Banjul, Gontornews — Presiden Gambia, Adama Barrow kembali dilantik untuk masa jabatan periode kedua. Dalam pidatonya, Barrow berjanji akan memajukan perekonomian Gambia setelah krisis yang terjadi akibat Pandemi Covid 19.
Adama Barrow kembali terpilih menjadi Presiden Gambia untuk kedua kalinya setelah pemilihan yabg berlangsung bulan lalu dengan memanangkan 53 persen suara di putaran pertama. Dalam pelantikannya yang berlangsung di Ibu Kota Banjul, dirinya berjanji akan memajukan perekonomian negaranya itu.
“Hari ini kita dapat dengan nyaman menyimpulkan bahwa pemilihan saya untuk lima tahun lagi adalah mosi percaya pada pemerintah saya, suara pengakuan atas pencapaian saya,” kata Barrow dengan mengenakan topi dan jubah putih, setelah dilantik pada hari Rabu (19/1) kemarin di hadapan kepala negara Afrika Barat lainnya, Aljazeera.
Menurutnya, lima tahun kedepan dalam masa jabatannya adalah waktu yang tepat untuk memajukan perekonomian negara terkecil di dataran Benua Afrika itu. Dirinya yakin, krisis akibat pandemi Covid 19 yang membuat para turis enggan berwisata ke pantai Gambia, akan kembali dan kondisi akan segera normal.
“2022 hingga 2027 adalah periode untuk mendorong percepatan pertumbuhan, ekspansi, dan kemajuan. Fokusnya sekarang berpusat pada pembangunan ekonomi,” katanya.
Sejak berkuasa tahun 2017 lalu, laki-laki 56 tahun itu berhasil mengalahkan pendahulunya, Yahya Jammeh dengan memenangkan 53 suara pada putaran pertama dalam pemilihan ulang bulan lalu.
Partai Demokrat Bersatu dari kandidat oposisi terkemuka Ousinou Darboe mengajukan banding atas hasil pemilu ke Mahkamah Agung, dengan tuduhan penyimpangan dan korupsi dalam kampanye Barrow. Namun permohonan itu ditolak.
Pada masa jabatan pertamanya, ia berhasil meningkatkan hubungan dengan banyak negara asing yang telah mendingin di bawah pemerintahan pendahulunya, Jammeh yang berlangsung 22 tahun. Selain itu, ia juga bekerja untuk memulihkan kebebasan sipil yang ditindas selama periode itu.
Jammeh dituduh oleh kelompok hak asasi manusia telah memimpin pemerintahan dengan melakukan serangkaian pelanggaran, termasuk regu kematian dan penyiksaan.
Nicolas Haque dari Al Jazeera, melaporkan dari Dakar, Senegal, mengatakan upacara pelantikan tersebut tidak hanya momen bersejarah bagi Adama Barrow sendiri, tetapi juga untuk semua warga Gambia dan itu dilihat sebagai langkah maju untuk demokrasi.
“Delapan kepala negara kawasan, hampir semuanya dari Afrika Barat menghadiri upacara pelantikan ini, di wilayah di mana ada langkah mundur dari demokrasi, terutama di Mali atau Guinea,” tambahnya.
Selama upacara pengambilan sumpah, Barrow mengulangi komitmen sebelumnya untuk memperkenalkan konstitusi baru. Dia sebelumnya mengatakan akan memperkenalkan batasan masa jabatan presiden tetapi belum mengatakan apakah itu akan mencegahnya mencari masa jabatan tambahan.
Perdebatan tentang batas masa jabatan presiden telah berkobar di beberapa negara tetangga Gambia, termasuk Pantai Gading dan Guinea, di mana presidennya pada tahun 2020 menggunakan perubahan konstitusi sebagai tombol reset pada masa jabatan mereka untuk tetap melampaui batas dua masa jabatan.
Barrow telah berjanji sebagai kandidat pada tahun 2016 untuk menjabat hanya tiga tahun jika dia terpilih tetapi kemudian kembali pada komitmen itu.[Devi]





















