Lima, Gontornews — Ribuan orang yang melarikan diri dari krisis ekonomi Venezuela yang semakin parah bergegas menuju perbatasan Peru sebelum negeri itu memberlakukan aturan baru yang memperketat masuk ke negara itu.
Mulai pukul 05:00 GMT pada hari Sabtu (25/8), warga Venezuela diminta untuk menunjukkan paspor yang sah dan bukan kartu tanda penduduk (KTP) untuk masuk ke Peru. Meskipun otoritas Peru dilaporkan “fleksibel” terhadap anak-anak, lansia dan wanita hamil.
Dalam beberapa pekan terakhir, setiap hari sekitar 4.000 warga Venezuela tiba di Ekuador, Peru, Kolombia dan Brasil. Mereka mengungsi dari negerinya untuk menghindari gejolak politik Venezuela dan krisis yang membuat Venezuela kekurangan makanan dan obat-obatan.
Peru, salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di kawasan dengan pertumbuhan 4,7 persen, menjadi negara tujuan yang sangat populer. Saat ini diperkirakan 400.000 orang Venezuela sudah tinggal di sana.
Namun arus deras migran Venezuela mendorong Peru memberlakukan aturan ketat bagi mereka yang ingin memasuki negeri itu. Mereka harus punya paspor.
Saat tenggat waktu Sabtu semakin dekat, ribuan warga Venezuela –beberapa di antaranya membawa anak-anak kecil — mengalir ke perbatasan Peru dan Ekuador dengan sarana transportasi seadanya. Bahkan banyak yang bepergian dengan berjalan kaki.
“Ini sangat menyedihkan,” papar Joander Perez (15), warga Venezuela yang melakukan perjalanan lebih dari 4.000 km dengan anggota keluarganya.
“Kami harus pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik,” tambahnya seperti dikutip Aljazeera.
“Di Venezuela kami lapar.”
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menggambarkan eksodus orang-orang Venezuela ke negara-negara tetangganya sebagai “momen krisis” yang sebanding dengan eksodus pengungsi di Mediterania.
Dan meskipun angkanya mengkhawatirkan, namun kata para ahli, ini bukan fenomena baru.
“Ini dimulai pada 2002, ketika hanya orang-orang kaya yang bermigrasi dari Venezuela,” kata Ronal Rodriguez, profesor dan peneliti di Observatorium Venezuela, sebuah lembaga pemikir di University of Rosario di Kolombia, kepada Aljazeera.
“Pada tahun 2007, kami melihat migrasi kelas menengah. Tapi mulai tahun 2015 dan seterusnya, kami telah melihat migrasi dari sektor-sektor populer,” tambahnya. “Yang mengambil jalan, bahkan mempertaruhkan hidup mereka sendiri.” [Rusdiono Mukri]






















