New York, Gontornews — Ketua tim Penyilidik PBB berencana untuk memberikan penjelasan tentang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap etnis minoritas Rohingya kepada sidang Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Selasa (23/10) mendatang. Para diplomat yang berasal dari Inggris, Prancis, Amerika Serikat dan enam anggota lain mengajukan sidang DK PBB yang membahas tentang kasus kekerasan di Myanmar.
Langkah ini muncul setelah tekanan dunia internasional terhadap Myanmar menguat menyusul terdapatnya laporan tim penyelidiikan PBB yang dirilis Agustus lalu. Dalam laporan tersebut, Militer Myanmar diduga berniat untuk melakukan Genosida terhadap etnis minoritas Rohingya. Akibat kekerasa tersebut, sektiar 700.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh dan sejumlah negara tetangga Myanmar lainnya.
Meski demikian, militer Myanmar menolak untuk mengakui fakta tersebut sembari beralasan bahwa tindakan itu dilakukan atas dasar pemberantasan ekstrimisme atas militan Rohingya di Rakhine.
Melalui laporan itu, tim penyelidikan PBB berniat untuk mengajukan embargo senjata kepada Myanmar, menjatuhkan sanksi kepada para pelaku kejahatan kemanusiaan serta menyerukan pembentukan pengadilan ad hoc bagi tersangka atau menyeret mereka ke meja hijau Pengadilan Pidana Internasional (International Crimilan Court/ICC).
Para diplomat, sambung Reuters, memprediksi bahwa sekutu Myanmar di DK PBB seperti Cina dan Rusia akan melindungi Myanmar dari tuduhan tersebut. Meski mereka tidak mampu untuk memblokir pertemuan DK PBB yang membahas sekutunya tersebut karena 9 dari 15 anggota DK PBB menyetujui laporan tersebut.
Sementara itu, Duta besar Myanmar untuk PBB, Hau Do Suan mengatakan bahwa kedatangan tim penyelidikan ke Myanmar hanya akan memperburuk situasi dan stabilitas keamanan di Rakhine.
“Mereka hanya akan memperburuk rasa ketidakpercayaan dan polarisasi yang terjadi antara komunitas yang berbeda di Rakhine,” kata Hau Do Suan sebagaimana dilansir Reuters.
“Menempatkan akuntabilitas di atas segala-galanya tanpa memperhatikan perkembangan positif lainnya adalah upaya berbahaya yang akan gagal total,” tambahnya. [Mohamad Deny Irawan]





















