Mekkah, Gontornews –Sebagian besar jamaah haji Indonesia masuk dalam kategori lansia dan memiliki risiko kesehatan yang tinggi (risti). Salah satu tantangan yang harus diperhatikan adalah reaksi penyesuaian lingkungan (adaptasi) ketika mereka tiba di Arab Saudi.
Perjalanan yang sangat jauh, cuaca panas, dan budaya yang berbeda berpotensi memberikan tekanan yang kuat sehingga berakibat stres dan berujung pada disorientasi. Terkait hal ini, dokter spesialis kejiwaan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Mekkah Ika Nurfarida menegaskan pentingnya peran petugas, terutama petugas kloter dalam melakukan pendampingan.
Menurutnya, jamaah haji bisa mengalami kebingungan karena bertemu dengan sekian ribu jamaah lainnya yang datang dari berbagai negara di tempat yang sama sekali berbeda dengan lingkungan asalnya. Jamaah yang seperti ini, lanjut Ika, tidak boleh terlepas rombongan. Sebab, kejadian disorientasi banyak ditemukan karena berawal dari terpisah rombongan lalu tersesat jalan.
Jamaah tidak tahu arah jalan pulang, tidak memakai sandal sehingga kakinya lecet dan mengalami masalah kesehatan, terang Ika di Kantor KKHI, Khalidiyah, Mekkah, seperti dikutip kemenag.go.id. Kamis (18/8).
Jika ada orang bingung dan mengalami disorientasi, Ika menambahkan, maka langkah pertama adalah memberi minum yang banyak, mengonsumsi kurma, lalu dekati secara personal untuk bisa menenangkan. Jika tidak dapat diatasi, hubungi dokter terdekat.
Ika memandang pentingnya edukasi kepada jamaah haji Indonesia terkait hal ini sehingga bisa terhindar dari disorientasi. Untuk itu, KKHI juga membentuk tim promosi – preventif (TPP) untuk menekan kejadian seperti itu. Salah satu tugasnya adalah mengedukasi jamaah haji agar dapat mengukur kemampuan fisiknya. Jika melakukan ibadah, harus selalu mengukur kemampuannya. “Jangan sampai aktivitas yang dilakukan melampaui kapasitas jamaah itu sendiri,” tandasnya. [Fathurroji/Rus]



















