Jakarta, Gontornews — Media lokal Singapura, Channel News Asia (CNA), menyoroti laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) perihal tingginya limbah makanan di Indonesia yang merugikan negara hingga 14-40 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun.
Dalam laporannya, CNA mengutip data dari Badan Lingkungan Hidup Jakarta, mencatatkan bahwa Ibukota Indonesia itu menghasilkan lebih dari 7500 ton sampah per hari. Dari ribuan ton sampah yang masuk ke tempat penampungan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, 50 persennya berasal dari sisa makanan.
Bappenas pun mencatat dalam 20 tahun (periode 2000-2019) terakhir ada sekitar 23 hingga 48 juta metrik ton makanan yang dibuat setiap tahun. Artinya, laporan tersebut juga mencatat ada 115 hingga 184 kilometer sampah makanan per kapita setiap tahun.
“Tantangan terbesar adalah dengan meyakinkan dan mendorong banyak pihak untuk terlibat dalam hal ini. Karena ketika mereka diminta untuk menyumbangkan makanan, terutama makanan yang bisa dimakan, mereka terkadang khawatir,” ungkap Manajer Umum FoodCycle Indonesia, Cogito Ergo Sumandi Rasan.
“Perusahaan khawatir merek dagang mereka akan terkena dampak negatif jika memberikan makanan yang menurut mereka tidak dapat dimakan, meski masih sangat aman untuk dimakan,” sambung Sumandi.
Sebagai catatan, Organisasi FoodCycle Indonesia memberikan solusi dengan membuat bank makanan. Program tersebut memungkinkan mereka untuk mendistribusikan makanan berlebih dari pesta pernikahan, toko roti, makan siang perusahaan dan supermarket kepada yang membutuhkan. Setiap tahun, FoodCycle Indonesia mendistribusikan makanan ke sekitar 120.000 orang setiap tahun.
Salah satu perusahaan makanan siap saji yang mengambil bagian dari penyelesaian isu ini adalah McDonald. Direktur Komunikasi McDonald Indonesia, Sutji Lantyka, menjelaskan bahwa pihaknya akan membuang makanan yang terpajang jika telah melewati masa waktu penyimpanan. Demi mengurangi limbah makanan, McDonald Indonesia mengirimkan barang-barang seperti muffin dan ayam goreng dua hari sekali untuk disumbangkan melalui FoodCycle Indonesia.
“Kemudian kami putuskan (untuk menyumbangkan makanan sisa), setelah hasilnya positif dan makanan tersebut (dinyatakan) masih memiliki gizi yang baik,” kata Sutji.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Asep Kuswanto, mengapresiasi kolaborasi McDonald Indonesia dan FoodCycle meskipun ada banyak cara untuk mengurangi limbah makanan.
“Nanti, akan ada LSM dan rekan-rekan dari LSM lain yang paling tidak dapat membantu menyelamatkan sektor pangan. Sisa nasi putih yang akan dioleh menjadi nasi goreng yang nantinya bisa dibagikan ke berbagai yayasan atau kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Asep. [Mohamad Deny Irawan]






















