Moskow, Gontornews — Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan keadaan darurat militer di Pulau Mindanao, Filipina selatan, setelah sekitar 100 pejuang Muslim mengepung kota Marawi setelah pertempuran mematikan dengan pasukan pemerintah.
Deklarasi darurat segera diberlakukan dan akan berlangsung selama 60 hari.
Jurubicara kepresidenan Ernesto Abella mengumumkan hal itu pada hari Selasa dari Rusia, di mana Duterte dijadwalkan mengadakan kunjungan resmi empat hari di negeri itu.
“Presiden telah mengumumkan darurat militer untuk seluruh Pulau Mindanao,” kata Abella seperti dikutip Aljazeera.
“Hal ini dimungkinkan atas dasar adanya pemberontakan,” tambahnya.
Duterte mempersingkat kunjungannya ke Rusia, kata Menteri Luar Negeri Alan Peter Cayetano. “Presiden merasa bahwa dia dibutuhkan di Manila sesegera mungkin.”
Duterte bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (23/5) malam, tidak pada hari Kamis seperti yang direncanakan.
Dia mengatakan pada hari Rabu (24/5), darurat militer bisa diperpanjang setahun sebagaimana pernah dilakukan oleh penguasa diktator, Ferdinand Marcos.
“Jika butuh waktu setahun untuk melakukannya, jika selesai dalam waktu satu bulan, maka saya akan bahagia,” kata Duterte dalam sebuah video yang diposkan oleh pemerintah secara online.
Dua tentara dan satu petugas polisi tewas dalam baku tembak di kota Marawi, 816 km selatan Manila, sementara 12 tentara pemerintah terluka, kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana. [Rusdiono Mukri]





















