pesanan-baju-kaos
31 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 26 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Laput

Cegah Sekulerisme dengan Pendidikan Islam

Oleh Fathurroji

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
11 November 2021
in Laput
0
Foto: amaljariah.org

Keberadaan makhluk di seluruh alam semesta ini karena adanya Allah yang menciptakan. Melalui kalam Ilahi yang diutuskan kepada Rasulullah, umat manusia mendapatkan petunjuk Ilahi. Ada yang mengimani, ada juga yang mengufuri. Hadirnya agama Islam melalui wahyu-wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, menjadi petunjuk dan hidayah umat manusia dalam menjalankan kehidupannya di bumi ini. Maka, ironis ketika umat manusia, terutama Muslim yang masih menempatkan agama sebagai sesuatu yang terpisah dalam kehidupannya.

Menurut Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dr Adian Husaini memisahkan manusia dari aturan agama dan metafisika merupakan cara berfikir yang keliru. Orang yang memahami akal dan iman sebagai hubungan yang terpisah berarti telah terjebak dengan budaya Barat yang rusak.

Menurut Adian, akal dan nalar manusia salah satu bukti manusia sebagai makhluk mulia dan sempurna. Keduanya menjadi sarana untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah, bukan sebaliknya digunakan menggerus keyakinan dan fitrah manusia terhadap kebenaran agama Islam. Iman dan ilmu saling berhubungan dalam kesatuan integrasi yang mengokohkan satu dengan yang lain.

“Orang yang memiliki akal benar pasti menolak terhadap pemikiran sekulerisme ini. Karena, sekulerisme berusaha menjauhkan syariat dari berbagai aspek kehidupan umat Islam, dan menghilangkan nilai agama dari tubuh umat Islam,” jelasnya.

BACA JUGA

Jejak Pengusaha Alumni Gontor: Dari Dunia Usaha ke Pendidikan

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Guru Berperan Menanamkan Adab

Menjaga Fitrah dan Istiqamah Pasca-Ramadhan

Perintah Menjaga Lingkungan Hidup

Sebaliknya, bagi yang sudah teradvokasi oleh pemikiran sekulerisme, mereka beranggapan bahwa agama hanya mengekang kecerdasan akal dan kebebasan berpikir manusia. Mereka menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.

Bagi mereka agama hanyalah penghalang terhadap kemajuan. Ironisnya, ide-ide agama dianggap kolot dan bertentangan dengan pemikiran akal sehat. Alhasil, para penganut sekulerisme mengklaim peradaban mereka maju justru ketika telah meninggalkan Tuhan dan ajaran agama. “Inilah dampak paling berbahaya dari sekulerisasi ilmu yang sedang menimpa kehidupan kita. Adanya upaya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum lainnya,” ujarnya.

Dampaknya, tak sedikit yang menganggap ketika mengkaji ilmu kedokteran atau sains, misalnya, seolah tidak ada relevansinya dengan ajaran agama. Jikapun dihubungkan, maka terkadang yang terjadi ialah konten tersebut jauh dari agama.

“Ini merupakan tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam sekarang. Kita harus benar-benar mengenali musuh-musuh kita yang menyerang ajaran Islam agar kita bisa waspada dan tahu proyeksinya dalam mendestruktifkan ajaran Islam, seperti melalui penyebaran paham sekelar,” kata penulis buku Wajah Peradaban Barat itu.

Hal senada disampaikan pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations ( INSISTS), Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, yang menilai paham sekulerisme merupakan salah satu pemikiran yang berbahaya dalam kehidupan manusia. “Sekulerisme ini paham yang memisahkan agama dari politik, sains, akhirat dan di dalam kehidupan, orang-orang sekuler tidak lagi menganggap adanya ‘kesucian’,” ujar Ustadz Hamid dalam sebuah diskusi “Islamisasi Kampus” bersama Yayasan Abdurrab.

Padahal, tambah Hamid, kesucian itu sesuatu yang ada dan melekat dalam agama, sedangkan para pemikir sekuler menganggap agama tidak perlu disucikan dan dihormati. “Makanya, mereka berbicara soal Tuhan, Nabi dan kitab suci itu dengan pikiran sekuler mereka, ini yang saya rasa tidak pantas hidup di Indonesia, karena secara jelas sila pertama itu Ketuhanan yang Maha Esa, kalau dia tidak menghormati asas ketuhanan, maka ia tidak Pancasilais,” jelasnya.

