Dhaka, Gontornews — Pemerintah Bangladesh berencana membatalkan proses pemindahan 100.000 pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil di Teluk Benggala, Ahad (16/2).
“Target utama kami adalah memulangkan Rohingya ke tanah kelahiran mereka di Rakhine, Myanmar,” kata Menteri Luar Negeri Bangladsh, Abul Kalam Abdul Momen saat bertemu dengan Duta Besar China untuk Bangladesh, Li Jiming, sebagaimana dilansir Anadolu.
Pemerintah Bangladesh berencana pulau Bhasan Char, yang sedianya ditempatkan sebagai penampungan sementara etnis Rohingya, sebagai pusat bisnis. Meski demikian, sejumlah warga Bangaldesh mengaku kehilangan tempat tinggal akibat erosi dan sejumlah alasan lain di sana.
Bhasan Char merupakan sebuah pulau terpencil di Bangladesh. Awalnya, Bangladesh berencan untuk menempatkan 100.000 pengungsi Rohingya di wilayah tersebut. Namun, sejumlah pihak mengkhawatirkan lokasi tersebut karena dinilai tidak layak huni.
“Kami semua sepakat untuk tidak mengirim etnis Rohingya k esana. Sekarang kami menempatkan rekomendasi kami kepada pemerintah tentang alternatif proyek Bhasan Char,” kata Momen.
Sebagaimana diketahui, etnis Rohingya merupakan etnis yang paling teraniaya versi PBB. Lebih dari 750.000 etnis Rohingya di Rakhine melarikan diri ke Bangladesh.
Mereka lari dari tanah kelahirannya akibat serangan yang dilancarkan oleh pasukan militer Myanmar Tatmadaw Agustus 2017. Akibat penyerangan tersebut, 1,2 juta etnis Rohignya dikabarkan melarikan diri ke Bangladesh.
Berdasarkan data yang dirilis Ontario International Developmen Agency (OIDA), sejak 25 Agustus 2017 hampir 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh militer Myanmar. OIDA juga menambahkan ada sektiar 34.000 etnis Rohingya yang dibakar hidup-hidup dengan 114.000 lainnya dipukuli.
Tidak hanya itu, 18.000 perempuan dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan pihak kepolisian Myanmar. 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak. [Mohamad Deny Irawan]





















