Al-Mukalla, Gontornews — Sedikitnya enam orang tewas dan lebih dari 30 lainnya terluka pada Selasa (5/7) ketika dua ledakan besar menghancurkan gudang senjata di Provinsi Abyan, Yaman selatan.
Laman Arabnews.com merilis, ledakan pertama terjadi di pagi hari di dalam pasar yang ramai di dekat gudang senjata di Lawder, sebuah kota besar di provinsi tersebut. Saat lusinan orang berkerumun setelah ledakan, ledakan kedua meledak di gedung berlantai dua yang berisi gudang senjata.
Para pejabat mengatakan mereka tidak dapat menentukan jumlah pasti korban karena korban tewas dan terluka masih terus berdatangan di rumah sakit Al-Shaheed Mahnef di Lawder. Warga bergegas ke rumah sakit untuk mencari kerabat dan teman yang hilang, dan staf medis meminta donor darah. Rumah sakit yang fasilitasnya minim dan kekurangan staf itu terpaksa merujuk kasus kritis ke rumah sakit yang lebih besar di Abyan dan Aden.
Pihak berwenang meluncurkan penyelidikan atas ledakan tersebut, tetapi Al-Qaeda diketahui aktif di daerah tersebut dan ledakan kembar dalam waktu singkat merupakan taktik teroris untuk meningkatkan jumlah korban.
Abyan adalah provinsi yang diperebutkan antara pemerintah yang diakui secara internasional dan separatis yang setia kepada Dewan Transisi Selatan. Wilayah itu merupakan lokasi pertempuran sengit pada 2019 dan 2020 yang merenggut nyawa banyak tentara dan pejuang milisi teroris Houthi.
Cabang Al-Qaeda Yaman mengeksploitasi anarki di provinsi itu untuk bangkit kembali.
Terduga militan Al-Qaeda di provinsi itu masih menahan lima pekerja PBB yang diculik pada Februari lalu saat kembali ke negara tetangga Aden setelah menyelesaikan misi lapangan.
Pejabat lokal dan mediator dari suku-suku yang ada di wilayah itu gagal meyakinkan para penculik untuk membebaskan para pekerja. Para penculik bersikeras menukar mereka dengan tahanan sekutu di Aden dan menuntut tebusan ribuan dolar.
Di tempat lain di Yaman, utusan Uni Eropa telah meminta milisi Houthi yang didukung Iran untuk mengurangi dan menerapkan unsur-unsur gencatan senjata yang ditengahi PBB, terutama menghentikan pengepungan di kota Taiz.
Para duta besar Prancis dan Jerman serta utusan khusus Swedia untuk Yaman menelepon Hussein Al-Azi, seorang pemimpin Houthi, untuk memintanya menerima proposal PBB tentang pembukaan jalan di Taiz dan berupaya mencapai perdamaian setelah ia mengancam akan melanjutkan operasi militer di wilayah Provinsi Marib, Yaman tengah.
Para duta besar meminta pemimpin Houthi untuk secara konstruktif terlibat dalam proposal utusan PBB untuk Yaman dan menciptakan βretorika publik yang positif.β
βSudah waktunya untuk terus memenuhi harapan warga Yaman, yang menginginkan dan membutuhkan perdamaian,β kata misi Uni Eropa di Yaman.[]


















