Wanita yang meraih gelar sarjana (S1) di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini, pada tahun 2007 resmi bertugas sebagai Pejabat Dinas Luar Negeri di Kementerian Luar Negeri RI.
Mau bekerja menurutnya adalah wujud rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-Nya. Prinsip inilah yang kemudian dijadikan Elizabeth Diana Dewi sebagai pijakan untuk mengawali setiap kebaikan.
Karena potensi yang dititipkan Allah SWT perlu penyaluran. Terlebih jika menyangkut pada maslahat orang banyak. “Termasuk ketika saya memilih untuk menjadi seorang birokrat dan diplomat,” tutur magister lulusan Monash University, Melbourne, Australia, kepada Gontornews.com.
Ibeth, demikian sapaannya, menambahkan bahwa pelajaran paling berharga yang ditanamkan Gontor adalah bekerja secara mutqin (meyakinkan). “Allah is watching adalah motivasi di saat lelah dan jenuh, bukan CCTV,” gumam alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 1999 itu.
Jadi, tambahnya, bukan sebatas standar profesionalisme yang sekular dengan memisahkan dan mempertentangkan nilai-nilai spirit Islam. “Oleh karena itu, ‘membawa-bawa’ agama ke tempat kerja adalah mutlak dibutuhkan untuk menjaga amanah dan istiqamah,”ucap wanita 36 tahun itu.
Saat ini, meski hari-harinya telah dipadati dengan serangkaian pekerjaan, Elizabeth tetap bisa berkarya lewat tulisan. Artikel-artikel yang pernah ditulis antara lain Creation of the State of Israel, Wanita dan Keluarga, Profil Keluarga di Barat, serta Islam in South Asia.
Ibu dua anak ini menuturkan, untuk menjadi birokrat yang bisa menjalankan dan mendakwahkan ajaran-Nya di zaman seperti ini tidaklah mudah. “Kiatnya, tetap istiqamah, sirami rohani dengan berdzikir, serta mau berkumpul dengan majelis orang-orang shalih yang selalu siap mengingatkan,” pungkas wanita kelahiran Jakarta, 12 Oktober 1980, itu. [Edithya Miranti/Rus]





















