Jakarta, Gontornews—Hadir juga Kiai Maksum pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah dari Bondowoso Jawa Timur, juga hadir mengisi tauiyah di Masjid Istiqlal, sabtu (11/2)
Dalam tausiyahnya, Kiai Maksum menyitir hadis tentang kematian. “Wahai Muhammad, kamu boleh hidup sesuka hatimu, tapi cepat atau lambat kamu akan mati. Rasulullah mati, apalagi kita-kita,” jelasnya.
Kiai Maksum juga menyebut satu per satu nama-nama yang sudah mati dan akan mati. Seperti presiden Soekarno mati, Soeharto mati, Gus Dur mati, Pak Jokowi akan mati, Pak Tito akan mati, Kiai Maksum juga akan mati.
“Semuanya akan mati, saat itu akan butuh habaib, ustad, untuk mendoakan saat mereka mati. Maka itu berbaik-baiklah dengan ulama, ulama garis lurus dan bukan garis fulus,” katanya.
Kiai Maksum juga menolak adanya kriminalisasi ulama yang akhir-akhir ini berlangsung. “Kita ingin damai, damai itu lebih baik dan indah. Ajaran Islam ajaran damai. Daripada mati di atas kasur lebih baik mati di medan tempur,” jelasnya.
Dalam tausiyahnya Kiai Maksum juga mengutip sebuah pantun ‘Kereta api dinamakan sepor, di atas sepor ada kondektur, dari pada mati di atas kasur lebih baik mati di medan tempur,” katanya. [DJ]




















