bidang agrikultur,” tambah McFadden.
Padahal, McFadden menambahkan jika perubahan jumlah populasi tidak akan bisa dihitung secara kuantitas sebelum menggunakan model populasi prehistroic yang biasa digunakan di Eropa dan Amerika dirubah. McFadden berdalih ada pendekatan berbeda yang digunakan jika objek penelitiannya adalah masyarakat Asia.
Dalam penelitian berjudul ‘Detection of Temporospatially Localized Growth in Ancient Southeast Asia Using Human Skeletel Remains’ itu, McFadden dan tim menggunakan kerangka anak yang disebutnya tidak pernah dihitung sebagaimana di Eropa dan Amerika karena tingkat kerapuhan dan keringkihan kerangka anak dan bayi.
“Untuk sisa-sia kerangka di Eropa dan Amerika, kami sering melihat tidak adanya bayi dan anak-anak padahal mereka mewakili (populasi di suatu daerah),” jelas McFadden dalam artikel yang diterbitkan oleh Journal of Arcehological Studies (JAS).
“Menjaga kerangka (anak-anak dan bayi) tidak baik karena tulang kecil tidak dapat bertahan dengan baik. Terkadang, anak-anak kerap dimakamkan di tempat yang berbeda dengan pemakaman orang dewasa,”
“Jadi metode yang digunakan para peneliti untuk mengkur populasi tanpa menyertakan kerangka anak-anak tidak memiliki representasi yang akurat,” papar McFadden.
Sebaliknya, di Asia Tenggara dan Pasifik, kerangka anak-anak dan bayi cukup terjaga sehingga keakuratan data yang dikaitkan dengan bukti arkeologi lain di wilayah tersebut dapat dilakukan.
“Di Asia Tenggara dan Pasifik, kami sebenarnya memiliki pelestarian kerangka anak-anak yang cukup bagus,”
“Dari bukti kerangka yang ada di sana, kami melihat populasi besar dari kalangan anak-anak dan bayi dibandingkan populasi orang dewasa. Populasi ini menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan populasi yang meningkat pada suatu waktu namun tidak ada yang mendeteksi pertumbuhan tersebut,” pungkas McFadden. [Mohamad Deny Irawan]






















