Perkembangan zaman dan teknologi telah memunculkan banyak hal baru dalam kehidupan manusia saat ini. Kini beragam gaya hidup baru telah merambah masyarakat luas akibat teknologi digital. Dengan bermodal gadget dan internet, siapa pun, kapan pun dan apa pun bisa dilakukan.
Faktanya banyak masyarakat saat ini mengandalkan digital untuk memudahkan segala aspek kehidupan. Mulai dari urusan belanja hingga berbagi lewat digital.
The Asian Parent membuktikan, tren perilaku online lebih dari seribu ibu digital masa kini. Ibu-ibu di Indonesia 99 persen menjadi penentu belanja rumah tangga. Data itu juga dikuatkan dengan peningkatan jumlah pengguna internet sebanyak 48,7 persen. Demikian Survei Indonesian Digital Mums (IDM) 2018 seperti dikutip bisnis.com.
Laporan itu menjelaskan, sebagaimana ibu-ibu di negara Asia Tenggara lainnya, ibu-ibu di Tanah Air juga semakin aktif di internet dan cerdas secara digital. Buktinya ibu-ibu yang mengaku sering mengunjungi situs parenting jumlahnya mencapai 24 persen, lebih banyak daripada ibu-ibu yang bermain media sosial sebanyak 20 persen, dan berbelanja online sebanyak 19 persen.
Sementara data yang dihimpun Global Web Index dan dirangkum We Are Social dan Hootsuite seperti dikutip cnnindonesia.com mencatat, warganet Indonesia paling banyak belanja secara online pada Desember 2018. Dalam hal ini ada 86 persen warganet Indonesia yang berbelanja online melalui perangkat apa pun.
Untuk urusan konsumtif ini baik pria maupun wanita sudah banyak yang beralih ke toko online daripada offline. Dikutip Tempo (18/01/2020), Head of Brands Management Shopee, Daniel Minardi, menjelaskan wanita dan pria sama-sama gemar berbelanja online. “Dulu mungkin persentasenya yang jauh di atas itu wanita. Sekarang benar-benar hampir sama,” katanya.
Demikian dengan urusan berbagi. Belakangan ini banyak orang mulai membayarkan zakatnya lewat online. Deputi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Arifin Purwakananta mengatakan animo masyarakat untuk berzakat dan bersedekah melalui digital terus meningkat.
“Kami melihat ada tren positif penggunaan sedekah digital oleh masyarakat. Pada tahun 2018 pengumpulan zakat dari jalur digital mengalami kenaikan dari dua persen menjadi enam persen, dan BAZNAS memprediksi kontribusi saluran digital dapat mencapai 30 persen pada tahun 2020,” papar Arifin dalam rilis Humas BAZNAS, Selasa (5/11/2019).
Kemajuan teknologi itu juga turut mengubah cara generasi muda mengakses sumber rujukan untuk belajar agama. Hasil penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) bertajuk ‘Memperkuat Ketahanan Kampus Sebagai Ujung Tombak Nilai-nilai Kebangsaan’ menyebutkan, responden yang mengakses youtube sebanyak 31,94 persen, mengakses laman Muslim sebanyak 17,02 persen, mengakses eramuslim 10,21 persen, mengakses laman NU sebanyak 6,81 persen dan sisanya beragam.
Tim Peneliti FISIP UMJ ini melaksanakan penelitiannya di delapan kampus yang meliputi tiga Perguruan Tinggi Negeri yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua Perguruan Tinggi Kedinasan yaitu Politeknik Keuangan Negara (STAN) dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta tiga Perguruan Tinggi Muhammadiyah yaitu Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS), dan Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).
Ketua Tim Peneliti, Debbie Affianty MSi, memaparkan mayoritas mereka mengakses melalui internet ceramah Ustadz Abdul Somad (53,14 persen), Hanan Attaki (6,28 persen), Adi Hidayat (4,97 persen), M. Ainun Najib (4,45 persen), Aa Gym (3,93 persen) dan sisanya beragam (27,23 persen). “Kajian melalui internet seringkali menyebabkan pengetahuan agama yang didapat menjadi tidak utuh,” katanya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Penelitian Tim Peneliti FISIP UMJ yang dilaksanakan sejak Desember 2018-Maret 2019 ini juga menyebutkan, sebagian besar responden masih mengandalkan ustadz dalam pencarian pengetahuan agama. “Sebanyak 90,58 persen mengikuti pengajian dengan berbagai bentuk dan sebanyak 58,12 persen responden belajar agama melalui ustadz di masjid,” ungkap Debbie seperti dikutip Republika.
