Kupang, Gontornews — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur mengatakan, masalah sampah yang ada di Taman Nasional (TN) Komodo telah menjadi sorotan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB
Ketua ASITA NTT, Abed Frans mengemukakan bila masalah sampah di TN Komodo masih belum dituntaskan. Banyak wisatawan asing yang mengeluh soal tumpukan sampah yang ada tempat wisata yang menjadi 7 Keajaiban Dunia tersebut.
“Masalahnya sampai sekarang belum teratasi juga sehingga lembaga internasional UNESCO pun sudah mulai menyoroti,” kata Abed Frans seperti dikutip Antara, Senin (23/4).
Menurutnya, saat ini banyak wisatawan mengutarakan pengalaman mereka yang menyelam di perairan TN Komodo pada tahun-tahun sebelumnya dan mendapati pemandangan yang berbeda dengan kondisi saat ini.
Bukannya menemukan pemandangan yang indah, para wisatawan spesialis menyelam dan selancar justru menemukan sampah dan kerusakan ekosistem di TN. Komodo.
“Kasihan para wisatawan, bukannya pemandangan bawah laut indah yang mereka dapati tapi malah sampah dan dampak kerusakan ekosistem,” jelasnya.
Ia khawatir apabila persoalan sampah di TN. Kompdo tidak ditangani lebih serius oleh pemerintah daerah maupun otoritas terkait, maka kerusakan lingkungan laut di kawasan wisata yang terkenal sebagai habitat satwa purba Komodo (Varanus komodoensis) itu akan mencapai titik kritis.
Oleh karena itu, harus dilakukan pengawasan intensif terhadap kawasan perairan serta penerapan aturan yang tegas terhadap aktivitas nelayan yang tidak ramah lingkungan.
“Ini bukan lagi persoalan sepele karena dunia pun sudah menyoroti, jika tidak segera diatasi maka dampak selanjutnya wisatawan akan berpindah ke lokasi selam atau berselancar lainnya,” lanjutnya.
Ia juga memastikan, ASITA sebagai bagian dari pelaku wisata akan siap membantu otoritas terkait untuk penanganan masalah sampah di Taman Nasional Komodo, Indonesia.
“Tentunya melalui perwakilan kami di Manggarai Barat bersama himpunan pramuwisata setempat akan siap membantu penanganan sampah ini,” katanya. (Devi Lusianawati)






















