pesanan-majalah-edisi-khusus
28 °c
Pecenongan
Fri
Sat
Thursday, 3 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Cara Bijak di Dunia Maya Sesuai Petunjuk Al-Qur’an

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
13 May 2025
in Tafsir
0
Cara Bijak di Dunia Maya Sesuai Petunjuk Al-Qur’an

Dunia maya. (Foto: Pars Today)

Landasan Teologis

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat adzab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS An-Nur: 19)

Asbabun Nuzul

BACA JUGA

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Teguhkan Adab (Akhlak) untuk Masa Depan Pendidikan

Penegakan Hukum yang Adil: Wujudkan Keamanan dan Harmoni

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abul Yasar. Ayat ini turun berhubungan dengan fitnah yang dituduhkan kepada ‘Aisyah.

Rasulullah SAW akan mengundi istri-istrinya siapa yang akan diajak berperang, kebetulan ‘Aisyah terundi untuk dibawa. ‘Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas unta untuk kemudian berangkat. Setelah peperangan selesai, waktu pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam. ‘Aisyah turun dan pergi buang air. Ketika kembali ke tempatnya, ‘Aisyah meraba dadanya, ternyata kalungnya hilang, sehingga ia kembali ke tempat tadi untuk mencari kalung itu. Orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya. Mereka mengira bahwa ‘Aisyah ada di dalamnya, karena badannya enteng dan langsing, sehingga tidak begitu terasa bedanya tandu kosong dengan yang berisi.

Kalung itu ditemukannya kembali setelah pasukan Rasulullah berangkat, dan tak seorangpun yang masih ada di situ. ‘Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya. Ketika duduk di tempat istirahat tadi, ‘Aisyah mengantuk dan tertidur.

Kebetulah Shafwan bin al-Mu’aththal, yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan, pada pagi itu sampai di tempat pemberhentian ‘Aisyah. Shafwan melihat ada bayang-bayang hitam manusia. Ia dapat mengenali ‘Aisyah karena pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab. ‘Aisyah terbangun karena mendengar Shafwan mengucapkan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, ketika ia mendapatkannya. ‘Aisyah segera menutup muka dengan kerudungnya.

Ketika itu untanya disuruh berlutut agar ‘Aisyah dapat naik ke atasnya. Kemudian Shafwan menuntun unta tersebut sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di siang hari. Hal itulah yang terjadi pada diri ‘Aisyah. Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika sampai ke Madinah, ‘Aisyah menderita sakit selama satu bulan. Sementara orang-orang menyebarkan fitnah yang dibuat oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi ‘Aisyah sendiri tidak mengetahuinya. Setelah ‘Aisyah merasa sudah agak sembuh, ia memaksakan diri pergi buang air dibimbing Ummu Misthah. Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang sudah tersebar luas itu, sehingga bertambahlah penyakit ‘Aisyah.

Pada suatu hari Rasulullah datang kepadanya (beliau tidak seperti biasanya memperlakukan ‘Aisyah), dan karenanya ‘Aisyah meminta izin untuk pergi kepada ibu-bapaknya untuk meyakinkan kabar yang tersebar itu. Rasulullah mengizinkannya. ‘Aisyahpun menangis pada malam itu, sehingga pada pagi harinya air matanya tak henti-hentinya mengalir siang dan malam.

Pada suatu hari Rasulullah memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya, karena wahyu tidak kunjung turun. Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya, keluarga Rasul itu orang baik-baik.

Ketika itu datanglah Rasulullah SAW memberi salam, lalu duduk serta bersyahadat dan berkata: “Ammaa ba’du (apapun sesudah itu), hai ‘Aisyah. Sesungguhnya sudah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu. Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkan dirimu, dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada-Nya.

Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tak seorangpun penghuni rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada beliau. Tampak sekali Rasulullah kepayahan, sebagaimana biasa apabila beliau menerima wahyu. Setelah selesai menerima wahyu, kalimat pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Bergembiralah wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu.” Maka berkatalah ibunya kepada ‘Aisyah: “Bangunlah dan menghadap beliau. ‘Aisyah berkata: “Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatakan kesucianku.”

Interpretasi Para Mufasir

Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsir as-Sa’di menjelaskan bahwa orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar, yaitu perkara yang keji lagi buruk. Lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan adzab yang pedih, yaitu adzab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka.

