Roma, Gontornews — Organisasi pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO), Jumat (5/8/2022), mengatakan harga pangan global menurun secara signifikan ketimbang bulan lalu. Meski demikian, FAO tetap memperingatkan bahwa masih ada ketidakpastian global atas produksi di masa depan.
Indeks Harga Pangan FAO bulan Juli tercatat berada di angka rata-rata 140,9 poin atau turun 8,6 persen pada bulan Juni. Ini adalah penurunan bulanan tertajam dalam nilai indeks sejak Oktober 2008 serta penurunan keempat secara berurutan.
“Penurunan harga komoditas pangan dari level yang sangat tinggi mendapatkan sambutan baik. Terutama, jika dilihat dari sudut pandang akses pangan,” kata Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, dalam sebuah pernyataan.
“Namun, masih banyak ketidakpastian, termasuk tingginya pupuk yang mempengaruhi prospek produksi dan mata pencaharian petani di masa depan. Prospek ekonomi global yang suram dan pergerakan mata uang dapat menimbulkan tekanan serius bagi ketahanan pangan global,” tambahnya sebagaimana dilansir Euro News.
Indeks Harga Minyak Nabati FAO mencatat penurunan terbesar yaitu 19,2 persen pada Juli. Penurunan ini menjadi yang paling rendah ketimbang bulan Juni serta mencatatkan rekor level terendah dalam 10 bulan. Sementara untuk indeks sereal, sementara ini, turun 11,5 persen dari Juni tetapi tetap 16,6 persen di atas level Juli 2021.
FAO memprediksi bahwa penurunan indeks harga pangan global akan terjadi pada gandum. Lembaga pangan dunia tersebut menjelaskan bahwa kesepakatan Rusia dan Ukraina dalam mengekspor jutaan gandum secara aman jadi pemicunya. Selain itu, indeks gula, susu dan daging juga turun tetapi pada tingkat yang lebih rendah.
Indeks harga pangan FAO mencapai rekor tertinggi yakni 159,7 poin pada Maret 202, naik 12,6 persen dari Februari. Pencapaian mengerikan ini menjadi rekor tersendiri karena situasi serupa pernah terjadi saat FAO berdiri pada tahun 1990.
Terakhir, FAO menambahkan bahwa Rusia dan Ukraina menyumbang sekitar 30 persen dan 20 persen ekspor gandum dan jagung global dalam tiga tahun terakhir. [Mohamad Deny Irawan]


















