Kyiv, Gontornews – Bantuan militer Amerika Serikat (AS) untuk Ukraina telah tiba, Sabtu (22/1). Bantuan diberikan setelah ada kunjungan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ke Kyiv pekan ini dan di tengah ketegangan Ukraina dengan Rusia.
Kedutaan AS untuk Ukraina dalam akun Facebooknya mengatakan pemberian bantuan oleh AS merupakan dukungan Paman Sam terhadap Pemerintahan Ukraina atas kondisi keamanan negaranya setelah Rusia menempatkan ribuan tentaranya di perbatasan.
Bantuan juga dimaksudkan untuk menguatkan militer Ukraina sehingga dapat mengantisipasi invasi yang kemungkinan akan dilakukan Rusia terhadap tetangganya tersebut. Untuk itu, AS menyatakan akan terus mengirimkan bantuannya untuk membantu Ukraina.
“Amerika Serikat akan terus memberikan bantuan semacam itu untuk mendukung angkatan bersenjata Ukraina dalam upaya berkelanjutan mereka untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina melawan agresi Rusia,” kata kedutaan.
Selain AS, negara-negara Baltik lainnya seperti Estonia, Latvia dan Lithuania juga akan mengirim rudal anti-tank dan anti-pesawat buatan AS ke Ukraina melalui kesepakatan dengan AS.
“Saya mempercepat dan mengizinkan sepenuhnya serta mendukung transfer peralatan pertahanan Sekutu NATO Estonia, Latvia dan Lithuania yang diberikan ke Ukraina untuk memperkuat kemampuannya mempertahankan diri terhadap agresi Rusia yang tidak beralasan dan tidak bertanggung jawab. Kami salut kepada mereka atas dukungan lama mereka ke Ukraina,” cuitnya.
Dalam sebuah pernyataan bersama yang diterbitkan pada Jumat (21/1) malam, para menteri pertahanan dari tiga negara Baltik tersebut mengatakan mereka akan bersatu berkomitmen terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia yang berkelanjutan.
Mereka juga mengatakan Estonia akan memberi Ukraina senjata anti-tank Javelin, sementara Latvia dan Lithuania mengirim rudal anti-pesawat Stinger dan peralatan terkait lainnya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan militer Kyiv.
“Hari ini Ukraina berada di garis depan memisahkan Eropa dari konflik militer dengan Rusia. Mari kita hadapi itu – perang di Ukraina sedang berlangsung dan penting untuk mendukung Ukraina dengan segala cara yang kami bisa sehingga mereka dapat melawan agresor,” kata Kalle Laanet, Menteri Pertahanan Estoni
Dalam kesempatan terpisah, Estonia meminta persetujuan Jerman untuk mengirim howitzer buatan Soviet, yang dulunya milik Jerman Timur, ke Ukraina. Estonia memperoleh howitzer dari Finlandia yang bukan anggota NATO, yang telah membelinya dari pasokan surplus militer Jerman pada 1990-an.
Sementara itu, Pemerintah Jerman mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan permintaan Estonia untuk meneruskan howitzer ke Ukraina. Mereka juga tidak memberikan batas waktu pengiriman Howitzer tersebut.
Berbicara dari Istanbul, Turki, Matthew Bryza dari Dewan Atlantik mengatakan meskipun pengumpulan pasukan di sepanjang perbatasan Ukraina oleh Rusia yang disebut peningkatan militer masa damai yang belum pernah terjadi sebelumnya, dia yakin perang bukanlah hal yang diinginkan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Invasi skala penuh itu mahal. Ini berisiko karena akan ada banyak korban Rusia juga, selain itu militer Ukraina jauh lebih siap daripada tahun 2014,” katanya kepada Al Jazeera.
Pada tahun 2014, Rusia merebut Semenanjung Krimea setelah penggulingan pemimpin Ukraina yang bersahabat dengan Moskow dan juga mendukung pemberontakan bersenjata separatis di Ukraina timur.
“Warga sipil Ukraina siap berperang. Akan ada perang partisan yang berpotensi selama bertahun-tahun yang akan menimbulkan banyak korban, ”tambah Bryza.[Devi]






