Sedangkan dalam Tafsir Al-Muyassar disebutkan, sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan keji di tengah kaum Muslimin, berupa tuduhan zina atau perkataan yang buruk, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dengan dilaksanakannya hukum had (pidana) atas mereka dan musibah dunia lainnya yang akan menimpanya, dan di akhirat, bagi mereka siksaan neraka, bila mereka tidak bertobat kepada Allah. Dan Allah semata yang mengetahui kedustaan mereka, juga mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya dan kesudahan segala perkara, sedangkan kalian tidak mengetahui hal itu.

Adapun dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, setelah Allah memperingatkan orang-orang beriman agar tidak kembali ikut membicarakan berita bohong itu, kemudian Allah memperingatkan mereka dari perbuatan yang bisa jadi akan mereka lakukan di kemudian hari, yaitu dengan memperingatkan dari kegemaran menyebarkan perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman; maka orang-orang yang berusaha menyebarkan perbuatan zina dan menyebarkan berita dusta tentang zina di kalangan orang beriman maka bagi mereka hukuman qazaf (hukuman akibat menuduh orang lain berbuat zina) di dunia, sedangkan di akhirat mereka akan mendapatkan siksa neraka. Hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan rahasia-rahasia yang tersembunyi, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.

Nilai-Nilai Pedagogis

Etika Berkomunikasi di Dunia Maya. Ayat ini mengajarkan bahwa menyebarkan keburukan atau berita keji (fāḥishah) merupakan perbuatan tercela. Dalam konteks pendidikan, siswa harus dibimbing untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak menjadi penyebar informasi negatif, hoaks, atau fitnah. Ini menguatkan pentingnya pendidikan literasi digital yang beretika.

Menumbuhkan Tanggung Jawab Moral. Ayat ini menjadi dasar dalam membentuk karakter peserta didik agar menjauhi perilaku menyebarkan aib orang lain. Ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pentingnya pembentukan karakter yang berakhlak mulia.

Pencegahan Ujaran Kebencian. Secara implisit, ayat ini mengandung larangan terhadap perilaku yang serupa dengan praktik penyebaran pornografi dan ujaran kebencian. Dalam pendidikan, hal ini menjadi penting sebagai bagian dari perlindungan dan pembinaan siswa dalam kehidupan digital.

Kesadaran Ilahiah dalam Berperilaku. Pernyataan bahwa “Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui” mengandung pelajaran pedagogis bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk dalam dunia maya, harus dilandasi dengan kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui. Pendidikan Islam harus menumbuhkan kesadaran spiritual dan integritas pribadi.

Dunia Maya

“Dunia maya” berarti ruang atau lingkungan yang ada dalam jaringan komputer atau internet, yang tidak nyata secara fisik tetapi dapat diakses melalui perangkat elektronik. Dunia maya memberikan ruang yang sangat luas bagi kita untuk mengisinya dengan berbagai macam bentuk komunikasi canggih yang membuat semua orang lebih mudah untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman, kerabat atau kenalan baru. Teknologi informasi masa kini mengakibatkan hadirnya banyak apresiasi dan hujatan yang tidak jarang hadir dalam proporsi yang tidak berimbang.

Hujatan yang juga merupakan celaan atau bahkan hinaan kini dapat dengan sangat mudah kita temui berseliweran di dunia maya. Betapa tidak, setiap informasi hampir pasti bisa dihujat. Karena sekat keterbatasan media komunikasi yang menjadi sarana penting tersampaikannya celaan atau hujatan tersebut telah dipangkas habis oleh teknologi informasi masa kini.

Demikian kita harus bijak bermedia sosial sesuai dengan petunjuk dari Allah SWT yaitu Al-Qur’an.

Dunia maya (internet dan media sosial) telah menjadi ruang utama berinteraksi, mencari informasi, dan membentuk opini publik. Namun, ruang ini juga rentan terhadap penyalahgunaan, seperti penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, pornografi, dan pencemaran nama baik. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk bersikap bijak dan bertanggung jawab dalam beraktivitas di dunia maya, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam memberikan prinsip-prinsip etika komunikasi, kejujuran, verifikasi informasi (tabayyun), menjaga kehormatan orang lain, serta larangan menyebarkan aib dan keburukan. Ayat-ayat seperti QS An-Nur: 19, QS Al-Hujurat: 6, dan QS Qaf: 18 memberikan landasan kuat untuk membentuk akhlak digital Islami.

