Ponorogo, Gontornews– Bentuk perhatian Gontor terhadap dunia literasi dibuktikan dengan terselenggaranya seminar jurnalistik dan evaluasi pendataan yang dilaksanakan Sabtu (14/9) sampai Ahad (15/9) bertempat di Aula Robithoh. Acara ini berlangsung selama empat sesi yaitu, pagi, siang, malam dan pagi kembali. Seminar ini dikoordinasikan oleh para Ustadz bagian Majalah Gontor Pusat. Hadir sebagai narasumber Ustadz Adnin Armas MA (Pemimpin Redaksi Majalah Gontor) dan Ustadz Ir Rusdiono Mukri MPd (Pemimpin Redaksi Gontornews.com) dengan peserta sekitar 70an orang yang berasal dari semua Pondok Gontor dan cabangnya yang berada di Pulau Jawa.
Acara ini dibuka dengan sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang diwakili oleh Ustadz Taufik Affandi. Pesannya “Regeneration Learn Something New and Identity are the Success Key of Organization” ujar Ustadz Taufik Affandi membuka acara ini.
“Tantangan Jurnalistik Menghadapi Arus Teknologi” menjadi tema pada acara seminar kali ini. Ustadz Adnin Armas memaparkan bahwa media berperan penting dalam pembentukan mindset masyarakat.
“Islam dipandang teroris, radikal, intoleran, fundamental, dan lain-lain. Itu semua karena ulah media, bukan semua media melainkan beberapa oknum media saja,” papar Ustadz Adnin Armas.
Media juga berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan seperti agama, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik, dan lain-lain. Keadilan yang meliputi keberimbangan dan netralitas serta tektualitas yang meliputi kebenaran dan relevansi menjadi objektivitas media.
“Alasan mengapa wartawan harus menyatakan kebenaran bukan membenarkan kenyataan, karena dalam Islam barang siapa yang menunjukkan sesuatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjaknnya, dan barang siapa yang menunjukkan sesuatu keburukan maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengerjaknnya.” Jelas Pemimpin Redaksi Majalah Gontor.
Ustadz Rusdiono Mukri juga menjelaskan bagaimana penulisan berita yang baik dan benar ”suatu berita dapat diambil dari kejadian-kejadian yang terjadi tanpa perencanaan, kegiatan-kegiatan yang direncanakan, dan inisiatif wartawan” jelasnya. Ustadz Rusdiono Mukri menjelaskan bahwa penulisan berita harus memiliki unsur 5W 1H, lead yang menarik, menulis dengan kalimat efektif, serta menggunakan kata-kata berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
“Metode penulisan berita juga menggunakan teknik piramida terbalik yaitu berita yang paling penting diawal tulisan kemudian semakin ke bawah semakin kurang penting. Jelas alumni IPB ini.
Pelatihan jurnalistik kemudian ditutup dengan lomba penulisan berita dan pembagian hadiah di hari Ahad (15/9). [Fahruddin Majid/Gontor 2]






















