Addis Ababa, Gontornews — Sejumlah pria bersenjata menewaskan lebih dari 100 orang dalam serangan pada 23 Desember di Ethiopia barat, kata Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia (EHRC). Ini merupakan serangkaian serangan mematikan yang terbaru di daerah itu.
EHRC, sebuah badan yang berafiliasi kepada pemerintah tetapi independen, mengatakan dalam sebuah pernyataan Rabu (22/12) malam bahwa lebih dari 100 orang telah tewas dalam kebakaran dan penembakan yang dilakukan oleh orang-orang bersenjata di wilayah Benishangul-Gumuz.
Komisi itu mengatakan, para korban selamat memiliki βbukti fotoβ dari serangan terhadap warga yang sedang tidur di zona Metekel, yang dimulai pada Rabu dini hari dan berlanjut hingga sore hari.
Kekerasan etnis atas tanah dan sumberdaya telah menjadi masalah yang berkepanjangan di Ethiopia di bawah pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed.
Lima pejabat ditangkap karena dicurigai terlibat dalam masalah tersebut, kata pemerintah daerah dalam sebuah pernyataan tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang kemungkinan dakwaan.
Setidaknya 36 orang yang selamat dirawat karena luka tembak dan panah di rumah sakit, sekitar 90 kilometer (56 mil) dari tempat serangan itu terjadi, kata komisi itu dikutip Hurriyetdailynews.com.
“Selain korban jiwa dan korban terluka, tanaman telah dibakar. Seorang korban mengatakan kepada kami bahwa dia melihat 18 kebakaran seperti itu,” kata pernyataan itu.
Pada saat kejadian, tidak ada pasukan keamanan di daerah itu, kata komisi itu.
Beberapa korban mengatakan mereka mengetahui penyerangnya, kata komisi itu, seraya menambahkan bahwa bantuan kemanusiaan harus dikirim untuk membantu para pengungsi dan yang terluka.
Wilayah itu merupakan rumah bagi etnis Shinasha, Oromo dan Amhara, dua etnis minoritas terbesar dan kedua terbesar di Ethiopia.
Sejumlah pemimpin Amhara telah menegaskan kepemilikan atas zona Metekel, klaim yang telah mengobarkan ketegangan dengan etnis Gumuz di daerah tersebut.
Abiy mengunjungi zona Metekel pada 22 Desember dan bertemu dengan penduduk setempat. Dia memposting di Twitter: “Keinginan musuh untuk memecah belah Ethiopia menurut garis etnis & agama masih ada.”
Ethiopia Barat telah mengalami serentetan serangan mengerikan dalam beberapa bulan terakhir.
Sedikitnya 34 orang dibantai dalam serangan terhadap bus di zona Metekel pada November.
Dua belas orang lainnya tewas dalam serangan terpisah di zona itu pada Oktober, dan 15 tewas dalam serangan serupa pada akhir September.
Pada bulan Oktober, Abiy mengatakan kepada anggota parlemen bahwa para pejuang yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut menerima pelatihan dan perlindungan di negara tetangga, Sudan, dan bantuan Khartoum diperlukan untuk menstabilkan daerah tersebut.
Politisi oposisi – terutama dari kelompok etnis Amhara – telah menyuarakan kekhawatiran tentang apa yang mereka katakan sebagai kampanye yang ditargetkan oleh milisi etnis Gumuz melawan etnis Amhara dan Agew yang tinggal di Metekel.
Mereka mengklaim, pada saat itu lebih dari 150 warga sipil tewas dalam serangan itu.
Belum diketahui apakah kekerasan di Benishangul-Gumuz ada kaitannya dengan operasi militer di wilayah Tigray utara, yang telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan 50.000 orang melarikan diri ke perbatasan Sudan. []




















