pesanan-majalah-edisi-khusus
30 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 11 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Inpirasi Ihwal

Dilema Memilih Kampus

Ratna Komalasari, Peneliti Sakinah Finance

M Khaerul Muttaqien by M Khaerul Muttaqien
6 August 2019
in Ihwal
0
Dilema Memilih Kampus

Pembaca pasti sudah mendengar dan mengetahui kalau beberapa minggu terakhir ‘Dilema Maudy Ayunda’ sedang sangat populer diberbagai kalangan. Tweet dari Maudy Ayunda tentang dilemanya memilih kampus sudah mendapat lebih dari 12.000 Retweet dari netizen seluruh Indonesia dan berbagai usia. Mulai dari yang menceritakan kontrasnya dilema yang dialami Maudy Ayunda yang harus memilih antara dua kampus terbaik di dunia dengan dilema yang dialami para netizen.

‘Dilema’ yang dirasakan oleh netizen cenderung pada topik-topik unik seperti memilih menu makan, memilih pakaian untuk keluar. Dan, dilema-dilema lainnya ala netizen yang unik dan menghibur tentunya. Penulis sendiri ikut merasa senang, bangga, iri (dalam konteks positif tentunya) dengan prestasi yang diraih oleh Kak Maudy Ayunda. Tentu hal tersebut menjadi motivasi untuk generasi milenial lainnya bukan?

Kali ini penulis menerima cuhatan lagi dari salah seorang milenial yang juga kawan lama. Kami pernah satu kampus selama empat semester. Tapi kemudian ia harus pindah ke kampus lain. Rupanya selama perjalanan akademiknya banyak hal yang bisa ia ceritakan. Tentang berbedanya budaya belajar, cita-cita yang dibangun oleh lingkungan sekolah juga diskusi lainnya. Tentu sembari ngopi-ngopi cantik ala milenial.

Ada kegelisahan yang disarakan oleh sahabat penulis ini. Ketika di kampus barunya ia merasakan semangat belajar dan cita-cita yang berbeda. Ia menceritakan betapa kagumnya pada kawan-kawan sekelas kami dahulu ketika masih satu kampus. Sekarang ada yang saat ini sedang melanjutkan studi S2 di berbagai kampus baik di dalam maupun luar negeri.

BACA JUGA

Alumnus Gontor Ini Siap Pimpin KOSGORO 1957

Irwan Budi Dididik Keras Ayah Ngontel di Jalanan Kini Jadi Pengusaha dan Rintis Pesantren Tahfidz Preneur Sragen

In Memoriam Ustadz Syarif Abadi: Berkhidmat dalam Sunyi

Dr Awaluddin Faj Praktisi Strategi Promosi Lembaga Pendidikan Islam

Dr Awaluddin Faj, MPd: Motivator Alumni UNIDA Gontor dengan Segudang Prestasi

Ada juga yang terlibat dalam dunia industri atau bekerja dibidang lainnya. Ia melihat budaya yang dibangun di kampus kami lebih luas dan berani juga tegas ketika berbicara tentang cita-cita. Ia mengambil contoh salah satu kawan kami yang sedang bekerja sebagai content reviewer di Malaysia. Kesempatan itu membuatnya takjub bagaimana dua kampus tempatnya sekolah mampu memberikan wawasan dan pemikiran yang begitu berbeda.

Sementara dikampus barunya ia melihat diskusi antara teman satu angkatan dengan jurusan yang sama seperti sebelumnya yaitu ekonomi Islam yang memiliki impian yang homogen yaitu bekerja di Bank. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Karena jalan dakwah ekonomi Islam bisa dari mana saja. Tapi ia menyayangkan dengan ilmu yang sudah diterima, waktu dan biaya yang sudah dihabiskan seharusnya ada cita-cita lebih, apalagi terkait tentang Islam.

Dari curhatannya tersebut penulis seolah-olah merenungkan kembali dengan blueprint dari ekonomi Islam yang tidak fokus hanya pada bank, atau keuangan syariah. Jika kita berbicara tentang ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf) itu artinya kita sedang berbicara tentang ekonomi Islam.

Berbicara tentang Pembagian Waris Islami juga bagian ekonomi Islam. Bahkan ketika membicarakan akad-akad yang dipakai sehari-hari dalam sebuah transaksi juga harus dikaitkan dengan ekonomi Islam, terutama bagi seorang Muslim. Industri halal yang sekarang sedang didorong pertumbuhannya juga termasuk ekonomi Islam.

Lalu dimana sebenarnya bank? Penulis tidak bermaksud mengecilkan industri perbankan syariah yang sudah sangat besar dan berjasa dalam memperkenalkan ekonomi Islam kepada dunia. Tapi mungkin ini saatnya untuk berkembang lagi maju lebih jauh dari hanya sekedar memenuhi kebutuhan industri.

Ekonomi Islam itu lebih besar dari sekedar perbankan. Di sana mencakup ekonomi mikro, makro, bahkan nano yang jarang orang ketahui dan ini berhubungan dengan serba serbi waris Islami. Jika seluas itu cakupan ekonomi Islam, akan sangat disayangkan jika mengasumsikan ekonomi Islam sama dengan perbankan Islam.

Tidak lama ini, Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) sudah meluncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) yang berisikan perencanaan strategis dari 2019 hingga 2024 untuk meningkatkan pertumbungan sektor – sektor terkait dengan ekonomi syariah (baca Islam) di tanah air dengan dibantu dengan ekosistem yang memadai.

