Ankara, Gontornews — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 17 Mei mengusulkan sebuah komisi perwakilan Yahudi, Muslim, dan Kristen untuk memerintah Yerusalem menyusul serangan mematikan Israel terhadap Palestina.
“Pada titik ini, kami yakin ada kebutuhan untuk pengaturan terpisah di Yerusalem. Untuk mencapai kedamaian dan ketenangan abadi di Yerusalem, yang berisi simbol-simbol agama yang sangat diperlukan oleh Muslim, Yahudi, dan Kristen, setiap orang harus berkorban,” katanya usai rapat kabinet, dilansir Hurriyetdailynews.com.
Turki akan memberikan dukungan politik dan militernya untuk upaya internasional membebaskan Yerusalem dan melindungi rakyat Palestina, katanya.
Erdogan menuduh Israel sebagai “negara teroris” dan merugikan Yerusalem, yang dipandang suci oleh tiga agama ini. Dia juga mengatakan, Israel telah melakukan pengeboman brutal warga sipil di Gaza.
“Negara teror ini telah melanggar privasi Yerusalem di satu sisi, sementara secara kejam membombardir warga sipil di Gaza dan meratakan bangunan yang menampung kelompok media di sisi lain. Itulah Israel,” paparnya.
“Tapi Anda [Israel] menggunakan kekuatan yang tidak proporsional. Anda menjatuhkan bom di Gaza dengan pesawat tempur. Apakah Gaza punya pesawat tempur? Tidak. Milikmu, yang kamu gunakan untuk menyerang, tak terhitung jumlahnya.”
Presiden Erdogan juga mengkritik mitranya dari AS, Joe Biden, karena menandatangani kesepakatan senjata dengan Israel dan mengatakan dia “menulis sejarah dengan darah di tangannya.”
“Hari ini, kami melihat tanda tangan Biden untuk [penjualan] senjata ke Israel. Dan, kami menemukan bahwa ini adalah persetujuan untuk menjual 850.000 senjata yang sangat penting. Padahal ketika berbicara, mereka berbicara tentang perlucutan senjata,” katanya dikutip Hurriyetdailynews.com.
“Tuan Biden, Anda memihak orang-orang Armenia dalam apa yang disebut genosida Armenia. Sekarang, sayangnya, Anda menulis sejarah dengan tangan berdarah dalam peristiwa serangan yang sangat tidak proporsional di Gaza yang telah menyebabkan ratusan ribu orang mati syahid,” tambah Erdogan.
Pernyataan Erdogan ini merupakan salah satu serangan terkuatnya terhadap Biden sejak dia menjabat di Gedung Putih pada Januari.
“Anda memaksa kami untuk mengatakan ini. Karena kami tidak bisa tinggal diam tentang ini lagi,” tandas Erdogan.
Wilayah Palestina “dibanjiri dengan penganiayaan, penderitaan dan darah, seperti banyak wilayah lain yang kehilangan kedamaian dengan berakhirnya Ottoman. Dan Anda mendukung itu,” lanjutnya.
Erdogan juga mengutuk Austria karena mengibarkan bendera Israel dari gedung Kanselirnya. “Mengibarkan bendera negara teroris dari gedung resmi sama dengan hidup di bawah proyeksi terorisme. Negara Austria tampaknya berusaha untuk membuat Muslim membayar untuk genosida, yang menundukkan orang-orang Yahudi,” katanya. []





















