Bangkok, Gontornews — Dua warga negara Cina telah diadili karena peran mereka dalam pemboman mematikan di sebuah kuil di Bangkok, Thailand, setahun lalu. Namun, lebih dari selusin tersangka yang diduga terlibat dalam insiden itu masih buron.
Sidang yang dimulai pada hari Selasa (23/8) di pengadilan militer Bangkok, telah ditunda hingga 15 September dan diperkirakan akan berlangsung lebih dari setahun.
Hal ini terjadi hanya beberapa hari setelah gelombang ledakan melanda daerah resor Thailand, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 35 lainnya, termasuk wisatawan.
Pemboman yang terjadi pada bulan Agustus 2015 itu merupakan serangan terburuk dalam sejarah Thailand, menewaskan 20 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Korban tewas berasal dari Malaysia (5 orang), Cina (5), dan Hong Kong (2).
Motif serangan itu masih belum diketahui.
Serangan, yang dilakukan dengan bom kecil tapi kuat dikemas dengan bantalan bola, menargetkan kuil Erawan di jantung distrik perbelanjaan Bangkok. Kuil Hindu ini populer di kalangan pengunjung etnis Cina.
Warga minoritas Muslim penduduk Uighur, Cina, Yusufu Mieraili dan Bilal Mohammed telah didakwa terlibat dalam pemboman itu
“Para tersangka yang muncul di pengadilan diduga sebagai βprajuritβ dalam serangan itu,” kata Scott Heidler dari Al Jazeera melaporkan dari luar pengadilan di Bangkok.
“Namun, pihak berwenang Thailand masih memburu lebih dari selusin tersangka yang masih buron.”
Dia mengatakan, para analis dan pejabat negeri itu percaya bahwa ledakan di kuil Erawan tidak ada kaitannya dengan pemboman yang terjadi baru-baru ini di seluruh negeri. Jenis amunisi yang digunakan berbeda.
‘Koneksi Uighur’
Sebagian besar analis meyakini teori bahwa pemboman kuil itu sebagai balas dendam kepada pemerintah militer Thailand yang memaksa kembali 109 warga Uighur ke Cina, minggu sebelumnya.
Pemerintah Thailand bersikeras pemboman itu dilakukan oleh geng penyelundupan manusia yang marah dengan kepolisian atas keberhasilannya melawan perdagangan manusia.
Sementara itu minoritas Uighur mengatakan, mereka menghadapi penindasan agama dan budaya di Tanah Air mereka di Xinjiang, Cina barat laut. Banyak di antara mereka yang telah melarikan diri dalam beberapa tahun terakhir.
Deportasi warga Uighur oleh pemerintah militer Thailand banyak mendatangkan kecaman internasional dan protes di kedutaan besar Thailand di Turki. [Rusdiono Mukri]




















