Jember, Gontornews — Alun-Alun Kabupaten Jember hujan deras dari pagi hingga sore hari pada Ahad (22/12/2024). Kondisi cuaca ini membuat Panitia Milad ke-112 Muhammadiyah Kabupaten Jember, Jawa Timur, merasa cemas. Setelah melaksanakan shalat Asar, mereka mengungkapkan rasa syukur ketika hujan akhirnya reda.
Ahad malam menjadi momen yang sangat berharga bagi komunitas Muhammadiyah di Jember. Bupati Jember, Ir. H. Hendy Siswanto, ST., IPU., ASEAN Eng., memberikan kesempatan untuk memanfaatkan Alun-Alun Jember yang baru saja direnovasi sebagai lokasi Resepsi Milad dan Tabligh Akbar ke-112 Muhammadiyah.
Pada kesempatan ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jember yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., menghadirkan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, sebagai pembicara utama.
Ketika giliran Din Syamsuddin menyampaikan tausiyah, hujan kembali turun di kawasan Alun-Alun Jember. Salah satu anggota Kokam dengan sigap segera menghadirkan payung untuk melindungi Din Syamsuddin saat ia menyampaikan pesannya.
Namun Din Syamsuddin memilih untuk tidak dipayungi kokam, dan ia ingin bersama para jamaah di bawah rintikan hujan di malam yang penuh kekompakan itu.
Din Syamsuddin memberikan instruksi kepada anggota Kokam yang memayunginya. “Saya kira saya gak usah dipayungi. Biar bersama dengan jamaah,” ucap Din, dan sang Kokam mundur sambil membawa payungnya. Tepuk tangan jamaah pun bergema di Alun-alun Jember.
“In syaa Allah hujan rintik-rintik merupakan rahmat dan berkah dari Allah SWT. Saya tidak mau dipayungi karena hujan seperti ini mengingatkan saya waktu kecil suka berhujan-hujan,” ujar Din sambil tertawa dan disambut tepuk tangan jamaah.
Menurut Din, sebenarnya dirinya tidak perlu menyampaikan ceramah ataupun tausiyah. Karena apa yang dialami malam ini, adanya kebersamaan antara umaroh, ulama, dan rakyat adalah maksud dari tema Milad Ke-112 Muhammadiyah.
“Maka oleh karena itu, saya menyimpulkan, kita semua sudah mengamalkan pesan dari tema itu, Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua. Maka yang paling penting adalah bagaimana kita merawat kebersamaan ini, antara semua tanpa memandang agama, suku, organisasi, dan apapun yang melekat pada diri kita,” ungkapnya.
Din menambahkan, bahwa Allah SWT menganjurkan kepada kita untuk lita’arafu. Tidak sekadar saling kenal mengenal, tapi bagaimana kita saling memahami, saling menghormati, dan atas dasar itulah kita membangun kerjasama.
“Salah satu kata kunci pada tema itu adalah untuk semua. Seorang ulama Indonesia besar yang berasal dari daerah ini, KH Ahmad Shiddiq, yang pernah menjadi Rais Aam Syuriah NU, pernah mengajukan tiga persaudaraan. Al-ukhuwah al-Islamiah atau persaudaraan keislaman. al-ukhuwah al-wathaniah atau persaudaraan kebangsaan. Dan al-ukhuwah al insaniah, atau waktu itu disebut basariah, persaudaraan kemanusiaan,” papar Din.
Dia menjelaskan, sekarang ini tengah dikembangkan. Paus Fransiskus, tokoh puncak dari Gereja Katolik, bersama Syekh Al Azhar, Ustaz Dr. Ahmad Ath-Thayyeb, menandatangani pada 4 Pebruari 2019 di Abu Dhabi, sebuah piagam persaudaraan kemanusiaan. Dan PBB menetapkan 4 Februari adalah Hari Persaudaraan Kemanusiaan Internasional.
“Saya berpesan, warga Jember, warga Muhammadiyah, umat Islam, dan umat-umat agama lain, marilah kita kembangkan persaudaraan kemanusiaan untuk memakmurkan negeri yang tercinta ini. Dan inilah pesan dari tema Milad Ke-112 Muhammadiyah, Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua,” pesannya. [Fathur]




