Untuk menanggulangi bahaya pemikiran sekulerisme, Hamid menyebutkan dimulai dari memberi pemahaman tentang sekulerisme dan Islam kepada pelajar, agar pelajar tidak memahami Islam secara sekuler. “Islam itu agama yang memikirkan akhirat dan dunia, Islam juga menyatukan ibadah ritual dan sosial. Jadi, tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Kalau ada yang berpikir memisahkan Islam dari kehidupan, itu sangat bahaya,” jelasnya.

Hamid memaparkan, pemikiran sekulerisme merupakan perlawanan dari Islamisasi. Selain itu, sekulerisme tidak hanya membahayakan kehidupan tapi juga membahayakan cara berpikir. “Jadi, target kita mengubah pemikiran anak-anak muda yang sekuler menjadi lebih islami.”

Ustadz Bachtiar Nasir menambahkan, musuh terbesar umat Islam pada zaman ini ialah liberalisme dan sekulerisme. Sebab, liberalisme mengepung lini ekonomi, politik, dan akidah umat Islam. “Yang kita hadapi pertama sebenarnya liberalisme. Ini yang paling berbahaya. Lantas ada liberalisme agama. Kalau kita dihajar dengan ini, runtuhlah semua,” terangnya.

Selain liberalisme, Ustaz Bachtiar Nasir juga melihat sekulerisme sebagai musuh umat Islam dalam segi pemikiran. Sebab, paham itu kian menjauhkan sikap berbangsa dan bernegara secara Islami.

Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara memiliki sila-sila yang sejalan dengan Islam. Namun, sekulerisme membuat semua sila itu menyimpang dari pandangan Islam dan cenderung membahayakan persatuan Indonesia.

Misalnya, sila pertama, ‘Ketuhanan yang maha esa.’ Menurut Ustadz Bachtiar, kalangan sekuler hanya ingin ungkapan ‘Ketuhanan” saja. Sehingga, apa pun Tuhan yang disembah, mesti diakui oleh negara sebagai agama resmi. Dalam pandangan Ustadz Bachtiar, Indonesia bisa runtuh karenanya.

Demikian pula sila kedua Pancasila. Ungkapan ‘Yang adil dan beradab’ ingin dihilangkan, sehingga tersisa ‘kemanusiaan’ saja. Bagi para pendukung sekulerisme, ini menjadi peluang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) dalam tafsiran sekuler. “Akhirnya, muncul kelompok homoseksual itu, yang meminta agar dibenarkan adanya jenis kelamin ketiga di Indonesia. Meminta pula, RUU Kesetaraan Gender. Ini kacau semua pemikirannya,” terangnya.

Dalam pendidikan, paham sekulerisme sangat berbahaya untuk keberlangsungan anak didik ke depan. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Henri Shalahuddin MIRKH dalam sebuah wawancara dengan Majalah Gontor.

Henri menegaskan, pendidikan sekuler menghambat munculnya murid-murid berpredikat insan kamil. Pendidikan sekuler membentuk manusia-manusia dengan pola pikir sektoral. Ini berbeda dengan pendidikan di zaman kejayaan Islam. Saat itu banyak lahir ulama yang menguasai disiplin keilmuan lebih dari satu bidang. “Ulama-ulama terdahulu tidak ada yang sektoral. Meskipun mereka pakar ilmu falak atau astronomi mereka juga seorang mufassir sekaligus seorang dokter, ahli di bidang matematika, dan sebagainya,” paparnya.

Henri menjelaskan, pendidikan sekuler memisahkan antara prinsip-prinsip materialistik dan spiritual. Pendidikan sekuler biasanya memisahkan antara masalah-masalah rūhiyyah karena bagi sekulerisme itu aspek yang terlihat itulah yang dipentingkan, yang di sini dan sekarang. “Yang nanti, terkait masalah akhirat dan di sana, bukan urusan dia. Bagi mereka yang di sini dan sekarang itu ukurannya adalah yang terukur, yang sangat empirik sekali,” paparnya.

Dalam konteks sekuler, mempelajari matematika, fisika dan biologi sangat terbatas dan tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain. Contoh, dalam mempelajari organ binatang, pendidikan sekuler tidak akan membahas organ binatang dan kaitannya dengan keimanan, ketaqwaan dan penciptaan. Sedangkan Islam mengharuskan iman didasarkan pada ilmu, dan ilmu harus menguatkan iman seseorang.

