Akibat pandemi COVID-19 dunia menghadapi banyak tantangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak terkecuali Indonesia, sejak kasus pertama COVID-19 diumumkan pada Maret 2020, COVID-19 telah menjangkiti lebih dari 1,3 juta orang dan sekitar 35.000 orang yang meninggal dunia. Berbagai kebijakan mulai dari PSBB, PSBB Transisi, PPKM Darurat, hingga PPKM empat level pun diterapkan pemerintah guna menekan penyebaran COVID-19.
Meski demikian, tantangan sulit akibat pandemi COVID-19 masih tetap dihadapi. Tantangannya yaitu menjaga kesehatan masyarakat dengan risiko perekonomian terpuruk atau membiarkan jumlah kematian terus bertambah. Bak buah simalakama menyelamatkan kesehatan masyarakat tanpa perekonomian terguncang menjadi sesuatu yang sulit diraih saat ini.
Buktinya, semua indikator yang mencerminkan kondisi ekonomi makro, mulai dari pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga, inflasi, pengangguran, tingkat kemiskinan, hingga Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur anjlok.
Pada edisi Desember 2021 redaksi Majalah Gontor mengulas kembali kondisi ekonomi makro selama pandemi dari beberapa indikator. Dimulai dari pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang dilaporkan BPS belum lama ini, perekonomian Indonesia pada periode Juli-September 2021 tumbuh 3,51% secara tahunan (yoy). Meski berada dalam zona positif, sayangnya pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 itu lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 yang mencapai 7,07% yoy. Pencapaian itu juga tidak sesuai ekspektasi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang memperkirakan ekonomi kuartal III akan tumbuh sebesar 4,5%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono membenarkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 ini memang belum seperti tahun-tahun sebelumnya yang berada di angka 5%. “Pertumbuhan ekonomi ini terhambat, karena PPKM menghambat mobilitas dan mengganggu aktivitas ekonomi secara keseluruhan,” papar Margo Yuwono dalam konferensi pers daring, Jumat (5/11/2021).
Terkait kemiskinan, BPS menunjukkan, pada Maret 2021 lalu tercatat ada 27,54 juta penduduk miskin di Indonesia. Jumlah ini naik 1,12 juta orang dibandingkan Maret 2021 tetapi turun 0,01 juta orang dibandingkan September 2020. Jika dilihat dari sisi disparitas kemiskinan, persentase penduduk miskin lebih banyak di desa daripada di kota.
Populasi penduduk miskin di kota sebesar 7,89 persen sedangkan populasi penduduk miskin di pedesaan sebesar 13,10 persen. Meski begitu jika dilihat dari grafik persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2021 turun 0,10 persen dibanding September 2020 sebesar 13,20 persen menjadi 13,10 persen pada Maret 2021.
BPS juga mencatat jumlah pengangguran Indonesia pada Agustus 2021 sebesar 9,1 juta orang. Jumlah ini naik dari 8,7 juta orang pada Februari 2021, tetapi menurun jika dibandingkan 9,8 juta orang pada periode yang sama tahun lalu. Namun jika dilihat dari tingkat pengangguran terbuka (TPT), jumlah pengangguran di Indonesia menurun. Tercatat TPT Indonesia pada Agustus 2021 sebesar 6,49%. TPT ini menurun dari 9,72% pada Februari 2021 dan 7,07% pada Agustus 2020.
Dilaporkan BPS, ada delapan provinsi yang memiliki TPT di atas rata-rata nasional. TPT tertinggi berasal dari Kepulauan Riau sebesar 9,91%. Kemudian disusul Jawa Barat sebesar 9,82%, Banten 8,98%, dan Jakarta 8,5%. Lalu, Sulawesi Utara sebesar 7,06%, Maluku 6,93%, Kalimantan Timur 6,83%, dan Sumatera Barat 6,52%.
Pandemi COVID-19 juga masih memberikan dampak negatif terhadap kondisi ketenagakerjaan Indonesia, tetapi dampaknya tidak sebesar tahun sebelumnya saat pertama kali Indonesia menghadapi ancaman virus. Sebanyak 21,32 juta orang penduduk usia kerja terdampak COVID-19, turun 7,8 juta orang dari Agustus 2020 yang sebesar 29,12 juta. Adapun pengangguran akibat COVID-19 menurun 740 orang dari 2,56 juta pada Agustus 2020 menjadi 1,82 juta.
Sebelumnya hasil sigi yang dirilis lembaga survei Charta Politika Indonesia juga melaporkan, persoalan ekonomi menjadi efek pandemi COVID-19 yang paling berdampak bagi masyarakat. Sebanyak 60,3 persen responden menjawab penurunan pendapatan menjadi dampak pandemi yang paling dirasakan mereka. Dampak ekonomi lain yang juga dialami oleh responden yaitu kehilangan pekerjaan. Sebanyak 16,1 persen responden mengaku kehilangan pekerjaan sebagai akibat pandemi COVID-19, dan menjadi dampak terbesar kedua yang dirasakan oleh responden survei ini.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap pertumbuhan ekonomi kuartal IV bisa melonjak. Terutama karena kasus pandemi COVID-19 telah mereda dan aktivitas perekonomian kembali berjalan. Aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha mulai bangkit yang tercermin dari data IHS Markit, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencetak rekor di posisi tertinggi 57,2 pada Oktober 2021, atau naik dari posisi 52,2 pada September 2021. “Kegiatan ekonomi mulai terlihat normal, PMI melonjak lagi. Kami harap akan pulih dan terakselerasi di kegiatan ekonomi kuartal IV,” ujarnya dalam webinar virtual, Rabu (10/11/2021).
Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal III-2021 melesat jauh dari yang diproyeksikan sebelumnya, perekonomian kuartal III sebelumnya diramal bisa tumbuh 4,5% tapi ternyata yang terealisasi 3,51%. Oleh karenanya penanganan pandemi COVID-19 ditekankan harus menjadi fokus utama. Sebab, jika kasus COVID-19 kembali naik, perekonomian akan kembali tertekan. “Begitu dahsyatnya setiap kasus COVID-19 naik, mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat dan ini tantangan yang tidak hanya di bidang kesehatan, karena konsekuensi dari sisi kesejahteraan rakyat menjadi tantangan di bidang ekonomi dan keuangan,” tegasnya.[]





















