“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah [9]: 44)
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS at-Taubat [9]: 45)
Hai umat Islam, tenangkan pikiranmu, bukalah hatimu, serta renungkan nasib bangsa dan agamamu. Pasang kamera dari segala arah, baik dari sudut pandang pengetahuan, pengalaman, pergaulan, moral, keagamaan dan lain-lain. Perhatikan baik-baik dan cermati dengan mizan keadilan dan akal sehat. Apa hasilnya? Jika sepintas lalu merenungi nasib bangsa dan agama kita, lemaslah semua urat saraf kita, tubuh menggigil kedinginan, badan lemas tak berdaya, dan sendi-sendi tulang terasa nyeri. Sudah cukup rasanya, telah mencapai puncak kiranya, dan sudah mencapai seratus persen tak kurang tak lebih.
Tak dapat dielakkan, secara faktual bangsa kita telah mengalami kemunduran dan agama kita mengalami kemerosotan. Inilah nasib sial bangsa kita. Ini bukan angan-angan, khayalan atau rekaan, tetapi sudah menjadi kenyataan. Kita bisa samasama merasakan dan menyaksikannya, mulai dari kemiskinan, kebodohan, korupsi, kemaksiatan, kekerasan, sampai pada perseteruan antar sesama
Berkorban Demi Kemajuan Islam
anak bangsa. Apa jadinya kita nanti? Bagaimana masa depan kita? Apa yang kita wariskan kepada anak cucu kita? Sedu sedan tiada guna. Tak perlu pula terus larut dalam derita dan nestapa sehingga melemahkan hasrat, semangat, dan pikiran kita. Karena itu, marilah segera bangkit mengambil sikap yang paling tepat dan bermanfaat untuk membawa umat Islam menuju kemajuan dan berperadaban.
Kita harus insaf dan bergerak menuju ke arah kemuliaan dan kemajuan Islam dan umat Islam. Yang sudah memulai, terus jaga keistiqamahan, kuatkan tekad, rapatkan barisan, dan tetap sungguh-sungguh. Berdiam diri bukanlah pilihan, apalagi berputus asa, meratapi nasib, dan menyia-siakan waktu begitu saja.
Singsingkanlah lengan bajumu, tampillah ke depan, terjunkan potensi dan kemampuanmu. Selagi mata masih melihat, telinga masih mendengar, anggota masih bertenaga, mulut masih dapat berkata, nyawa masih melekat di jiwa, selama itu pula kita sebagai seorang muslim berkewajiban berkorban untuk kepentingan Islam dan umat Islam.
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Barang siapa membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS al-An’am [6]: 160)
Katakanlah, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS alAn’am [6]: 161-162 )
“Dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS Luqman [31]: 22 )
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurat [49]: 15) []






















