Gorontalo, Gontornews – Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) Asia Tenggara Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi mengatakan, Dzikir Tauhid Tasawuf bisa membersihkan batin dari hudud (mencari keuntungan diri). Dzikir ini juga untuk membersihkan hati dari perasaan bangga dengan yang telah Allah titipkan pada kita seperti ilmu pengetahuan, harta, jabatan, dan kedudukan.
Abuya menyebutkan, salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa ini adalah penyalahgunaan amanah dan kekuasaan. Kekuasaan digunakan semena-mena untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kroni.
“Kita lupa, semua yang kita miliki saat ini, baik jabatan, kekuasaan, kedudukan, maupun harta, semuanya hanya titipan Allah SWT, yang harus digunakan untuk kemaslahan umat,” paparnya.
“Semua itu milik Allah SWT semata yang dilimpahkan kepada kita untuk digunakan sesuai dengan ridha-Nya dengan jalan mensyukuri dan menggunakan untuk memberikan manfaat bagi saudara-saudara kita sebagai hamba Allah di muka bumi ini,” ujar Abuya di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri acara “Kota Serambi Madinah Berdzikir” di Masjid Al-Huda, Kota Gorontalo, Senin (13/11).
Kota Serambi Madinah Berdzikir merupakan rangkaian acara Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ke-1 yang diselenggarakan di Kota Gorontalo. Acara dzikir ini dihadiri para ulama tasawuf dari berbagai negara di Asia Tenggara antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Brunei Darussalam. Muzakarah berlangsung tiga hari, 14 November hingga 16 November 2017.
Lebih lanjut Abuya mengatakan, sebelum berdzikir kita harus meyakini bahwa diri kita adalah budak yang hina, banyak dosa dan kesalahan, mengharap ampunan Allah dan menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan, dan tidak berkemauan untuk melakukannya lagi.
Menurut Abuya, dzikir merupakan kendaraan atau ibarat pesawat yang membawa kita terbang meninggalkan alam fana (khalqiyah) dunia ini menuju kepada alam uluhiyah.
Abuya menegaskan, jika kita sudah bisa berdzikir seperti di atas, maka kita akan menjunjung tinggi perintah dan larangan Allah SWT dengan mudah, tidak ada rasa berat melakukannya. Kita juga akan memiliki akhlak mulia, karena percaya penuh dengan ketentuan (qadar) Allah SWT, sebab segala sesuatu tidak lepas dari qadar Allah SWT. Kita akan terbebas dari berpikir melakukan sesuatu yang bertentangan dengan qadar ketentuan Allah SWT, sehingga kita dapat bermakrifat, bertauhid yang benar, karena telah mendapat cahaya hakikat dan berhakikat untuk melepaskan syirik khafi dan batin kita.
Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Hikam, Cibinong, Bogor Syekh KH Zein Djarnuzi yang memimpin dzikir dalam tausiyahnya mengatakan, barangsiapa yang berdzikir dengan mengucap la illaha illallah maka tujuh pintu langit akan terbuka, dan keberkahan akan turun dari langit.
Syaratnya, kita melakukannya dengan khusyu’ dan ikhlas. “Agar kita bisa berdzikir dengan ikhlas, semata-mata hanya karena Allah, maka harus melatih dzikir sebanyak-sebanyaknya. Kalaupun dzikir kita belum bisa khusyu’ dan ikhlas, maka teruslah berdzikir sampai suatu saat bisa berdzikir dengan ikhlas. Jangan tinggalan dzikir, hanya karena belum bisa ikhlas,” ujarnya.
Lebih lanjut Syekh Zein menyatakan, kita sebagai manusia derajatnya lebih mulia daripada dunia beserta isinya, karena dunia tidak dituntut makrifat, sementara manusia bisa bermakrifat kepada Allah SWT. Karena itulah, dalam berdzikir hendaknya lepaskan semua urusan dunia, lupakan pangkat, jabatan, kedudukan harta dan apapun agar kita bisa ‘berangkat’ menuju Allah SWT. [Rusdiono Mukri]




















