Ponorogo, Gontornews — Ada bermacam cara yang bisa ditempuh seorang hamba Allah untuk dapat memahami hakikat dari sebuah ibadah kepada Allah Taβala. Baik secara hikmatis (menembus pada titik hakikat dan makrifat/tidak masuk akal), maupun secara filosofis (melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia/masuk akal).
Jika kita sudah memahaminya dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalani ibadah kepada Allah SWT, maka in syaa Allah semua itu akan mengantarkan kita sampai pada derajat takwa dan akan mendapat imbalan dari-Nya.
Kepada Gontornews.com, Dr KH Ahmad Hidayatullah Zarkasyi MA menjelaskan cara agar istiqamah dalam beribadah dalam sebuah Kajian Ramadhan yang diadakan oleh Forum Mubaligh Alumni (FMA) Gontor. βKita harus belajar dari orang-orang shalih terdahulu yang telah mengamalkan ibadah maβqulat dan ghairu mahdhah dengan sungguh-sungguh, menikmati yang dianggap βanehβ oleh orang lain,β tekan sang kiai.
Mungkin ketika beribadah seperti berpuasa ia dibodoh-bodohkan orang, tapi hal itu tidak membuat semangatnya surut dan tetap fokus ibadah karena bukan untuk dipuji orang. Meski dicaci orang, tapi tetap semangat dan berusaha menata hati agar puasanya itu tetap diniatkan karena ingin taat kepada Allah.
Manusia itu apabila sudah percaya dan cinta, maka dia sanggup melaksanakan hal yang tidak masuk akal. Itu semua karena ada rasa khawatir akan kehilangan, diabaikan, atau diacuhkan. Mereka yang sudah merasa mendapatkan respons kecintaan dan keridhaan Allah akan kegiatannya, maka mereka justru akan ketagihan untuk terus melakukan kebaikan, meski dicaci.
Mengapa demikian, lanjut Ketua Senat Universitas Darussalam Gontor tersebut, karena mereka selalu menertibkan keimanannya, yakni iman akan keenam rukun iman.
βKita harus menjaga keimanan kita di mana pun berada untuk bisa istiqamah,β tekan Wakil Pengasuh Gontor Putri pertama ini. Jikalaupun saat beribadah (berpuasa) kita harus tetap bekerja, maka kerjakan kewajiban dunia dengan baik.
Maka, istiqamahlah dengan kekuatan iman dan ketakwaan. βSehingga kita bisa menunjukkan bahwa kita melaksanakan puasa tidak mengganggu pekerjaan-pekerjaan kita,β tutup putra KH Imam Zarkasyi, Trimurti Pendiri Gontor tersebut. [Edithya Miranti]






















