Michael J Hughes kecewa berat. Roket rancangannya gagal meluncur dari Mojave Desert, Amboy, California (3/2/2018) karena ada kesalahan teknis. Padahal, veteran supir Limousine itu berambisi membuktikan bumi datar, sekaligus mematahkan argumen NASA maupun pendukung teori bumi bulat.
“Aku mengecewakan semua orang. Kali ini, kembali gagal mempecundangi NASA,” ungkap veteran pendukung bumi datar (flat-earther) berusia 61 tahun. Ini bukan percobaan pertama Mike Hughes ‘Gila’. Akhir tahun lalu dia sudah berencana meluncurkan roket Research Flat Earth di lokasi tersebut. Roket urung meluncur karena tidak mendapat izin dari pihak otoritas.
Roket yang dibangun Mike Hughes itu tidak seluruhnya berasal dari komponen baru, melainkan dari kumpulan komponen-komponen bekas. Tahun 2014, roket Mike Hughes sempat meluncur ke langit, namun menukik jatuh. Beruntung ia selamat.
Saat percobaan Sabtu (3/2/2018) gagal, Mike Hughes sempat emosional. Beberapa penonton pun meneriakkan kata-kata untuk menghibur. “Kau sudah melakukan yang terbaik,” ujar seorang pria. Dua gadis muda mendekati Mike dan memeluknya erat-erat. “Kami mencintaimu. beberapa hal (yang tidak diinginkan) kerap terjadi. Tidak apa-apa,” kata mereka.
Kaidah illmu pengetahuan modern mengajarkan, bumi berbentuk bulat seperti bola. Tetapi, belakangan, wacana bumi datar kembali menghangat di jagat dunia maya. Banyak portal dan situs web mengkampanyekannya, di dalam maupun luar negeri. Sebuah konferensi mengenai bumi datar digelar di North Carolina, Amerika Serikat, Namanya Flat Earth International Conference (FEIC), berlangsung 9-10 November 2017.
Menurut Live Science, sejumlah pembicara pengikut paham bumi datar hadir. Antara lain Darryle Marble yang berupaya membuktikan bumi itu tidak bundar. Ada pula Mark Sargent, kreator webseries di YouTube yang berjudul Flat Earth Clues. Ia percaya bahwa Bumi sebenarnya berbentuk kubah besar, seperti yang ditampilkan di film Truman Show. Diageni Kryptoz Media, konferensi ini berargumen bahwa saintisme merupakan agenda yang dibuat untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. Bumi bulat disebut kental dengan trik NASA serta hegemoni kepentingan elite dunia. Konferensi ini juga membahasa tema NASA dan Kebohongan Luar Angkasa serta Bumi Datar Dalam Metode Ilmiah.
Ketua LAPAN, Prof Dr Thomas Djamaluddin, berpendapat bahwa sumber utama “dongeng Bumi Datar” (Flat Earth) adalah ketidakfahaman akan gravitasi. Konsekuensi adanya gravitasi adalah bulatnya bumi (karena gravitasi dirinya saat pembentukan tata surya), adanya planet-planet yang mengorbit matahari, adanya bulan dan satelit yang mengorbit bumi, terjaganya air laut dan seisi bumi tetap berada di permukaan bumi, terjaganya atmosfer sehingga manusia bisa bernafas dan pesawat bisa terbang dengan gaya aerodinamis, dan sekian banyak lagi fenomena ilmiah lainnya, ‘’Peristiwa gerhana bulan dan gerhana matahari membuktikan bumi itu bulat. Ayo belajar fisika agar tidak tertipu dengan dongeng,” jelas Ketua LAPAN.
Menurut fisikawan Stanley Weinberg dan G. Magrane dalam makalah The Flat-Earth/Round Earth Controversy (SPAEA, 1986), pandangan bumi datar dan bumi bulat memang ada pendukungnya. Dari zaman kuno setiap konsep memiliki pendukungnya. Bangsa Sumeria, Babilonia, orang Mesir kuno, Ibrani awal, dan kebanyakan orang Yunani percaya pada bumi yang datar. Beberapa ilmuwan Yunani kuno, begitu juga banyak aktivis gereja seperti Origen, Venerable Bede, Albertus Magus, dan St. Thomas-Aquinas mendukung bumi bulat. Tetapi, mulai akhir abad pertengahan dan awal zaman modern muncul pandangan lain. Roger Bacon, Copernicus, Galileo, Columbus, dan Magellan misalnya sudah berpendapat bahwa bumi itu bulat.
Gerakan bumi datar modern didirikan di Inggris sekitar tahun 1850 oleh Samuel Birley Rowbotham. William Carpenter dan Charles Johnson melanjutkan gerakan tersebut. Johnson mengarahkan International Direct Earth Research Society di Lancaster, California. Kelompok datar lainnya adalah Gereja Apostolik Katolik Kristen di Sion, Illinois, yang dipimpin oleh John Alexander Dowie dan William Glenn Voliva, selama bertahun-tahun, bumi datar menjadi doktrin dasar gereja.
Pada 1956, warga Inggris Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Research Society. Targetnya menjangkau anak-anak sebelum mereka terlanjur percaya bahwa Bumi itu bulat. Setelah Shenton meninggal (1971), Charles K. Johnson, warga California, memimpin gerakan. Dan, sejak 2010, Daniel Shenton membangkitkan kembali organisasi Flat Earth Society di internet.
