Keberadaan makhluk di seluruh alam semesta ini karena adanya Allah yang menciptakan. Melalui kalam Ilahi yang diutuskan kepada Rasulullah, umat manusia mendapatkan petunjuk Ilahi. Ada yang mengimani, ada juga yang mengufuri. Hadirnya agama Islam melalui wahyu-wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, menjadi petunjuk dan hidayah umat manusia dalam menjalankan kehidupannya di bumi ini. Maka, ironis ketika umat manusia, terutama Muslim yang masih menempatkan agama sebagai sesuatu yang terpisah dalam kehidupannya.
Menurut Ketua Dewan Daβwah Islamiyah Indonesia Dr Adian Husaini memisahkan manusia dari aturan agama dan metafisika merupakan cara berfikir yang keliru. Orang yang memahami akal dan iman sebagai hubungan yang terpisah berarti telah terjebak dengan budaya Barat yang rusak.
Menurut Adian, akal dan nalar manusia salah satu bukti manusia sebagai makhluk mulia dan sempurna. Keduanya menjadi sarana untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah, bukan sebaliknya digunakan menggerus keyakinan dan fitrah manusia terhadap kebenaran agama Islam. Iman dan ilmu saling berhubungan dalam kesatuan integrasi yang mengokohkan satu dengan yang lain.
βOrang yang memiliki akal benar pasti menolak terhadap pemikiran sekulerisme ini. Karena, sekulerisme berusaha menjauhkan syariat dari berbagai aspek kehidupan umat Islam, dan menghilangkan nilai agama dari tubuh umat Islam,β jelasnya.
Sebaliknya, bagi yang sudah teradvokasi oleh pemikiran sekulerisme, mereka beranggapan bahwa agama hanya mengekang kecerdasan akal dan kebebasan berpikir manusia. Mereka menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.
Bagi mereka agama hanyalah penghalang terhadap kemajuan. Ironisnya, ide-ide agama dianggap kolot dan bertentangan dengan pemikiran akal sehat. Alhasil, para penganut sekulerisme mengklaim peradaban mereka maju justru ketika telah meninggalkan Tuhan dan ajaran agama. βInilah dampak paling berbahaya dari sekulerisasi ilmu yang sedang menimpa kehidupan kita. Adanya upaya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum lainnya,β ujarnya.
Dampaknya, tak sedikit yang menganggap ketika mengkaji ilmu kedokteran atau sains, misalnya, seolah tidak ada relevansinya dengan ajaran agama. Jikapun dihubungkan, maka terkadang yang terjadi ialah konten tersebut jauh dari agama.
βIni merupakan tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam sekarang. Kita harus benar-benar mengenali musuh-musuh kita yang menyerang ajaran Islam agar kita bisa waspada dan tahu proyeksinya dalam mendestruktifkan ajaran Islam, seperti melalui penyebaran paham sekelar,β kata penulis buku Wajah Peradaban Barat itu.
Hal senada disampaikan pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations ( INSISTS), Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, yang menilai paham sekulerisme merupakan salah satu pemikiran yang berbahaya dalam kehidupan manusia. “Sekulerisme ini paham yang memisahkan agama dari politik, sains, akhirat dan di dalam kehidupan, orang-orang sekuler tidak lagi menganggap adanya ‘kesucian’,” ujar Ustadz Hamid dalam sebuah diskusi βIslamisasi Kampusβ bersama Yayasan Abdurrab.
Padahal, tambah Hamid, kesucian itu sesuatu yang ada dan melekat dalam agama, sedangkan para pemikir sekuler menganggap agama tidak perlu disucikan dan dihormati. “Makanya, mereka berbicara soal Tuhan, Nabi dan kitab suci itu dengan pikiran sekuler mereka, ini yang saya rasa tidak pantas hidup di Indonesia, karena secara jelas sila pertama itu Ketuhanan yang Maha Esa, kalau dia tidak menghormati asas ketuhanan, maka ia tidak Pancasilais,” jelasnya.
Untuk menanggulangi bahaya pemikiran sekulerisme, Hamid menyebutkan dimulai dari memberi pemahaman tentang sekulerisme dan Islam kepada pelajar, agar pelajar tidak memahami Islam secara sekuler. “Islam itu agama yang memikirkan akhirat dan dunia, Islam juga menyatukan ibadah ritual dan sosial. Jadi, tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Kalau ada yang berpikir memisahkan Islam dari kehidupan, itu sangat bahaya,” jelasnya.
Hamid memaparkan, pemikiran sekulerisme merupakan perlawanan dari Islamisasi. Selain itu, sekulerisme tidak hanya membahayakan kehidupan tapi juga membahayakan cara berpikir. “Jadi, target kita mengubah pemikiran anak-anak muda yang sekuler menjadi lebih islami.”
Ustadz Bachtiar Nasir menambahkan, musuh terbesar umat Islam pada zaman ini ialah liberalisme dan sekulerisme. Sebab, liberalisme mengepung lini ekonomi, politik, dan akidah umat Islam. βYang kita hadapi pertama sebenarnya liberalisme. Ini yang paling berbahaya. Lantas ada liberalisme agama. Kalau kita dihajar dengan ini, runtuhlah semua,β terangnya.
Selain liberalisme, Ustaz Bachtiar Nasir juga melihat sekulerisme sebagai musuh umat Islam dalam segi pemikiran. Sebab, paham itu kian menjauhkan sikap berbangsa dan bernegara secara Islami.
Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara memiliki sila-sila yang sejalan dengan Islam. Namun, sekulerisme membuat semua sila itu menyimpang dari pandangan Islam dan cenderung membahayakan persatuan Indonesia.
Misalnya, sila pertama, βKetuhanan yang maha esa.β Menurut Ustadz Bachtiar, kalangan sekuler hanya ingin ungkapan βKetuhananβ saja. Sehingga, apa pun Tuhan yang disembah, mesti diakui oleh negara sebagai agama resmi. Dalam pandangan Ustadz Bachtiar, Indonesia bisa runtuh karenanya.
Demikian pula sila kedua Pancasila. Ungkapan βYang adil dan beradabβ ingin dihilangkan, sehingga tersisa βkemanusiaanβ saja. Bagi para pendukung sekulerisme, ini menjadi peluang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) dalam tafsiran sekuler. βAkhirnya, muncul kelompok homoseksual itu, yang meminta agar dibenarkan adanya jenis kelamin ketiga di Indonesia. Meminta pula, RUU Kesetaraan Gender. Ini kacau semua pemikirannya,β terangnya.
Dalam pendidikan, paham sekulerisme sangat berbahaya untuk keberlangsungan anak didik ke depan. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Henri Shalahuddin MIRKH dalam sebuah wawancara dengan Majalah Gontor.
Henri menegaskan, pendidikan sekuler menghambat munculnya murid-murid berpredikat insan kamil. Pendidikan sekuler membentuk manusia-manusia dengan pola pikir sektoral. Ini berbeda dengan pendidikan di zaman kejayaan Islam. Saat itu banyak lahir ulama yang menguasai disiplin keilmuan lebih dari satu bidang. βUlama-ulama terdahulu tidak ada yang sektoral. Meskipun mereka pakar ilmu falak atau astronomi mereka juga seorang mufassir sekaligus seorang dokter, ahli di bidang matematika, dan sebagainya,β paparnya.
Henri menjelaskan, pendidikan sekuler memisahkan antara prinsip-prinsip materialistik dan spiritual. Pendidikan sekuler biasanya memisahkan antara masalah-masalah rΕ«hiyyah karena bagi sekulerisme itu aspek yang terlihat itulah yang dipentingkan, yang di sini dan sekarang. βYang nanti, terkait masalah akhirat dan di sana, bukan urusan dia. Bagi mereka yang di sini dan sekarang itu ukurannya adalah yang terukur, yang sangat empirik sekali,β paparnya.
Dalam konteks sekuler, mempelajari matematika, fisika dan biologi sangat terbatas dan tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain. Contoh, dalam mempelajari organ binatang, pendidikan sekuler tidak akan membahas organ binatang dan kaitannya dengan keimanan, ketaqwaan dan penciptaan. Sedangkan Islam mengharuskan iman didasarkan pada ilmu, dan ilmu harus menguatkan iman seseorang.
Maka jika Anda belajar biologi dan Anda semakin mengingkari Tuhan, maka ilmu Anda tidak bermanfaat. Tapi kalau kita mempelajari biologi lalu membaca Al-Qurβan dan semakin yakin dengan kebenarannya, maka itu jadi hal yang sangat luar biasa. βBerarti ini pendidikan yang benar. ManizdΔda βilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallΔhi illΔ buβdan,β tuturnya.
Jika paham sekulerisme ini menancap kepada siswa dalam belajar, maka murid tidak akan pernah menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna. Sempurna dalam hal ini adalah kemampuan manusia memahami apa saja yang dipelajari dari fisik dan psikis, antara jasad dan jiwa.
Sementara itu, Ahmad Khalili Hasib MA, Divisi Pemikiran Islam Institute Pemikiran dan Peradaban Islam (INPAS), dalam tulisannya mengajak umat Islam untuk mewaspadai sekulerisme. Sebab, saat ini muncul sarjana-sarjana Muslim yang mengkaji al-Qurβan dan hadis dengan framework sekuler. Hal ini merupakan kekeliruan yang serius yang diakibatkan oleh sekulerisme sebagai paham filsafat diterima dengan lapang dada di perguruan tinggi Islam.
Akibat dari kajian Al-Qurβan dan hadis dengan kerangka berpikir sekuler itu maka lahir pemikiran aneh yang jauh dari agama dan nilai-nilai etika bangsa dari kalangan lembaga Islam sendiri. βMaka kita harus mengoreksi diri, bagaimana bisa seorang sarjana membolehkan kawin sesama jenis, mencampuradukkan ajaran-ajaran agama, dan lain-lain,β jelasnya.
Karena itu jalan keluar atas kemelut gerakan sekulerisasi ini ialah kembali dan melanjutkan pendidikan Rasulullah SAW, mengamalkan pendidikan golongan dewasa. Para sahabat Nabi itu dididik dengan cara dan level yang tinggi. βAgar umat Islam tidak kalah dengan sekulerisme ialah menyelenggarakan pendidikan tinggi, mendidik golongan manusia dewasa dan membangun perguruan tinggi berkualitas yang penyelenggaraan pendidikannya berdasarkan worldview Islam,β jelasnya.
Khalili menegaskan, pendidikan pesantren merupakan harapan besar umat Islam. Khususnya di Indonesia. Melalui saluran pendidikan model inilah kemelut umat Islam akan tertangani dengan baik. Sehingga, umat Islam harus fokus, berkenan untuk serius bersama-sama membina pendidikan tinggi dan pesantren yang berkualitas. []





















