Jakarta, Gontornews —Mencetak generasi ulama intelek menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak. Banyaknya jumlah ilmuwan Barat, semakin menggerus kekayaan khazanah Islam yang sejatinya lebih unggul dari mereka. Karena itu, mari kembalikan kejayaan ilmu-ilmu Islam seperti dahulu. Berikut kutipan wawancara dengan Ustadz Bachtiar Nasir, Lc, Sekretaris Jenderal MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) dan pimpinan AQL (Ar-Rahman Qur’anic Learning) kepada Gontornews.com:
Saat ini generasi kita sudah banyak yang tertinggal dalam bidang IPTEK, lantas apa kendalanya dan bagaimana caranya agar umat Islam bisa kembali bangkit menjadi generasi yang kaya akan IPTEK seperti para pejuang Islam terdahulu?
Pertama, dalam konsep kultur sosial islam, sebagaimana yang dikatakan Al-Ghozali, βRusaknya umat karena rusaknya pemimpin, rusaknya pemimpin karena rusaknya ulama.β Jadi perbaikan pertama untuk mencerdaskan umat ini dimulai dari perbaikan ulama, saat ini alhamdulilah sudah ada program-program kaderisasi ulama yang dibina oleh majelis ulama dan in syaa Allah majelis intelektual dan ulama MUI di Indonesia dan lembaga-lembaga Islam di Indonesia.
Cuma ini memang masih sangat kurang, masih sangat minim sekali, sangat miskin sekali karenanya ini perlu perhatian khusus dari segenap tokoh dan masyarakat untuk ikut serta juga pemerintah untuk mendukung program kaderisasi ulama ini.
Kedua, para ulama harus kembali pada posisinya, penyakit terbesar para ulama adalah cinta dunia, kalau sudah berhubungan dengan para penguasa sudah masuk ke dalam dunia politik akhirnya mereka lupa dengan posisinya dan tidak lagi menjadi teladan bagi dari pada umat.
Jadi, kalau ingin membangkitkan umat Islam di Indonesia pada khususnya, maka para ulama harus kembali kepada posisinya sebagai orang yg menyebarkan ilmu-ilmu Allah dengan cara takut kepada Allah SWT lalu mendidik sebanyak-banyanya.
Lantas kemudian mengajak pemerintah untuk bersama membangun kecerdasan ulama-ulama ini dan memberikan kesejahteraannya. Supaya mereka tidak gampang terpancing kepada urusan dunia meskipun itu bukan menjadi satu alasan.
Ketiga, pendidikan agama di sekolah juga pendidikan orang tua di rumah. Terhadap pendidikan agama, ini yang harus diperbanyak dan media-media Islam juga harus bersatu bagaimana cara membangun kecerdasan umat ini.
Apa peran pesantren dalam pembentukan ulama intelek?
Pertama, alhamdulilah sampai saat ini pesantren masih berperan penting sebagai benteng utama di Indonesia. Bahwa di sana ada pesantren yang misorientasi atau tidak menjadi sarana untuk tafaquh fi diin itu mungkin bisa menjadi improvisasi walaupun sebenarnya ini jangan menjadikan pesantren-pesantren ini kehilangan arah sebagai pusat tafaquh fi din.
Kedua, alhamdulilah alumni-alumni pesantren sampai sekarang masih ada yang komit. Dimana saat mereka keluar dari pesantrennya, mereka masih tetap berjuang menegakkan agama Allah dan mengajarkan ilmu-ilmunya.
Apa peran Miumi dalam pembentukan ulama intelek?
Alhamdulilah kami (MIUMI) telah melakukan percepatan, jadi kita tidak bergerak sendiri-sendiri untuk para tokoh ormas atau tokoh umat yg mainstreamnya ke umat bukan kekuasaan. Jadi kita berbasis masa untuk bekerja sama bersatu mencerdaskan umat dalam dua bentuk, pertama pembinaan dan kedua perlindungan dari arus aliran sesat yang sedang berkembang.
Sebab kedua itu harus dilakukan. Kalau pembinaan tidak disertai dari perlindungan akidah atau perlindungan umat dari aliran sesat, maka ini semua bisa mengacaukan apa yg sudah kita bangun. Karena itu, MIUMI juga sedang berupaya hendak melakukan kaderisasi ulama dan merekrut ulama-ulama yang ada di seluruh Indonesia, termasuk para ulama muda yang mainstreamnya tertuju ke umat.
Bagaimana Prosedurnya?
Dengan bekerja sama pada lembaga-lembaga Islam yang ada di Indonesia khususnya.
Bagaimana pandangan anda terhadap kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia yang saat ini?
Pendidikan kita sekarang, kesatu sangat materialistik, kedua dikotomis agama dan non agama, ketiga sekularisme sangat kencang, keempat liberalismenya juga luar biasa, kelima porno yang sudah ada dan menjalar di sekolah-sekolah. Fakta inilah yang kini terjadi di sejumlah lembaga pendidikan.
Kurikulum pendidikan saat ini terkesan ikut menutup-nutupi kebenaran sehingga banyak korban pelajar yang tidak mengenal hasil jerih payah para tokoh Islam terdahulu. Lalu jika ada yang mengusulkan perubahan kurikulum pendidikan, bagaimanakan sikap anda?
Saya setuju! Bagus sekali! Itukan kejujuran intelektual yang harus dibangun dikalangan intelek, dan di Β tengah masyarakat. Jadi budaya plagiator dan ketidakjujuran harus dihilangkan dalam sisi keilmuan.
Apa usulan anda tentang hal ini?
Kelihatannya diknas dan depag harus memperhatikan tokoh-tokoh umat dalam menyusun tinjauan instruksional umum maupun khusus. Minimal di daerah itu harus dilibatkan. Bahwa nanti ditingkat tehnis pokok bahasan dan sub pokok bahasan bisa dilibatkan pada ahlinya atau guru, tetapi secara garis besarΒ untuk menentukan arahan pendidikan dan pembahasan harus melibatkan para tokoh. Karena sejujurnya departemen agama atau pendidikan nasional juga kekurangan informasi, kekurangan sumber daya manusia, dan terutama kekurangan cahaya, di mana mereka butuh pada bantuan para ulama.
Menurut anda, mungkinkah harapan ini bisa terjadi?
Sangat mungkin. Dan sebetulnya diknas juga telah mengundang (meski tidak sering) dari pihak swasta juga beberapa pakar sudah beberapa kali diajak. Itu sudah dilakukan oleh depag hanya saja ruang lingkupnya masih kecil dan seringkali antara yg dirapatkan dan yg dilaksanakan berbeda. Dan yang membahyakan saya pernah menjadi korban, jadi tokohnya diundang hanya untuk membocorkan dana abadi umat misalnya. <Edithya Miranti>





