Janganlah kita lalai dalam kehidupan akhirat dan malah mengutamakan dunia yang sementara, sehingga mereka tidak memperhatikan apa yang mereka ucapkan dan tuliskan di media sosial yang menyebabkan mereka menyesal kelak di akhirat.

Allah SWT berfirman:

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS Ar-Rum: 7)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.”

Luapan emosi dalam bentuk menghujat, menghina atau apapun sejenis itu adalah naluri alami dari manusia, yang berasal dari hawa nafsu yang tercela yang kita diperintahkan untuk menahannya. Padahal tidak semua apa yang kita rasakan atau ketahui harus diungkapkan, karena ini juga ada hubungannya dengan kestabilan sosial.

Sebagaimana salah satu adab dalam berbicara yang disampaikan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hendaknya kita tidak membicarakan semua yang kita dengar. Artinya, tidaklah semua informasi atau keluh kesah serta ketidaksepakatan kita dalam suatu hal harus disampaikan, terlebih lagi disampaikannya tidak dalam koridor adab yang baik.

Di antara penyebab hujatan yang menjamur di dunia maya tersebut karena prasangka buruk yang kini hampir selalu dikedepankan. Tanpa waktu yang lama mereka melontarkan kata-kata yang buruk kepada orang yang mereka komentari sehingga menyakiti hati orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk merupakan sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Al-Bukhari, No. 6064 dan Muslim, No. 2563)

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang Mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”

Bakar bin Abdullah Al-Muzani mengatakan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut yaitu berprasangka buruk terhadap saudaramu.”

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti berkata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai.

Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”

Oleh karena itu, Nabi SAW memberikan penekanan pada umatnya agar mengfungsikan lisan dan tulisan diiringi dengan adab yang baik. Rasul SAW menganjurkan untuk berpikir dan menimbang lebih dulu sebelum mengatakan dan menuliskan sesuatu, agar lisan tidak memberikan dampak buruk pada pemiliknya di dunia dan di akhirat nanti.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ (رواه ابن حبان)

“Dari Isa bin Thalhah dari Abu Hurairah, ia mendengar sabda Rasulullah Saw.: ‘Sungguh (jika) seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikir terlebih dahulu, ia pun akan terlempar ke neraka (yang) jauhnya antara timur dan barat’.” (HR Ibnu Hibban)

Petunjuk Al-Qur’an

Berikut ini cara bijak di dunia maya sesuai petunjuk Al-Qur’an. Pertama, senantiasa berlatih untuk bertutur kata yang baik. Allah SWT berfirman:

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia.” (QS Al-Baqarah: 83)

Kedua, mengendalikan diri dengan memperhatikan semua perbuatan. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)

Ketiga, menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan dan menggunjing. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat: 12)

Keempat, bijak dalam konsumsi konten. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS Al-Baqarah: 168)

Kelima, hendaknya pembicaran selalu dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS An-Nisa’: 114)

Keenam, menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan yaitu (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS Al-Hujurat: 11)

Kisah Teladan

Abu Hurairah merupakan salah satu sahabat yang sangat terkenal karena banyaknya hadis yang beliau riwayatkan. Namun, Abu Hurairah juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga lisan dan berhati-hati dalam berkata. Kisah Sahabat tentang menjaga lisan dari Abu Hurairah ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam dalam mengendalikan perkataan.

Suatu ketika, Abu Hurairah mengatakan: “Saya tidak pernah berbicara kecuali jika saya yakin bahwa itu adalah kebaikan, dan saya akan lebih suka diam daripada mengatakan sesuatu yang sia-sia.”

Hal ini menunjukkan bagaimana Abu Hurairah sangat berhati-hati dalam berbicara. Beliau mengutamakan kualitas daripada kuantitas dalam berbicara. Kisah Sahabat tentang Menjaga Lisan ini mengingatkan kita untuk selalu berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu, memastikan bahwa kata-kata kita memberikan manfaat dan tidak menyakiti orang lain.

Selain itu, Abu Hurairah juga sangat menghindari berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Ia lebih memilih diam daripada terlibat dalam pembicaraan yang tidak membawa kebaikan. Ini contoh sempurna tentang bagaimana Kisah Sahabat tentang menjaga lisan mengajarkan kita untuk memilih kata-kata yang baik dan menghindari pembicaraan yang bisa menimbulkan dosa atau kerugian bagi orang lain.

