Jakarta, Gontornews –- Kesedihan yang mendera keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor semakin terasa. Salah seorang guru PMDG, Dr Dihyatun Masqon, menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada hari Rabu (28/2) Pukul 09.45 WIB.
Ungkapan duka, suka para santri dan alumni Gontor tersebar di sejumlah situs jejaring sosial. Gontornews berupaya untuk merangkum beberapa tanggapan mereka tentang Pakar Bahasa Arab Pesantren Gontor tersebut.
“Murah senyum, perhatian, enerjik dan motivator ulung. Dari beliau saya belajar kitab Al-‘Arabiyah Bayna Yadayka,” kata guru di Al-Irsyad Al-Islamiyah Purwokerto, Alex Nanang Agus Sifa dalam akun jejaring sosialnya.
“If you give someone a fish, he will have a single meal. But if you teach someone how to fish, he will eat all time (Jika kamu memberi ikan kepada seseorang, orang itu hanya akan memakan satu daging ikan saja. Tapi jika kamu mengajarkan dia bagaimana untuk memancing, ia akan memakan semuanya sepanjang waktu,” kenang guru Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi Utara, Khoirul Bariyah Rusydi.
“Pakar bahasa. Desember lalu ternyata perjumpaan terakhir beliau. Salah satu guru kami yang kalimat-kalimatnya bertenaga penuh motivasi. Semoga amal sholihnya diteria di sisi-Nya. Amin,” kata peneliti INPAS, Kholili Hasib yang juga sempat menyelesaikan studi pascasarjana di Unida Gontor.
Tidak ketinggalan cendekiawan muslim, Habib Chirzin yang menjelaskan bahwa Dr Dihyatun Masqon merupakan putra dari Kiai Masqon asal Mangkang, Kendal, Jawa Tengah. Melalui perantara ayahnya, Habib Chirzin mendapatkan informasi tentang Kiai Sholeh Darat.
“Pada tahun 1979, saya bertem almarhum di atas kereta Api di Den Haag (Belanda). Ketika liburan musim panas, saat kembali dari konferensi di Paris. Dan saya kenal baik pamannya Mas Choeron, yang tinggal di van Byland Straat Den Haag, tempat berkumpulnya kawan-kawan dari Indonesia,” ungkap Habib Chirzin.
“Almarhum Ustadz Dihyah adalah putra soerang Kiai yang alim, Kiai Masqon dari Mangkang, Kendal yang sempat saya sowani sekitar tahun 1974. Dari beliau, saya tahu tentang Kiai Sholeh Ndarat, Semrang, guru dari Hadrotusyeikh KH Hasyim Asy’ari dan Kh Ahmad Dahlan dan guru dari RA Kartini.”
“Ustadz Dihyah dipanggil Allah swt yang Maha Pengasih di usia produktif dan cemerlangnya. (padahal) masih banyak yang ingin kami lakukan bersama. Semoga amal kebajikan dan ilmunya diterima sebagai amal jariyah dan lahir generasi pencerah ilmu dan peradaban,” pungkas Habib Chirzin. [Mohamad Deny Irawan]






















