London, Gontornews — Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Selasa (13/9/2022), memperingatkan bahwa efek perubahan iklim mengarah kepada sesuatu yang belum pernah terbayangkan. Pernyataan ini terlontar saat organisasi meteorologi dunia, World Meteorological Organization (WMO) merilis laporan tahunannya terkait perubahan iklim.
Dengan konsentrasi gas rumah kaca yang terus meningkat di atmosfer, WMO menganggap para pemimpin dunia gagal mengadopsi strategi penahanan pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celcius. Akibatnya, bumi berada dalam situasi kritis dengan kondisi iklim yang berbahaya. Bukan hanya itu, sejumlah peristiwa ekstrem lebih sering dan intens terjadi.
“Gelombang panas di Eropa dan banjir di Pakistan. Tidak ada (negara) yang mengalami skala baru bencana ini,” kata Guterres sebagaimana dilansir Reuters.
Meskipun ada penurunan emisi selama penguncian akibat virus korona, emisi pemanasan global telah melonjak melampaui tingkat sebelum pandemi. Data awal mengungkap emisi karbon dioksida global pada paruh pertama tahun 2022 mencapai 1,2 persen lebih tinggi dari pada periode yang sama pada tahun 2019.
Suhu rata-rata global menghangat 1,1 derajat Celcius di atas rata-rata pra industri. Para ilmuwan memperkirakan suhu rata-rata tahunan bisa saja berada di kisaran 1,1 hingga 1,7 derajat Celcius pada 2026 mendatang. Artinya, kenaikan ini melampaui kesepakatan batas pemanasan global yang berada di angka 1,5 derajat Celcius.
Tanpa pendekatan iklim agresif, para ilmuwan memprediksi pemanasan global akan meningkat hingga 2,8 derajat Celcius pada akhir abad ini. Meski belum mencapai tingkat tersebut, faktanya dunia sedang melewati dampak kritis terhadap perubahan iklim.
Sebut saja arus laut yang memindahkan panas dari daerah tropis ke belahan bumi utara tercatat sebagai yang terlambat dalam 1000 tahun terakhir. Kondisi ini tentu saja membahayakan pola cuaca bersejarah. Kini hampir separuh populasi dunia rentan mengalami dampak perubahan iklim seperti banjir, gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan hingga badai.
Untuk membantu masyarakat dalam mengatasi dampak perubahan iklim, WMO telah berjanji untuk menempatkan setiap orang di bawah sistem perlindungan sistem peringatan dini dalam lima tahun ke depan. [Mohamad Deny Irawan]




















