Kuala Lumpur, Gontornews — Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, Senin (23/5/2022), mengatakan pemerintah Malaysia akan membatasi ekspor ayam mulai 1 Juni mendatang. Langkah ini merupakan respon dari kurangnya pasokan daging ayam di pasar domestik Malaysia.
“Sebagai langkah jangka pendek, rapat kabinet hari ini telah membuat beberapa keputusan tentang masalah pasokan dan harga ayam saat ini, termasuk penghentian ekspor hingga 3,6 juta ayam per bulan mulai 1 Juni, hingga harga domestik dan produksi (dalam negeri) stabil,” kata PM Ismail Sabri sebagaimana dilansir Channel News Asia.
“Prioritas pemerintah adalah rakyat kita sendiri,” sambung PM Ismail Sabri.
Perdana Menteri menambahkan pemerintah juga akan menyiapkan stok penyangga dan mengoptimalkan fasilitas penyimpanan dingin yang berada di bawah kepemilikan Kementerian Pertanian dan Industri Makanan (MAFI) dan lembaga negara.
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat Malaysia mengeluhkan kenaikan harga ayam akibat kekurangan pasokan. Beberapa penjual ayam bahkan harus melakukan penjatahan saat menjual barang dagangannya.
Data statistik Federasi Asosiasi Peternak Malaysia menyatakan bahwa ekspor unggas hidup Malaysia meningkat dari 40,19 juta ekor pada 2007 menjadi 59,08 juta pada 2020. Singapura menjadi salah satu destinasi tujuan ekspor unggas berkaki dua tersebut.
Badan Pangan Singapura menyatakan bahwa sepertiga pasokan ayam Singapura berasal dari Malaysia. Sumber utama lainnya berasal dari Brazil (49 persen) dan Amerika Serikat (12 persen).
“Untuk mengatasi kekurangan pasokan, kami harus membatasi penjualan ayam di gerai kami hanya dua ekor per pelanggan,” kata pengelola jaringan hipermarket dan gerai ritel Mydin, Ameer Ali Mydin.
Biasanya, Mydin mampu menjual ayam hingga 100 ton untuk semua gerainya. Namun, kondisi kekurangan pasokan kali ini membuat pesanan ayam Mydin hanya 40 ton per pekan saja. [Mohamad Deny Irawan]






