Maka jika Anda belajar biologi dan Anda semakin mengingkari Tuhan, maka ilmu Anda tidak bermanfaat. Tapi kalau kita mempelajari biologi lalu membaca Al-Qur’an dan semakin yakin dengan kebenarannya, maka itu jadi hal yang sangat luar biasa. “Berarti ini pendidikan yang benar. Manizdāda ‘ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallāhi illā bu’dan,” tuturnya.

Jika paham sekulerisme ini menancap kepada siswa dalam belajar, maka murid tidak akan pernah menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna. Sempurna dalam hal ini adalah kemampuan manusia memahami apa saja yang dipelajari dari fisik dan psikis, antara jasad dan jiwa.

Sementara itu, Ahmad Khalili Hasib MA, Divisi Pemikiran Islam Institute Pemikiran dan Peradaban Islam (INPAS), dalam tulisannya mengajak umat Islam untuk mewaspadai sekulerisme. Sebab, saat ini muncul sarjana-sarjana Muslim yang mengkaji al-Qur’an dan hadis dengan framework sekuler. Hal ini merupakan kekeliruan yang serius yang diakibatkan oleh sekulerisme sebagai paham filsafat diterima dengan lapang dada di perguruan tinggi Islam.

Akibat dari kajian Al-Qur’an dan hadis dengan kerangka berpikir sekuler itu maka lahir pemikiran aneh yang jauh dari agama dan nilai-nilai etika bangsa dari kalangan lembaga Islam sendiri. “Maka kita harus mengoreksi diri, bagaimana bisa seorang sarjana membolehkan kawin sesama jenis, mencampuradukkan ajaran-ajaran agama, dan lain-lain,” jelasnya.

Karena itu jalan keluar atas kemelut gerakan sekulerisasi ini ialah kembali dan melanjutkan pendidikan Rasulullah SAW, mengamalkan pendidikan golongan dewasa. Para sahabat Nabi itu dididik dengan cara dan level yang tinggi. “Agar umat Islam tidak kalah dengan sekulerisme ialah menyelenggarakan pendidikan tinggi, mendidik golongan manusia dewasa dan membangun perguruan tinggi berkualitas yang penyelenggaraan pendidikannya berdasarkan worldview Islam,” jelasnya.

Khalili menegaskan, pendidikan pesantren merupakan harapan besar umat Islam. Khususnya di Indonesia. Melalui saluran pendidikan model inilah kemelut umat Islam akan tertangani dengan baik. Sehingga, umat Islam harus fokus, berkenan untuk serius bersama-sama membina pendidikan tinggi dan pesantren yang berkualitas. []

 

Tags: Sekulerisme
Share484Tweet303Send
Previous Post

Dewan Keamanan PBB Beri Sanksi kepada Tiga Pemimpin Houthi

Next Post

PM Palestina Berharap Konsulat AS Dibuka Kembali di Yerusalem

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
al amien prenduan

Keluarga KH Moh. Tidjani Djauhari Terima ‘100th Gontor Awards’ di Peringatan Satu Abad Gontor

22 September 2026
Pimpinan Gontor dari Masa ke Masa

Pimpinan Gontor dari Masa ke Masa

23 October 2020
100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

25 September 2026
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

17 September 2026
Sosiologi Ketahanan Gontor

Sosiologi Ketahanan Gontor

24 September 2026
Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

0
100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

0
Di Bawah Asuhan Gontor

Di Bawah Asuhan Gontor

0
Kontingen Terbaik: PKBM Primago Indonesia Bawa Pulang 4 Piala di Ajang Gema Tunas PKBM V Se-Jawa Barat Tahun 2026

Kontingen Terbaik: PKBM Primago Indonesia Bawa Pulang 4 Piala di Ajang Gema Tunas PKBM V Se-Jawa Barat Tahun 2026

0
YMIP Serahkan Wakaf 115 Sepeda dan 50 Juta kepada Gontor

YMIP Serahkan Wakaf 115 Sepeda dan 50 Juta kepada Gontor

0
100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

25 September 2026
Di Bawah Asuhan Gontor

Di Bawah Asuhan Gontor

25 September 2026
Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

25 September 2026
Kontingen Terbaik: PKBM Primago Indonesia Bawa Pulang 4 Piala di Ajang Gema Tunas PKBM V Se-Jawa Barat Tahun 2026

Kontingen Terbaik: PKBM Primago Indonesia Bawa Pulang 4 Piala di Ajang Gema Tunas PKBM V Se-Jawa Barat Tahun 2026

24 September 2026
Sosiologi Ketahanan Gontor

Sosiologi Ketahanan Gontor

24 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result