Kisah lain datang dari Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat dikenal dengan sifatnya yang tegas dan adil. Namun, di balik ketegasannya, Umar juga sangat menjaga lisan. Kisah Sahabat tentang Menjaga Lisan dari Umar bin Khattab mengajarkan kita tentang bagaimana sikap hati-hati dalam berbicara bisa menciptakan kedamaian dan keadilan di tengah masyarakat.

Suatu ketika, Umar bin Khattab pernah berkata, “Aku sangat menyesal apabila aku berbicara sesuatu yang tidak perlu, dan aku selalu merasa lebih tenang ketika aku diam.” Umar menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki dampak yang besar, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Kisah sahabat tentang menjaga lisan ini mengajarkan kita untuk selalu merenung sebelum berbicara, agar tidak menimbulkan penyesalan atau dosa setelah perkataan tersebut terlontar.

Selain itu, Umar juga sangat memperhatikan lisan para pengikutnya. Ia pernah mengingatkan mereka untuk menjaga perkataan dalam setiap situasi. Dalam beberapa kesempatan, Umar memberikan nasihat kepada umat Islam bahwa lisan merupakan salah satu alat yang paling mudah digunakan untuk merusak amal dan membahayakan diri sendiri. Kisah sahabat tentang menjaga lisan dari Umar ini memberikan pelajaran bahwa keadilan dalam masyarakat dimulai dari keadilan dalam berbicara.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي ، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ

“Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi) []

Tags: Dunia mayaPetunjuk Al-Qur'anPrasangka buruk
Share18Tweet11Send
Previous Post

Akademi Guru Primago Tahun 2025, Peluang Alumni Muda Gontor Bergerak dan Mengajar di Bimbel PRIMAGO

Next Post

Kiai-Kiai Baru (Bagian Kedua)

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Kasih Sayang Rasulullah SAW kepada Umatnya

Kasih Sayang Rasulullah SAW kepada Umatnya

30 August 2026
Ketika Rhoma Irama ‘Hadir’ di Gontor

Ketika Rhoma Irama ‘Hadir’ di Gontor

29 August 2026
Wakil Bupati Lebak Hadiri Panggung Gembira Spektakuler Smart Generation 627 Darel Azhar

Wakil Bupati Lebak Hadiri Panggung Gembira Spektakuler Smart Generation 627 Darel Azhar

30 August 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

2 September 2026
Rumil Al-Hilya Gelar Kajian ‘Ketentuan dalam Harta Warisan’ Bersama Ustadzah Aini Aryani Lc

Rumil Al-Hilya Gelar Kajian ‘Ketentuan dalam Harta Warisan’ Bersama Ustadzah Aini Aryani Lc

0
BI-Kemenag-UNIDA Gontor Gelar Sekolah Wakaf

BI-Kemenag-UNIDA Gontor Gelar Sekolah Wakaf

0
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

0
UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

0
Tanamkan Disiplin Sejak Dini, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar Latihan PBB Bersama TNI

Tanamkan Disiplin Sejak Dini, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar Latihan PBB Bersama TNI

0
Rumil Al-Hilya Gelar Kajian ‘Ketentuan dalam Harta Warisan’ Bersama Ustadzah Aini Aryani Lc

Rumil Al-Hilya Gelar Kajian ‘Ketentuan dalam Harta Warisan’ Bersama Ustadzah Aini Aryani Lc

3 September 2026
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
BI-Kemenag-UNIDA Gontor Gelar Sekolah Wakaf

BI-Kemenag-UNIDA Gontor Gelar Sekolah Wakaf

3 September 2026
UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

2 September 2026
Tanamkan Disiplin Sejak Dini, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar Latihan PBB Bersama TNI

Tanamkan Disiplin Sejak Dini, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar Latihan PBB Bersama TNI

2 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo
  • Yang di Wakafkan Pondok Ini Bukan Harta Bendanya Saja, Bukan Gedungnya Saja, Bukan Tanahnya Saja, Tetapi Nilai-Nilai Yang Ada di Pondok Ini, Ide Yang Ada di Pondok Ini, Sistem Yang Ada di Pondok Ini Adalah Wakaf Bagi Kita Semua.KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.#gontornews #majalahgontor #gontor #pondokmoderngontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result