Beijing, Gontornews — Sejumlah sekolah di beberapa distrik di Beijing terpaksa menggunakan pembelajaran online dan meniadakan pembelajaran tatap muka seiring semakin meningkatkan penularan Covid-19.
Sebagai informasi, pemerintah Cina sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara bagian seperti Zhengzhou di Provinsi Henan Tengah hingga Chongqing di Barat Daya. Pada Ahad (20/11/2022), pemerintah melaporkan penambahan 26.824 kasus lokal baru yang terus mendekati puncak Covid-19 pada bulan April lalu. Tidak hanya itu, pemerintah Cina, Sabtu (20/11/2022) juga melaporkan dua kematian akibat Covid-19 dalam periode yang sama.
Pemerintah Guanghzhou misalnya memerintahkan penguncian lima hari untuk wilayah Baiyun seiring peningkatan kasus Covid-19 secara masif. Penguncian ini juga menangguhkan layanan makan di tempat serta menutup klub malam serta teater di Tianhe yang selama ini menjadi pusat bisnis utama kota.
Gelombang terbaru Covid-19 sedang menguji keteguhan Cina dalam menerapkan penyesuaian kebijakan zero Covid-19. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah menyerukan kota-kota untuk melakukan tindakan ketat serta menghindar dari penguncian total yang merusak ekonomi serta membuat frustrasi penduduk.
Beberapa kota di Cina mulai menghentikan pengujian rutin seperti di Shijiazhuang yang ditetapkan sebagai lokasi uji coba relaksasi kebijakan. Namun, pengujian masal di Shijiazhuang dalam lima hari terakhir menunjukkan peningkatan kasus hingga 641 kasus lokal. Warga pun memutuskan untuk berbelanja secara daring serta menutup pembelajaran tatap muka di sekolah.
Sementara itu, ibu kota Beijing melaporkan 962 kasus baru, atau naik 621 kasus dari sehari sebelumnya. Sedangkan wilayah Chaoyang mendesak warga untuk tetap tinggal di rumah dan menetapkan pembelajaran daring. Beberapa sekolah di Haidan, Dongcheng dan Xicheng juga menerapkan kebijakan serupa dengan menghentikan pengajaran tatap muka. [Mohamad Deny Irawan]



