Ekosistem tersebut meliputi beberapa sektor industri halal dan melibatkan semua stakeholders terkait. Sakinah Finance saat ini sedang bekerjasama dengan KNKS untuk meningkatkan literasi keuangan dari berbagai jenjang usia yang didalamnya terdapat pendidikan dan pendekatan apa saja untuk mempraktikan ekonomi Islam secara utuh (kaafah).

Buat Apa Sekolah?

Ini adalah hal yang menurut penulis cukup sensitif dan melibatkan banyak pihak. Selama ini yang penulis alami juga mungkin sebagian besar dialami oleh milenial lainnya tuntutan dari setelah mengenyam bangku pendidikan baik SMP, SMA dan sekolah tinggi adalah memenuhi kebutuhan industri. Karena mindset yang dibangun kalau sudah kelar kuliah ya kerja atau kuliah lagi atau nikah.

Angkatan 95 pasti tahu dengan pilihan-pilihan dilematis itu sekarang. Mungkin kita harus kembali membuka buku sejarah kita tentang revolusi pendidikan pasca era industri yang mulanya dimulai dari Britania raya dan menyebar ke seluruh dunia. Jika kita melihat sejarahnya orang dulu diberbagai belahan dunia akan menurunkan bakatnya kepada anak-anaknya.

Sehingga biasanya nama seseorang memiliki gelar sesuai dengan profesinya. Seperti taylor (penjahit), smith (tukang besi) juga farmer (petani). Tetapi pasca revolusi industri ada tuntutan kebutuhan industri yang tinggi sehingga dibuatlah sekolah-sekolah formal untuk memenuhi kebutuhan industri.

Dan berlanjut dengan dibuatnya institusi pendidikan sejak usia dini untuk meningkatkan tingkat literasi dari calon-calon tenaga kerja yang cerdas juga sesuai kebutuhan industri. Model pendidikan ini terlihat seperti shortcut untuk terlibat dalam industri sebagai karyawan atau menjadi pegawai pemerintahan yang berpenghasilan tetap dan terjamin. Tapi mengesampingkan urgensi dari ilmu itu sendiri.

Ilmu Itu Versus atau Featuring Industri?

Pada forum, kelas dan berbagai diskusi sering dilontarkan pernyataan kesuksesan seseorang itu tidak dipengaruhi oleh pendidikan. Bahkan ada yang mengatakan saya yang tidak lulus SD saja bisa memiliki perusahaan dengan belasan ribu karyawan. Sementara kawan yang juara umum dikelas hanya menjadi tenaga pendidik.

Pernyataan-pernyataan seperti itu sangat penulis sesalkan karena ia adalah orang yang berpengaruh dan mampu membangun statement dimasyarakat. Bahkan ada beberapa dosen dan guru penulis yang pernah menyepakati statement tersebut hingga disampaikan di kelas. Setiap orang bebas beropini tetapi perlu diperhatikan dampak dari opini yang dilontarkannya tersebut apalagi jika termasuk orang yang berpengaruh. Dari statement itu seolah-olah terlihat ada pihak yang lebih unggul dari yang lain.

Penulis ingin mengambil contoh dari penemuan bola lampu. Kalian masih ingat kan siapa penemu dari bola lampu? Thomas Alva Edison, adalah orang yang memiliki klaim dan hak paten atas penemuannya tersebut. Penemuannya juga digunakan sampai sekarang bukan?.

Walaupun penemuan penting tersebut memiliki berbagai kontroversi tetapi kita dapat mengambil pelajaran bagaimana kolaborasi antara industri dan ilmu bersatu. Tanpa ilmu untuk membuat bola lampu tentu tidak akan pernah kita merasakan manfaat bola lampu. Tapi jika tidak ada industri, mungkin bola lampu itu hanya akan menjadi sebuah rancangan di atas kertas. Tidak terealisasi dan penemunya hanya akan disebut pemimpi.

Jika orang yang memiliki ilmu identik dengan mereka yang menerima pendidikan tinggi. Maka pernyataan tadi seharusnya tidak relevan. Karena antara ilmu dan industri yang ada bukanlah persaingan tetapi kolaborasi. So, milenial hapuskan statement atau pola pikir dari otak antara praktisi dan akademisi itu tidak akan pernah bersatu. Atau antara industri dan ilmu itu seperti minyak dan air. Semuanya harus sejalan karena ada hal lebih besar dari sekedar sibuk mempolarisasi antara praktisi dan akademisi.

Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Tags: EkonomiPerbankanSyariah
Share42Tweet27Send
Previous Post

PLN Akan Berikan Kompensasi Bagi Pelanggan Yang Terkena Pemadaman

Next Post

5500 Tenda di Arafah dan Mina Mulai Diberi Nomor

M Khaerul Muttaqien

M Khaerul Muttaqien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

6 September 2026
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Haflah Tilawatil Qur’an SIT Insantama Leuwiliang, Orang Tua: Jadikan Al-Qur’an Lentera Kehidupan

Haflah Tilawatil Qur’an SIT Insantama Leuwiliang, Orang Tua: Jadikan Al-Qur’an Lentera Kehidupan

5 September 2026
Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

0
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

0
Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

0
Kunci Sukses dalam Hidup

Kunci Sukses dalam Hidup

0
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

0
Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

11 September 2026
Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

9 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

9 September 2026
Kunci Sukses dalam Hidup

Kunci Sukses dalam Hidup

9 September 2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

6 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result