Depok, Gontornews — Pendidikan jiwa bertujuan untuk membersihkan hati dari akhlak yang tercela, seperti sifat rakus, iri hati, dengki, sombong, dan penyakit hati yang lainnya.
Kategori manusia modern memiliki ciri-ciri khas yang melekat padanya. Menurut Alex Inkeles, Guru Besar Sosiologi Universitas Harvard, bahwa ciri khas manusia modern lebih percaya pada rasionalitas, ilmu pengetahuan dan teknologi serta menempatkannya sebagai instrumen untuk mengendalikan alam.
Dampak negatif dari pandangan rasionalitas tersebut terlihat pada world view manusia modern yang cenderung menilai segala sesuatu hanya sebatas pandangan empiris, dan berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya, terpinggirkan.
Maka dari itu, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan.
Krisis spiritual yang dihadapi manusia modern telah sering dibicarakan dan merupakan wacana yang menarik perhatian para akademisi, baik akademisi Barat maupun Timur. Salah satu faktor dominan yang menggerakkan kondisi tersebut adalah adanya krisis modernitas (crisis of modernity).
Paradigmamodernisme telah membawa manusia mengalami krisisemosional yang akut atau lebih tepatnya krisis eksistensial, yang secara langsung membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupannya, sehingga makna kehidupnya telah hilang dan sirna dalam dirinya.
Singkatnya, manusia modern cenderung melepaskan diri dari keterikatan dengan Tuhan, untuk selanjutnya membangun tatanan yang berpusat pada manusia. Manusia dipandang sebagai mahluk bebas dan independen dari Tuhan dan alam, karena manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri.
Dr. Akhmad Alim, dosen pasca sarjana Universitas Ibn Khaldun, menegaskan, “Munculnya problem spiritual yang menimpa manusia modern bermula dari hilangnya visi keilahiyan yang disebabkan oleh ulahnya sendiri, yakni bergerak menjauh dari pusat eksistensinya.”
Selain itu, pria yang akrab disapa Alim ini juga menambahkan bahwa pendewaan pada metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris telah menjadikan manusia modern menjadi sekuler, yakni mengukur segala sesuatu hanya berdasarkan rasio semata, dan memisahkan segala hal yang bersifat ilahi. Akibatnya, manusia membebaskan diri dari tatanan Ilahiah (Qanun Ilahi), untuk selanjutnya membangun tatanan yang berpusat pada manusia (qadariyah).
Dalam kondisi memprihatinkan ini, para ilmuwan Barat banyak yang mencoba menawarkan konsep untuk mengatasi problem spiritual dankrisis kejiwaan tersebut. Diantaranya adalahkonsep Spiritual Quotient (SQ)dan God Spot yang digagas oleh Danah Zohar.
Alih-alih mengadopsi teologi Kristen sebagai akar kebudayaan Barat, Zohar justru memadukan semua ajaran agama (kecuali Islam), tradisi kaum pagan, filsafat, psikologi Barat dan ilmu Fisika untuk dijadikan solusi spiritual baru yang diklaimnya lebih netral mengatasi fanatisme beragama, dan membuat manusia lebih tercerahkan secara spiritual dengan atau tanpa memeluk agama yang formal.
Selain itu, Hossein Nasr juga menawarkan spiritualitas tasawuf (Islamic Mysticism) dengan doktrin wahdatul wujud, insan kamil, serta maqamat wa ahwal, ilmu laduni. Sayang, gagasan-gagasan tersebut banyak menuai kegagalan dan malah semakin memperumit masalah.
Menyikapi fenomena di atas, Ibn Jauzi, ulama yang hidup di abad 6 H (510-597 H), menggagas konsep jalan tengah, yang mencoba untuk memberikan solusi dari problem spiritual Barat dan Sufi, melalui pendidikan jiwa yang berbasis pada pemahaman ulama salaf.
Dalam disertasi yang diuji lansung, Prof. Dr. Ahmad Tafsir, pakar pendidikan dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung ini kembali memaparkan bahwa manusia sejatinya terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang terdiri dari jasad dan ruh, sehingga manusia merupakan makhluk jasadiyah dan ruhiyah sekaligus.
Hubungan keduanya bagaikan hubungan antara seorang nahkoda dengan sebuah perahu, di mana nahkoda berfungsi sebagai pengatur dan pengarah tujuanjalannya perahu, dan menenangkan arus air yang membawa perahu tersebut serta menjaganya di tengah-tengah hembusan gelombang.