Sepintas, kedua konsep bumi datar dan bumi bulat sama-sama masuk akal. Menurut Stanley Weinberg, kedua konsep tersebut memungkinkan gerhana diprediksi secara akurat. Prediksi mungkin terjadi, bagaimanapun, karena gerhana terjadi pada interval reguler. Pencatatan yang akurat memungkinkan kedua kelompok dapat menentukan interval ini.
Bumi Datar
Konsep bumi datar menegaskan bahwa bumi itu seperti rekaman fonograf. Kutub Utara ada di tengahnya. Di bagian pinggirnya ada dinding es setinggi 150 kaki yang belum pernah diseberangi. Dinding es ini adalah selatan, tetapi bukan kutub Selatan. Khatulistiwa adalah lingkaran setengah jalan antara Kutub Utara dan Tembok Es Selatan.
Penganut bumi datar mengajukan sejumlah argument. Antara lain: sesuai ayat-ayat Alkitab; permukaan bumi tampak rata dari ketinggian; permukaan air rata; tidak ada gravitasi; keliling bumi berbeda antara lintang selatan lintang utara; program luar angkasa, termasuk pendaratan di bulan, adalah penipuan; pesawat ulang-alik adalah lelucon; Proyek Apollo adalah skenario Hollywood dengan sutradara Arthur C. Clarke, penulis fiksi ilmiah terkenal.
Selain itu, mereka menyebut, pada gerhana bulan tertentu, baik bulan maupun matahari terlihat di atas cakrawala. Dengan demikian, bumi tidak bisa menjadi badan bulat yang diposisikan antara matahari dan bulan. Sementara William Carpenter mengaku punya seratus bukti bahwa bumi bukan globe.
Kaum bumi datar menyambut baik tesis kontroversial Amira Kharroubi, mahasiswa doktoral University of Sfax, Tunisia. Dalam karya berjudul The flat, Geocentric Model of the Earth, Arguments and Impact of Climate and Paleoclimactic Studies, dia menyimpulkan: bumi datar, tidak bergerak, berusia muda (hanya 13.500 tahun), dan menjadi pusat alam semesta. Lebih jauh, dia secara eksplisit menolak teori fisika Newton dan Einstein, astronomi Copernicus dan Kepler, kosmologi Big Bang, model utama aktivitas atmosfer dan geologi, dan sebagian besar prinsip klimatologi modern.
Bumi Bulat
Sementara itu, penganut paham bumi bulat tak mau kalah mengajukan agumentasi. Bila bumi datar, jelas Weinberg, benda di langit harus terlihat pada saat bersamaan dari semua bagian permukaan. Faktanya tidak demikian. Misalnya, bintang di sekitar kutub tidak pernah terlihat di garis lintang rendah pada belahan bumi bagian selatan.
Fisikawan itu menjelaskan, pada siang hari, matahari dapat diamati dari titik yang berbeda. Sepanjang garis bujur yang sama, matahari terlihat pada sudut berbeda dari titik yang berbeda. Ini tidak akan terjadi jika bumi datar. Waktu di mana matahari terbit dan terbenam, kemudian terbit dan terbenamnya bintang, dan gerhana terlihat terjadi berbeda pada garis bujur yang berbeda. “Ini membuktikan itu bumi bulat, bukan rata/datar,” tegasnya.
Magrane menambahkan, kelengkungan permukaan bumi tampak jjelas pada foto yang terbuat dari luar angkasa. Bumi tidak memiliki bagian atas atau bawah. ‘Atas’ dan “bawah’ ada berdasarkan gravitasi. Di antara bumi dan bulan ada titik dimana tarikan gravitasi bumi dan bulan sama. Di sini tidak ada gravitasi, sehingga astronot mengalami ketidakberdayaan. Di alam semesta, luar system matahari, tak ada pusat gravitasi; maka tak ada juga ‘atas’ atau ‘bawah’.
Fenomena bumi bulat dapat dilihat pada khatulistiwa dan gerhana. Khatulistiwa parallel dengan garis lintang lurus di permukaan bumi. Mereka, bukan lekukan seperti konsep bumi datar, tetapi melengkung dalam tiga dimensi , membuktikan bumi bulat. Bukti lain, saat sebuah kapal bergerak menjauhi pengamat, ia menghilang di bawah lambung horizon.
Dalam gerhana total bulan, matahari selalu berada di bawah cakrawala. Gerhana disebabkan oleh bayangan bumi bulat yang benar-benar menutupi bulan. Dalam sebagian gerhana matahari mungkin sebagian terlihat. Dalam acara ini bayangan bumi di bulan terlihat memiliki tepi yang melengkung.
Sementara itu, kutub Selatan, yang dinihilkan kaum bumi datar, telah ditemukan oleh penjelajah dan ekspedisi Antartika. Pada kawasan ini, matahari lebih rendah di langit daripada di tempat lain. Kutub Selatan adalah titik paling selatan, tidak ada dinding es yang membatasi horizon bumi, tegas Weinberg.
Dedi Junaedi





















