Pontianak, Gontornews — Media sosial bisa menjadi pedang bermata dua, menyebabkan kecanduan dan menimbulkan gangguan mental akibat tidak digunakan sebagaimana mestinya. Sebab itu, agar media sosial sejalan dengan fitrah penciptaan manusia, hendaknya diisi dan digunakan sebagai sarana dakwah Islam.
Buat kaum hawa, ada baiknya memerhatikan seperangkat syariat yang mengatur pergaulan sosial. Belakangan ini fenomena swafoto kerap berujung pada gangguan narsisme (Narcissistic Personality Disorder/NPD) yang kadang muncul salah satunya karena kebablasan dan tidak paham batasan syariat.
“Ditengah glamournya kehidupan manusia di dunia maya, tidak sedikit yang merasa insecure,” jelas narasumber seminar online komunitas One Day One Juz, Sri Wahyuni Indawati SPd MPd. Dampaknya, tambah Kepala Sekolah Dasar Islam Terpadu Insantama, Pontianak, tahun 2018 itu, editing adalah jalan keluarnya. “Padahal, tetap saja itu palsu, tidak mengubah apa yang sudah Allah takdirkan untuk kita,” tekan sang narasumber.
Dunia maya amat rentan dengan tipuan, tidak semua yang manusia lihat adalah sesuatu yang benar, terlebih dunia maya menawarkan viralitas yang rawan manipulasi.
Maka, sebelum kebablasan kecanduan swafoto hingga berujung mengalami gangguan mental, syukurilah apa yang telah Allah anugerahkan. Allah masih memberi kita sebaik-baik bentuk dan membekali kita organ tubuh yang berfungsi normal.
Lagian, Allah tidak melihat manusia dari tampilan fisik sebagaimana manusia-manusia zaman now pahami dan lakukan. Allah hanya melihat manusia dari amal ibadahnya dan yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah takwanya. Jadi, ingat tentang peringatan Allah bahwa manusia yang lebih mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Daripada sibuk memoles citra diri yang ternyata palsu, mending berbenah diri untuk kehidupan akhirat. Ingat, kecantikan dan ketampanan bisa luntur dimakan usia. Kulit yang dulunya kencang, glowing, dan memukau, suatu saat bakal keriput. Standar duniawi seluruhnya akan luntur seiring berjalannya waktu. “Mumpung Allah masih beri waktu, yuk manfaatkan sisa usia untuk beribadah kepada Allah,” ulas ibu tiga anak tersebut.
Ia lantas menambahkan bahwa masyarakat kita memang sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, itu akibat pemikiran, kebudayaan, dan penerapan aturan Barat, bukan karena banyaknya konten religi di medsos.
Karenanya, sangat urgen bagi para Muslimah untuk terus berdakwah melalui medsos (dakwah Islam kafah) agar masyarakat teredukasi dan memahami ajaran Islam yang sesungguhnya. Selain itu juga untuk melawan pemikiran asing atau kebiasaan perilaku yang menyimpang.
Jika niat selfie dan upload foto utk mendapatkan atau menarik lawan jenis, pujian, like, dan sejenisnya, maka ini tidak dibenarkan oleh syara’ bahkan bisa tergolong tabarruj‘. “Namun jika niatnya untuk aktivitas pendidikan seperti e-flyer kajian/training/seminar atau hal-hal yang sejenisnya, maka ini dibolehkan,” tekan pengusaha dan Founder Smart Islamic Parenting Indonesia itu.
Hal yang terpenting, sikap kita adalah terus melakukan amar ma’ruf nahyi munkar. Sebagaimana dalam al-Qur’an Surat al-‘Asr kita diperintahkan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. “Berilah nasihat yang ahsan (terbaik) kepada sesama muslim.” tutup Sri kepada Gontornews.com. <Edithya Miranti>





















