Montreal, Gontornews — Negara-negara dunia sepakat untuk melindungi sepertiga wilayah untuk melindungi alam pada tahun 2030 mendatang. Kesepakatan ini penting karena bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang terancam punah. Selain itu, kesepakatan ini juga menargetkan perlindungan ekosistem vital dunia seperti hutan hujan, lahan basah hingga hak-hak masyarakat adat.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memuji empat poin hasil pertemuan negara-negara bertajuk UN Biodiversity Conference 2022 di Montreal, Kanada, 7-19 Desember 2022 tersebut. “Akhirnya, kami mulai membuat pakta perdamaian dengan alam,” kata Guterres sebagaimana dilansir BBC.
Keempat poin yang Guterres maksud yakni: pertama, Memelihara, meningkatkan dan memulihkan ekosistem termasuk menghentikan kepunahan spesies dan menjaga keanekaragaman genetik; Kedua, Pemanfaatan berkelanjutan dari keanekaragaman hayati, pada dasarnya, memastikan bahwa spesies dan habitat dapat memberikan layanan yang mereka berikan kepada umat manusia seperti makanan dan air bersih.
Ketiga, memastikan bahwa manfaat sumber daya dari alam seperti obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan terbagi secara adil, merata dan hak-hak masyarakat terlindungi; Keempat, Membayar dan mendukung sumber daya ke dalam keanekaragaman hayati serta memastikan ketersediaan dana dan kebutuhan lokasi konservasi.
“Ini benar-benar momen yang menandai sejarah seperti yang dilakukan (KTT) Iklim di Paris,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Kanada, Steven Guilbeault, kepada BBC. Ia menjelaskan bahwa KTT Iklim Paris membuat negara-negara bersepakat untuk menjaga kenaikan suhu dunia berada di bawah 2 derajat Celcius.
Sementara itu, sejumlah pihak menjelaskan bahwa pertemuan di Montreal merupakan bagian dari kesempatan terakhir dunia untuk memulihkan alam. Salah satu poin perdebatan dalam pertemuan ini adalah seputar mendanai upaya konservasi di bagian dunia penyedia keanekaragaman hayati dunia paling menonjol.
Keanekaragaman hayati mengacu pada semua makhluk hidup di bumi dan cara mereka terhubung dalam jaringan kehidupan yang kompleks sebagai penopang planet ini.
Presiden COP15, Huang Runqui, menyatakan kesepakatan ini telah mendapatkan persetujuan dari negara-negara kecuali keberatan dari Republik Demokratik Kongo.
Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa hilangnya hutan dan padang rumput pada tingkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya serta tekanan polusi di bawah laut yang manusia lakukan telah menyebabkan bumi melampaui batas amannya. Salah satunya adalah meningkatnya risiko penyakit seperti SAR CoV-2, Ebola dan HIV yang menyebar dari hewan liar ke manusia. [Mohamad Deny Irawan]




















