Donggala, Gontornews — Senin (22/10) kemaren Tim SIGAB (Aksi Tanggap Bencana) NH (Nurul Hayat) kembali beraksi mengirimkan tiga relawannya untuk masuk ke daerah korban gempa yang lokasinya sangat terisolir.
Bertempat di Gunung Pure, Donggala, Sulawesi Tengah. Di sana terdapat dari dua dusun yaitu Dusun 4 dan Dusun 5. lalu ada 4 suku yakni Bugis, Sambas, Kaili, dan Tajio. “Berdasarkan keterangan dari kepala dusun setempat, sejauh ini belum ada bantuan pelayanan medis dan lainnya yang masuk ke Gunung Pure,” ujar Muhajir, relawan SIGAB NH kepada Gontornews.com (23/10).
Kemaren tim SIGAB NH bertemu dengan para kepala dusun termasuk dengan kepala Suku Tajio (Harsum) yaitu suku yang mendiami gunung tersebut. Sambutan hangat serta keramahan dari warga sekitar pun langsung mengiringi para relawan. pasalnya, selama ini para korban gempa belum pernah mendapatkan bantuan dari pihak luar.
“Kemaren kami telah mengecek dampak gempa di sana, ada beberapa rumah warga dan fasilitas umum (sekolah juga masjid) yang rusak,” jelas Muhajir. Selain itu, tambahnya, juga dilakukan peninjauan lokasi tanah yang rencananya akan digunakan untuk pendaratan helikopter BPBD pengangkut barang-barang logistik. Sebab jalanan yang terjal, berbatu, sempit, dan rawan longsor.
Sejauh ini, dalam melakukan aksi tanggap bencana, tim SIGAB juga sudah menembus Kecamatan Kulawi. Kulawi adalah salah satu daerah uang sejak terjadi gempa dan tsunami terisolir dan minim bantuan. Pengiriman logistik juga dilakukan juga dengan helikopter BNPB dari Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri Palu.
“Perlu diketahui bahwa tidak mudah untuk menjangkau wilayah ini karena jalan yang rawan longsor,” tukas ayah dua putri ini. Bahkan beberapa relawan menjadi korban longsor di jalan yang posisi atasnya lereng gunung rawan longsor, sedangkan bawahnya adalah jurang. “Dapat dipastikan jika cuaca hujan, akses jalannya longsor dan tidak bisa dilalui,” pungaks pria berkaca mata tersebut. <Edithya Miranti>





















