Auckland, Gontornews — Sebuah bencana dahsyat terjadi di Samudera Pasifik, Senin (17/1/2022), saat Gunung Api bawah laut Tonga meletus. Sejumlah pakar menjelaskan dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan letusan tersebut mulai dari rusaknya terumbu karang, mengikis garis pantai, merusak ekosistem perikanan hingga bencana alam. Simak ulasan yang berhasil dirangkum Reuters:
Hujan Asam
Dengan iklim tropis di sekitar Tonga, pakar vulkanologi dari University of Auckland Australia, Shane Cronin, mempredisi turunnya hujan asam di sekitar wilayah letusan. Hujan asam ini menyebabkan kerusakan tanaman secara meluas dan dapat merusak pasokan bahan makanan pokok masyarakat Tonga seperti talas, jagung, pisang dan sayuran.
“Kemungkinan akan ada hujan asam di sekitar Tonga untuk sementara waktu,” kata Cronin sebagaimana dilansir Reuters.
“(Situasi ini) bergantung pada seberapa lama letusan berlangsung, ketahanan pangan dapat dikompromikan,” sambung Cronin.
Dalam sebuah buletin pada hari Senin, kantor urusan kemanusiaan PBB mengatakan pemerintah kepulauan Fiji sedang memantau kualitas udaranya. Pemerintah Fiji menyarankan warga untuk menutupi pasokan tangki air rumah tangga dan tetap tinggal di rumah saat hujan turun.
Kematian Ikan
Zona ekonomi eksklusif Tonga memiliki luas hampir 700.000 km persegi laut atau lebih besar 1000 kali dari luas daratannya. Kebanyakan masyarakat Tonga menggantungkan mata pencahariannya dari laut.
Pakar geologi asal Universitas Otago Selandia Baru, Marco Brenna, menjelaskan bahwa abu vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Tonga dapat membahayakan kehidupan laut. Brenna memperingatkan bahwa air laut yang terkontaminasi abu vulkanik sangat beracun. Akibatnya, para nelayan harus berhati-hati karena ikan-ikan yang berada di wilayah yang terkontaminasi abu vulkanik juga ikut beracun.
Sejauh ini, para peneliti menemukan bahwa kondisi perairan di sekitar letusan semakin memburuk. Air keruh akibat terkontaminasi abu vulkanik telah menghilangkan pasokan makanan bagi ikan. Beberapa ikan berpotensi mati atau terpaksa bermigrasi agar dapat selamat. Dalam jangka panjang, perubahan dalam struktur dasar laut dapat menciptakan hambatan baru bagi kapal penangkap ikan.
“Ini akan memakan waktu cukup lama sebelum daerah penangkapan ikan pulih,” kata Brenna.
Kerusakan Terumbu Karang
Selain meracuni atau mematikan ikan, air laut yang terkontaminasi abu vulkanik juga berpotensi merusak terumbu karang Tonga. Abu vulkanik yang mengontaminasi air laut memperkuat pemutihan karang dan siklon yang semakin kuat karena dampak perubahan iklim.
“Area terumbu karang yang luas, daerah yang terkena dampak langsung di Hunga Tonga mungkin terkubur dan tertutup oleh endapan abu vulkanik yang besar,” kata ahli biologi kelautan di University of Guam, Tom Schils.
Menurutnya, letusan gunung api Tonga juga melepaskan lebih banyak zat besi ke dalam air yang menyebabkan pertumbuhan ganggang biru dan bunga karang yang merusak terumbu. Karena itu, pakar ekologi terumbu karang Scripps Institution of Oceanography, Brian Zgliczynski, menyebut bahwa proses penumbuhan terumbu karang membutuhkan waktu selama bertahun-tahun.
“Spesies yang lebih toleran terhadap kualitas air yang buruk akan datang lebih dulu,” kata Zgliczynski.
Garis Pantai Terkikis
Hilangnya terumbu karang juga akan mempengaruhi Tonga untuk mengatasi kenaikan air dan gelombang badai. Perubahan iklim di Tonga mendorong kenaikan permukaan air laut sekitar 6 milimeter per tahun.
Dalam laporan tahun 2015, Tonga menaksir penahan badai alami seperti terumbu karang, lamun pesisir dan bakau senilai 11 juta Dolar Amerika Serikat. Dengan letusan baru, pengukur permukaan laut Tonga mencatatkan gelombang tsunami setinggi 1,19 meter.
Tsunami menyebabkan erosi pantai dengan cepat. Sebelum sistem komunikasi mati, sebuah video mengungkap kerusakan tembok laut buatan manusia pascatsunami.
“Pertahanan pantai dan tanah reklamasi bisa terkena dampak kuat oleh gelombang tsunami membuat pulau-pulau lebih rentan,” tutup Cronin. [Mohamad Deny Irawan]




