Ibarat gado-gado
Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Dai Indonesia (IKADI) DKI Jakarta, Dr KH Attabik Luthfi menyampaikan, dakwah digital yang sedang fenomenal saat ini merupakan kenyataan yang tidak mungkin dihindari. Dai tidak bisa serta merta menolaknya melainkan dituntut untuk lebih banyak hadir agar media digital itu lebih banyak diwarnai kebaikan.
Namun demikian teknologi digital dan sejenisnya hanya alat dan bukan prinsip. Layaknya alat, digital hadir bukan dengan nilai dakwah, sehingga ada potensi medium digital digunakan untuk menyebarkan keburukan. Apalagi digital tidak mengenal batas usia dan segmentasi masyarakat.
“Ibarat ‘gado-gado’ atau ‘super market’ masyarakat dituntut lebih cerdas dalam memilah, karena digital ini menawarkan hal-hal yang tidak bisa dibatasi. Melalui digital ini pula, kesakralan dakwah bisa berkurang, karena siapa pun bisa dengan mudah berkontribusi meskipun secara kapasitas keilmuan belum mumpuni,” ujarnya.
Justru inilah tantangannya agar para dai memaksimalkan teknologi digital sebagai media untuk menyebarluaskan nilai-nilai kebaikan kepada kalangan milenial yang serba digital. “Namun, apapun alatnya, dakwah harus tetap mengacu pada prinsip dakwah, yaitu ‘Ajaklah manusia kepada jalan Tuhanmu’ (An-Nahl: 125),” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Attabik meminta supaya masyarakat tidak melihat dai dari segi penampilan. Pasalnya, yang terjadi saat ini banyak dari masyarakat ikut-ikutan, karena kagum, terhibur, tanpa mengenal siapa dai yang layak digugu dan ditiru karena ilmu dan keshalihannya. Dikatakannya, dakwah lewat digital sulit dalam hal memberikan contoh ‘bil hal’ sebagai teladan bagi masyarakat.
Perilaku dai di media digital terkadang berbeda dengan kenyataan atau praktik sehari-hari dalam kehidupan nyata. “Itulah mengapa mengkaji ilmu kepada yang ahlinya secara langsung, berinteraksi dan mengenal perilaku gurunya sehari-hari sebagai contoh nyata dalam kehidupan, harus tetap ada,” tegasnya.
Hal senada juga diungkapkan Sekjen Forum Pesantren Alumni Gontor, KH Anang Rikza Masyhadi. Menurutnya, era digital merupakan produk zaman sehingga dakwah di era digital ini sudah semestinya dilakukan meskipun bukan satu-satunya sarana dakwah.
“Digital itu hanya sarana, tujuan utamanya tetaplah dakwah dan dakwah itu perlu hikmah melalui kedalaman ilmu dan juga contoh atau keteladanan. Bukan hanya sekedar ceramah atau menyampaikan naskah,” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Bahkan sebagai penyampai kebaikan dan kebenaran, dai harus memiliki ilmu yang mumpuni dan keteladanan. Karena fondasi utama dakwah adalah ilmu dan keteladanan. “Ini yang harus dipahami semuanya. Apalagi sekarang masyarakat susah membedakan antara ulama yang dai dengan penceramah,” jelasnya.
Oleh karena itu media digital harus dipenuhi dengan ulama-ulama yang dai, yang memiliki basis ilmu yang mumpuni dan yang kehidupannya bisa dijadikan teladan. “Jangan sampai media digital disesaki oleh penceramah-penceramah yang hanya sekedar tahu sedikit agama. Ini berbahaya karena yang terjadi adalah distorsi dan pendangkalan,” ungkapnya. []





