Realitas yang mendasari dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudian dikenal sebagai manusia bukanlah perubahan jasadnya, melainkan keruhaniannya. Hal itu dikarenakan manusia pada hakikatnya adalah makhluk ruhani, yang esensinya bukanlah fisiknya dan bukan pula fungsi fisik, melainkan jiwa (nafs) adalah identitas esensial manusiayang tetap.
Dengan begitu, jiwa dalam pandangan Ibn Jauzi adalah substansi yang berdiri sendiri dan mempunyai sifat-sifat dasar yang berbeda dengan badan, karena jiwa dan badan berasal dari dua dunia yang berbeda. Jiwa berasal dari dunia metafisik, bersifat immateri, tidak berbentuk komposisi, mengandung daya mengetahui dan bergerak dan kekal. Sementara badan adalah substansi yang berasal dari dunia fisik, bersifat materi, berbentuk komposisi, tidak mengandung daya pada dirinya, dan tidak kekal.
Ibn Jauzi melihat jiwa sebagai esensi manusia, sembari berargumentasi lewat hadist Nabi SAW yang mengatakan, ”Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kalian, dan tidak pula bentuk kalian, akantetapi Allah melihat hati kalian dan amal kalian.” (HR.Muslim).
Lebih lanjut Ibn Jauzi melihat bahwa jiwa terbagi dalam tiga unsur penting yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Ketiga unsur tersebut adalah unsur akal (juz aqli), unsur amarah (juz ghadhabi), dan unsur hawa nafsu (juz syahwani).
Unsur akal memiliki dua sisi, yaitu sisi keutamaan yang berupa ilmu, dan sisi keburukan yang berupa kebodohan. Sementara unsur amarah juga memiliki dua sisi keutamaan dan keburukan, keutamaannya adalah ketegasan, dan keburukannya adalah kepengecutan.
Sedangkan unsur hawa nafsu juga memiliki dua sisi keutamaandan keburukan, keutamaannya adalah menjaga diri dari sesuatu yang tidak baik, sedangkan sisi keburukannya adalah tidak terkendalinya dari keinginan-keinginan syahwat.
Ketiga komponen jiwa tersebut bukanlah dipandang sebagai unsur-unsur yang berdiri sendiri dalam pembentukan kepribadian. Ketiganya merupakan nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang mengikuti prinsip-prinsip sistem yang berbeda. Kepribadian sesungguhnya merupakan produk dari interaksi diantara tiga komponen tersebut.
Dengan begitu, lagi-lagi bisa dikatakan bahwaIbn Jauzi telah mengambil jalan tengah (thariqah wasathiyyah). Dimana meletakkan konsep nafs diantara dua kubu ektrim, baik ektrim ifradh maupun tafridh. Ibn Jauzi beralasan bahwa jalan tengah adalah jalan yang adil dan sebaik-baiknya jalan (afdhal al-umur ausathuha).
“Di antara jiwa, ada yang diciptakan dalam keadaan suci, ada juga yang diciptakan dalam keadaan kotor. Hanya saja, Ia akan menjadi baik jika dilatih dengan hal-hal yang terpuji. Kulit yang suci jika terkena najis, maka cukup dibersihkan dengan cara menyamaknya, karena pada asalnya kulit tersebut adalah suci, hal itu berbeda dengan kulit babi,” tegas pria kelahiran 28 Februari 1982 ini.
Dari uraian diatas bisa dimengerti bahwa pada hakikatnya jiwa adalah fitrah karena pada hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah (yuladu a’la fitrah). “Adapun terjadinya fujur(buruk) dan taqwa (baik) nya, tergantung pada pendidikannya,” pungkasnya. <Edithya Miranti>
Biografi Singkat
Nama : Dr Akhmad Alim MA
TTL : Rembang, 28 Februari 1982
Pendidikan :
- S-1 di Universitas Muhammad Ibnu Sa’ud LIPIA, Jakarta
- S-2 di Universitas Muhammadiyah, Surakarta
- S-3 di Universitas Ibn Khaldun, Bogor
Prestasi : Peraih gelar Doktor termuda serta tercepat di Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor dengan predikat Cum Laude pada 10 Desember 2011 silam.
Kegiatan :
- Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albaab, Bogor -sebuah pesantren yang didirikan oleh Mohammad Natsir, tahun 1987.
- Imam di Masjid al-Hijri Universitas Ibn Khaldun, Bogor.
- Ketua progam kaderisasi ulama Pesantren Tinggi Ulil Albab
- Dosen pasca sarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor.





















