Ponorogo, Gontornews–Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Cak Nun adalah seorangtokohintelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami.
Selain itu Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya. Bagi pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu Gontor merupakan rumah sekaligus kampung halaman kedua baginya.
Alumni Gontor itu menyampaikan rasa bahagianya atas pencapaian Gontor hingga memasuki usianya yang ke-90 tahun. “Saya mengucapkan kebahagiaan kepada kampung dan rumah kedua saya ini, Pondok Modern Gontor. Pondok ini benar-benar dibutuhkan untuk menjadi pemantul cahaya Allah bagi seluruh umat Islam dan Republik Indonesia. Kita semua berharap Gontor benar-benar mampu menjawab tantangan umat Islam dan tantangan yang menimpa bangsa Indonesia saat ini,” tutur Cak Nun menjelang penampilan Kiai Kanjeng.
“Saya masih ingat, K.H. Imam Zarkasyi sering mengatakan bahwa tugas kita adalah menjadi perekat umat. Ketahuilah, kita ini seperti hidup di zaman sebelum Rasulullah. Yaitu, bersuku-suku dan bermusuhan satu sama lain, seperti halnya di Papua. Suku-sukunya berjumlah ratusan, dan tidak mungkin ada kepemimpinan lahir di masyarakat Papua karena adanya keegoisan dalam diri masing-masing. Begitu juga dengan kita umat Islam. Jika terus bersikap saling egois, tidak mungkin kita mempunyai satu pimpinan yang diharapkan,”paparnya di depan para hadirin.
“Ya… Allah, jadikanlah rumah dan kampung halaman keduaku ini, Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai utusan-Mu, duta-Mu yang Engkau pandu menjadi satu sistem budaya, satu sistem ilmu, satu sistem sosial, dan satu sistem ideologi, yang tidak berpihak ke timur maupun ke barat, sehingga terpadu di satu titik, menjadi kiblat sejati bagi peradaban yang akan datang,” ucapnya sembari mendoakan pondoknya.
Dalam pertunjukan yang dibawakan Kiai Kanjeng pada malam itu juga diawali dengan penampilan para santri peserta Pelatihan dan Workshop bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng sehari sebelumnya. Walaupun hanya berlatih sehari, mereka mampu tampil dengan baik membawakan sebuah lagushalawat.
Kemudian mereka berkolaborasi dengan Kiai Kanjeng membawakan lagu “Hymne Oh Pondokku”. Menariknya, lagu ini mereka nyanyikan dalam 10 genre musik, antara lain terbangan, keroncong, langgam, rebana, gendang Jawa, reggae, pop, rock, akapela, danswing.
Cak Fuad juga tampil membawakan Syair Abu Nawas khas Gontor diiringi gamelan Kiai Kanjeng. Acara pun makin menarik dengan rentetan lagu-lagu aransemen khas Kiai Kanjeng.
Di tengah-tengah acara, putra bungsu K.H. Hasan Abdullah Sahal, Hamas Arfeddin Khosyatullah juga berkesempatan tampil membawakan puisi untuk ayahnya, berjudul “Puisi untuk Kiai”.
Tak hanya itu Cak Nun juga meminta seorang anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor yang sangat dikenalnya, yaitu K.H. Dawam Saleh, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Lamongan, untuk membacakan sebuah puisi karya Pak Dawam sendiri.
Acara pada malam hari itu berlangsung selama empat jam lebih, namun sangat menarik dan mendidik. Dalam penampilannya, Cak Nun berinteraksi aktif dengan para penonton melalui sejumlah pertanyaan yang ia lontarkan untuk mereka jawab.
Ada juga yang diminta menyanyikan lagu Islami kesukaan. Untuk ini, Cak Nun telah mempersiapkan 30 buah peci khas Kiai Kanjeng sebagai hadiah bagi mereka yang terlibat aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. [Muhammad Khaerul Muttaqien/DJ]




















